Menceritakan Kehidupan Pribadi Secara Terselubung :)



Hehehe.

Saya tertawa membaca judul postingan kali ini. Sebuah kalimat yang saya temukan di www.kampungfiksi.com (masbro dan mbaksis pengelola kampungfiksi, mohon izin ya penggalan kalimatnya saya copas... hehe).

Sebelum menjelaskan panjang lebar, kita maknai dahulu judul ini.
"MENCERITAKAN KEHIDUPAN PRIBADI SECARA TERSELUBUNG"
Artinya, seorang penulis, secara diam-diam menyertakan penggalan cerita, perasaan, kejadian dalam hidupnya ke dalam cerita fiksi yang ia tulis. Ada yang secara rapi menyelipkan, ada juga yang secara gamblang menggambarkan, ada juga yang berniat menyembunyikan tapi akhirnya ketahuan deh sama pembaca.. hehehe.

Nah, coba kita buat riset kecil-kecilan...
Punya facebook, kan? #inimahjanganditanya -_-
Nah, coba perhatikan teman-teman terdekatmu.
Belakangan dia sedang gencar ngupdate status apa? Nah, kira-kira dia sedang curhat gak tuh? Ketahuan deh. hehehe.
Tapi, tidak semua bisa terbaca secara nyata. Karena ada beberapa penulis yang pandai menyembunyikan kisah hidupnya di balik cerita yang ia tulis seolah itu cuma kisah fiksi yang ia munculkan sendiri. Yah.. tidak ada yang tahu kecuali dia dan Tuhan. Tapi, tetap saja berhati-hati karena bisa jadi yang ia tuliskan itu memang benar-benar kisah fiksi... #jadijanagnge'erduluan. Ok?

Baiklah, menanggapi hal ini, menurut saya itu sah-sah saja. Terkadang keping-keping kisah hidup yang kita alami memberi inspirasi dalam berkarya terutama bagi para penulis. Everything inspiring :)
Jadi, buat penulis selamat berkarya, terutama saya yang masih malu-malu keong (#ngutip kata-kata mbak Rincan) untuk menulis di blog ini. Hmmm, saya masih mencoba untuk belajar menulis untuk berbagi kisah yang barangkali bisa menginspirasi saya dan pembaca. Semoga bermanfaat.

NB : Setelah membaca tulisan ini, jangan coba-coba menerka-nerka bagian mana dari postingan saya yang saya selipkan kisah hidup saya secara terselubung ya!!

Hehehe.

Salam ukhuwah.


Read More

Selalu ada Alasan Untuk Tersenyum :)




Senyumlah 

bahwa sepelik apapun
akan selalu ada alasan untuk tersenyum
untuk mentari pagi yang memeluk hangat hati

bahwa serumit apapun
akan selalu ada alasan untuk tersenyum
untuk semilir angin yang mampu susupi helaian rambut

bahwa semarah apapun 
akan selalu ada alasan untuk tersenyum
untuk gemirik air yang senantiasa bisa membasuh tubuh

bahwa semendebarkan apapun
akan selalu ada alasan untuk tersenyum
untuk setiap masa yang memberikan banyak asa

bahwa segelap apapun
akan selalu ada alasan untuk tersenyum
untuk setiap malam yang membantu meleraikan lelahnya jiwa

bahwa seperti apapun akhirnya
akan selalu ada alasan untuk tersenyumuntuk hati yang siap menerima janji
untuk diri yang tak boleh merugi
untuk jiwa yang tak boleh jumawa
dan untuk cinta yang selalu terpatri di ingatan
karena janjiNya bukan janji manusia

oleh itu, senyumlah :)

_Sri Lestari, 6 Januari 2014, Kampar_

Sebuah puisi persembahan dari Sri Lestari, sahabat tercinta.
Walaupun awalnya puisi ini dipersembahkan untuk adindanya, namun karena dia juga mengirimkannya untuk saya, maka pusi ini pun menjadi alasan bagi saya untuk tersenyum :)
Jazakillah, Srican :*

Dan, sungguh karena saya tidak punya adik kandung (sedih yaa) :)

maka perkenankan saya mempersembahkan puisi ini untuk adinda-adindaku yang sedang menunaikan ibadah skripsi.

Teruntuk adindaku Siti Khodijah Parinduri, Imaniar Hasibuan, Sri Rezeki Hasanah, Entiwe Habeahan, Desi Ratna Sari, Fitri Hanifa, Agustia Niranda, Anggi Mutiah Syakdiah, Sri Novianti, Ashela Risa, Hamidah Fadhilah, Febria Octasari, (yang belum disebut jangan marah. hehehe)

dan anak-anak Komdaers 2010 : Yusri Khoirunnisa, Bayu Syahputra, Rahmat Faizal, Sigit Putra Kurniawan. Oh, terselip satu Abi Awwabin. :)


"Selamat Menunaikan Ibadah Skripsi, Tersenyumlah, karena selalu ada alasan untuk tersenyum :)"


Nias, Jum'at barokah di penghujung Mei 2014.


Read More

Setumpuk harap





Bismillah
Assalamu'alaykum...

Apa kabar, dunia?
Saya yakin pasti sedang sibuk. Sibuk dengan rutinitas masing-masing. 
Apalagi dengan kesibukan kampanye (?). Oh ya, ngomong-ngomong soal kampanye. Beberapa hari yang lalu, saya mencoba berkeliaran di dunia Fb. Ternyata di dunia maya banyak juga orang-orang yang berseliweran. Sangat sibuk dengan hot news terbaru. Setelah saya selidiki, ternyata para facebooker sedang sibuk kampanye Capres-cawapres. Berbagai foto, video, artikel memenuhi dinding jejaring sosial ini. Tak masalah sih bagi saya. Itu hal yang sah-sah saja. Saya dulu (sampai sekarang) juga sering menggunakan jejaring sosial untuk berbagai keperluan promosi, mulai dari promosi kegiatan dakwah, bisnis sampai promosi blog ini. (hehe) dan efeknya lumayan bagus, karena zaman sekarang ini orang lebih banyak ditemui di dunia maya daripada dunia nyata. Buktinya, ketika orang-orang sedang tertidur lelap, masih ada  yang bergentayangan di dunia maya. Kalau gak percaya coba buktikan sendiri (OL jam 2 pagi :P). Ehh, sudah sampai di mana ini? -_-

Oh ya tentang kampanye tadi. Menurut saya, sah-sah saja orang-orang kampanye lewat dunia maya, selain lebih hemat biaya, kampanye lewat dunia maya itu salah satu solusi mengurangi jumlah sampah di muka bumi ini. (Maklum anak kesehatan lingkungan). Saya hanya berharap segala aktivitas yang kita lakukan di atas bumi ini, tidak menjadikan kita semena-mena pada bumi. Karena kalau bumi ini sudah dipenuhi oleh sampah, maka kita mau tinggal di mana?? (pikirsendiri).
Apakah anda sadar kalau saya sedang kampanye tentang sampah? (hayoo,, kena kamu :P)

Sebenarnya, hari ini saya mau bercerita tentang kegundahan hati saya. (Bukan curcol tapi KEGUNDAHAN HATI). Saya yakin, setelah membaca tulisan ini, anda akan mengalami kegundahan seperti saya (tulisan apa ini??? teruslah membaca maka anda akan tahu jawabannya ^_^)

Konon kabarnya, ada 2 pasang makhluk Tuhan yang berniat memimpin negeri ini. Anda pasti sudah tahu siapa yang saya maksud. Belum tahu juga??? Duh, dipertanyakan kecintaannya pada bangsa ini -_-

Lantas, mengapa saya menjadi gundah akan hal ini?
Karena saya adalah masyarakat Indonesia yang menginginkan kebaikan untuk negeri ini.
Saya yakin di luar sana banyak masayarakat yang merindukan pemimpin yang baik untuk membawa negeri ini ke arah yang lebih baik (ingat LEBIH BAIK).

Seperti anda, saya merindukan sosok pemimpin yang mencintai negeri ini dengan hatinya. Pemimpin yang mencintai rakyatnya. Dia tidak akan bisa tertidur pulas ketika mengingat masih ada rakyatnya yang tidur dengan perut kosong. Dia tidak akan memperkaya dirinya sendiri sementara masih ada rakyatnya yang sengsara. Saya jadi rindu Rasulullah :'(

Suatu ketika, seusai sholat Umar datang menghampiri Rasulullah. 

Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah engkau, ya, Rasul?”
Engkau tersenyum sembari menggeleng, “Tidak, wahai Umar. Alhamdulillah, aku sehat.”

“Mengapa setiap kali engkau menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi di tubuhmu bergesekan?” Ekspresi Umar memperlihatkan rasa prihatin, penuh kasih sayang, dan rasa khawatir. “Kami yakin engkau sedang sakit.”

Engkau tersenyum lagi. Tidakkah wajahmu memang terlihat sedikit pucat hari ini? Toh, senyummu seperti menjadi pelipur lara terbaik bagi sesuatu yang tidak engkau katakan, meski kepada Umar, sesuatu yang tidak engkau katakan tidak mampu membuatnya tidak kentara.

Karena merasa jawaban “tidak” atau “aku baik-baik saja” sudah tak mencukupi lagi, engkau lantas berdiri, mengangkat jubahmu, hingga bagian perutmu terlihat nyata. Seketika Umar dan setiap orang yang ada di mesjid itu terpana. Tampak begitu kempis perutmu. Perut itu dililit oleh kain yang membuntal, berisi kerikil-kerikil. Engkau mengganjal laparmu dengan kerikil-kerikil itu. Kerikil-kerikil yang menimbulkan suara berisik ketika engkau mengimami shalat. Kerikil-kerikil yang memancing keingintahuan Umar dan menyangka dirimu sedang dalam kondisi sakit yang serius.

“Ya, Rasul,” suara Umar bergetar oleh rasa iba dan penyesalan, “apakah jika engkau mengatakan sedang lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan menyediakannya untuk engkau?”
Engkau menutup lagi perutmu dengan helai jubahmu yang menjuntai. Engkau menatap Umar dengan pancaran cinta yang utuh, “Tidak, Umar. Aku tahu, apapun akan kalian korbankan demi aku. Akan tetapi, apa yang harus kukatakan di hadapan Allah nanti jika sebagai pemimpin aku menjadi beban bagi umatku?”

Engkau mengedarkan pandanganmu ke sahabat-sahabatmu yang lain, “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah dari Allah untukku agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia, terlebih di akhirat.”

Siapapun yang mendengar kalimatmu seketika terdiam. Ada yang berdenyar merambat ke bola mata mereka. Beberapa terisak oleh haru. Umar sadar bahwa dia tak kan sanggup melangkah lebih jauh, memaksa engkau untuk mengikuti kehendaknya. Dia pun hanya terdiam membiarkan detik-detik berjalan satu per satu. :(

Betapa sedih sepenggal kisah ini. Membuat hati ini berbisik "Ya Rasul kami rindu hadirmu" 
Tidakkah anda merindukan pemimpin seperti ini?? saya yakin "YA"

Izinkan hati terus merindu, terus berharap, terus berdoa...
untuk Indonesia Raya yang kita cintai ini :)

"Ya Rabb, berikan kami pemimpin yang mencintaiMu, mencintai rakyatnya dan Engkaupun cinta kepadanya"






Read More