Dipilih Menjadi No. 1 (Perlebahan); Trilogi 3 Lebah

Produk L'chocolate




Alhamdulillah trilogi 3 lebah akhirnya rampung sudah. Kali ini disempurnakan oleh lebah pertama mbak Winni Ramadhani Elistria Tumanggor, cMPH :D

Untuk mendapatkan manisnya cerita Trilogi 3 Lebah silahkan baca yang pertama : 3 Lebah oleh RaFiLa Lebah Kedua, dan Lebah Gelombang ke-3 oleh Sri Lestari Zhaw, si lebah ketiga.

Tulisan ini juga bisa dibaca di Blognya Lebah pertama
Selamat membaca, semoga bermanfaat dan menginspirasi
#CahayaSurga
***


Dipilih Menjadi No 1 (Perlebahan) ; Trilogi 3 Lebah

Trilogi kisah 3 lebah, akhirnya hadir juga untuk melengkapi... :D

Seperti yang diketahui sebelumnya, latar belakang (kayak skripsi aje kali :D) kenapa sih kita bertiga buat kisah ini, karena kak dina switi alias Ny. Zulqarnain itu loh yang penasaran kenapa persahabatan alias ukhuwah kita masih langgeng sampai sekarang (insyaAllah sampai ke Syurga), aamiin...

Eitss, tapi tunggu dulu masih ingetkan kita bertiga siapa aja. Ya benar, saya dipilih menjadi yang pertama dalam persaudaraan lebah ini. Terus lebah kedua si gadis ombo batu, Rahmi Fitri Laoli, dan lebah ketiga si gadis kelahiran Wonogiri, Sri Lestari Zhaw. Masih ingat jugakan kenapa saya menjadi lebah pertama, rahmi menjadi lebah kedua, dan si bungsu zhaw menjadi lebah ketiga? Siip deh kalau gitu :D.

Cerita ini dimulai dari lebah kedua, kemudian lebah ketiga. Dan selanjutnya saya. Baiklah saya akan menceritakan pertemuan pertama kami.

Pertama kali bertemu dengan lebah kedua..
Ingatan pertama kali bertemu dengan rahmi ketika semester pertama, saya melihatnya setelah selesai mata kuliah (apa gitu saya uda lupa). kala itu rahmi berteman dekat dengan sri erlina. Kesan pertama saya saat itu rahmi terlihat tidak banyak bicara. Saat saya ingin berbicara padanya dia hanya fokus dengan Sri Erlina. Jadinya saya urung untuk mengajaknya ngobrol. Masih inget gak mi’.. :D

Kemudian seperti yang rahmi ceritakan sebelumnya, kami satu kelompok tugas mata kuliah ke rumah sakit adam malik. Itu pertama kali interaksi kami yang dekat. Pada saat itu, saya masih merasa asing dengan Rahmi. mungkin, karena saya dan rahmi orangnya agak pendiam gitu sih.. :D
Itu sekilas pertemuan pertama saya dengan kedua lebah. Kami memutuskan untuk memilih minat yang sama, yaitu Kesehatan Lingkungan. Itu cikal bakal kenapa kami bisa menjadi dekat seperti ini. Dengan kekuatan cahaya iman, kami menggabungkannya menjadi penerang jalan-jalan kami.
***

Sepertinya, ingatan pertama saya dengan lebah ketiga berbeda dengan lebah ketiga sendiri :D. Saya tidak ingat sama sekali pertemuan yang diceritakan lebah ketiga, hehe :D ketika membaca kisahnya saya guling2 terbahak2 ditempat tidur.. Ups :D
Pertama sekali yang saya ingat pertemuan dengan lebah ketiga ketika...
Saat itu saya mencari tempat duduk untuk mengikuti satu mata kuliah masa-masa pertama kuliah. Lebah ketiga duduk bersama temen-temen yang dekat dengannya terlebih dahulu. Yang paling saya ingat dulu ada Meli dan Via. Sayapun meminta izin duduk di samping mereka. Saya berkenalan dengan mereka. Beberapa hari selanjutnya kami semua menjadi akrab. Seperti yang lebah kedua ceritakan, kami membuat geng Khadijah.


Oh iya sedikit cerita tentang geng khadijah. Geng ini terdiri dari delapan orang yaitu, saya, sri, meli, via, ulia, linda, nisa, dan dhani. Tujuan dibentuknya geng ini sebernarnya untuk mendirikan sebuah usaha, makanya kami beri nama khadijah. Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu’anha adalah Istri Rasulullah yang merupakan wanita terhormat sekaligus wanita pengusaha sukses pada zamannya. Tapi, geng ini belum sesukses ibunda Khadijah yang usahanya berkembang pesat. Usaha kami mandek ditengah jalan, mungkin karena kesibukan kuliah. Alhamdulillah, geng ini tetap eksis. Kami masih sering kumpul bareng, buka puasa bareng, mabit, dan yang paling seru, di akhir semester kami main bola kasti. Saya masih ingat, kami membeli pukulan bola kasti. Di pukulan itu tertulis “khadijah”. Tapi sayang, pukulan itu sekarang sudah tidak terlihat lagi jejaknya. :’(

Ditulisan rahmi sebelumnya tentang geng khadijah, saya selaku ketua geng (Ceilee) memohon maaf kalau perlakuan kami kelihatan gimana gitu ya, terutama saya.. maklum masih labil saat itu... :D

Baik kita lanjut tentang lebah ketiga..
Saya lebih dekat dengan lebih ketiga dari teman-teman di geng khadijah lainnya. Saya merasa lebah ketiga orangnya cerdas dan humoris dan ada keinginan menjadi lebih baik (jangan terlalu GR ya :D). Mungkin itu yang membuat ketertarikan saya untuk lebih dekat dengan lebah ketiga. Lebah ketiga juga banyak menemani saya kemana-mana. Hal itu sudah terlihat dari persahabatan kami di awal-awal. Saya masih ingat sekali lebah ketiga menemani saya mencari lembaga privat “Smart Club” (masih ingat tak? :D). Lembaga ini adalah lembaga less privat yang mencari guru-guru privat dari kalangan mahasiswa. Saya ingin mencari pengalaman dan berharap bisa mandiri sehingga ketika ada kesempatan ini saya langsung mengikutinya. Nah, lebah ketiga adalah orang yang pada saat itu mau menemani saya mencari kantor lembaga itu. Kami sebagai penghuni baru kota Medan sangat berani mencari alamat dengan modal alamat yang tertera di brosur. Akhirnya, setelah berjalan kesana kemari, kami menemukannya. Alhamdulillah :D.

Seperti yang lebah ketiga bilang, kami sudah sekufu sejak pertama. Satu kelompok lingkaran, satu kelas, satu peminatan, pake jilbab syar’i barengan, de el el. Kemudian, kami ikut lembaga dakwah fakultas dan kampus bareng, ikut kegiatan wirausaha kampus bareng. Sampai akhirnya saya merasa kalau bakalan di JOGJA bareng juga.
***

Berjalannya waktu, bergulir pula waktu kuliah kami. Semester demi semester telah berlalu. Cahaya-cahaya mushala FKMpun memancar ke hati-hati mahasiswa yang akan mendapat sibghatallah (celupan ilahi). Alhamdulillah saya dan dua lebah lain terkena pancaran itu. Tetapi rahmi terlebih dahulu yang berusaha memasuki islam secara keseluruhan. Pada saat tingkat II kuliah, ada penerimaan menjadi kakak mentoring, sementara saya belum merasa pantas untuk menjadi kakak mentoring. Namun, selanjutnya saya tahu bahwa berbagi tidak mesti mempunyai banyak ilmu, terpenting adalah sedikit ilmu yang bisa diberi dan terus menerus untuk mau berubah dalam kebaikan, karena dengan berbagi maka ilmu itu akan sendirinya bertambah untuk sipemberi.

Menjelang semester 6 kami bertiga berkunjung ke rumah saya di Batubara. Lebah ketiga ingin melihat pantai. Pastinya, jika dibandingkan dengan pantai kampung lebah kedua, pasti jauh banget, pantai di Nias jauh lebih indah. Tapi, terlalu jauh bagi kita untuk kesana. Akhirnya sebelum masuk kuliah semester 6 kita refreshing ke pantai dekat rumah saya, kemudian dilanjutkan ke kompleks perumahan Tanjung Gading (ada danau buatan yang bagus banget). Dua sepupu saya, bang arif sebagai supir dan kak yuni ikut menemani.

***

Masuk semester 6, kamipun memasuki masa-masa peminatan, kesehatan lingkungan. Saat ini kami semakin dekat. Dari geng khadijah lain yang masuk kesling hanya meli. Keakraban geng khadijah tidak seintens dulu. Saya dan lebah ketiga seakan-akan menjauh. Insyaallah tidak menjauh, mudah-mudahan itu hanya karena beda peminatan dan kegiatan lainnya yang kami berbeda dengan anak-anak geng khadijah. Tapi pada saat itu, meli tetap kompak banget dengan linda, meli, dan ulia. Sementara saya dan lebah ketiga semakin dekat dengan lebah kedua.

Peminatan yang sama mendekatkan kami bertiga. Disamping itu kami juga mengikuti LDF dan LDK bareng. Tapi, diantara kita bertiga, mereka berdua adalah seorang aktivis yang keren. Seperti yang sudah lebah ketiga kisahkan, Sejak 2011 mereka menjadi ketua dan sekretaris umum UKMI FKM USU. Pada awalnya saya diamanahi sebagai ketua bidang Humas. Tetapi, lagi-lagi, mereka sangat keren jauh dibandingkan dengan saya. Maaf, kala itu, jikalau saya kurang amanah ya ukhtifillah :(.

Memasuki semester 7, saat-saat dimana kami ke lapangan. Pertama Praktek Belajar Lapangan (PBL) dan kedua Latihan Kerja Praktek (LKP). Alhamdulillah, kami ditempatkan 1 kecamatan, kecamatan secanggang. Tetapi, saya dan kedua lebah lainnya ditempatkan di desa yang berbeda. Saya ditempatkan di Desa Kebun Kelapa sementara kedua lebah lain ditempatkan di desa lain yang sama. Semasa PBL, walau jarang bersama karena berada dimasing-masing pos, kami sesekali pulang dan pergi bareng secanggang-medan karena tiap sabtu minggu kami balik ke Medan.

Pada saat LKP, kami ditempatkan di tempat yang berbeda-beda. Saya di PDAM Tirtanadi, Rahmi di Pengolahann Limbah Cair Tirtanadi, dan Sri yang paling jauh di Kantor Kesehatan Pelabuhan Belawan. Saat-saat ini kami masih sering bareng karena tidak terlalu jauh dari kos-kosan dan walaupun sri harus sejam lebih di angkot perjalan ke Belawan, dia tetap pulang balik kos dalam satu hari. Hebat lebah ketiga :D

Memasuki semester delapan, saat dimana masa tersebut adalah masa-masa emas keskripsian kami bertiga. Galau judul. Galau teman-teman uda ada yang seminar proposal. Dan galau-galau yang lain mungkin menghinggapi kami bertiga. Berbarengan dengan berlalunya waktu, kepengurusan UKM FKM yang dipimpin oleh lebah kedua direshufle. Pada saat itu, dengan sekretaris tetap, saya diamanahi menjadi Bendahara Umum. Inilah yang menjadikan kami semakin terlihat menjadi 3 gadis manis yang kompak :D. Kami dijuluki dengan “TrioUm”. Kalau seingat saya, pertama sekali julukan ini diberi oleh Oos alias Sovia aja alias Sovia (iya, namanya hanya terdiri dari lima huruf yang membentuk satu kata yaitu Sovia :D).

Sekitar pertengahan tahun 2012, Kami memutuskan untuk mengontrak rumah bareng agar semangat bersama-sama untuk mengerjakan skripsi dan lainnya selalu ada. Awalnya yang yang menempati rumah kontrak saya dan lebah kedua beserta sepupunya teman yang sedang bimbingan belajar di Medan. Kemudian setelah kami semester 9 (duh malu ‘_’, tapi semoga masa-masa yang lebih tersebut di kampus, tidak sia-sia, melainkan menjadikan kami semakin matang,, aamiin :) ), lebah ketiga dan beberapa temen di geng khadijah (Meli, Linda, dan Ulia) menghuni kontrakan kami. Tidak lupa juga, Kak Gema dan kak Inun juga menjadi penghuni, serta Sovia yang sempat diceritakan di atas juga merupakan satu anggota rumah kontrakan kami. Wah rame banget ya.

Duh, rasanya sedih dan senang kalau mengenang kisah-kisah di rumah kontrakan kami. Lagi-lagi, mungkin karena saya salah satu penghuni pertama di Rumah Kontrakan, saya diangkat menjadi ketua. Di rumah tersebut kami membuat jadwal piket, piket masak, mencuci piring dan membersihkan rumah. Dan ada juga tausyiah minggu pagi yang beberapa kali kami laksanakan. Dan tak lupa pula, ada les bahasa Arab di rumah kontrakan kami :D. Ustadzah lulusan Mesir, Ustadzah fadhilah yang alhamdulillah baru-baru saja menikah, menjadi pengajar kami. Beliau sangat baik sekali datang ke rumah kontrakan kami untuk mengajarkan bahasa Arab, bahasa Quran :’). Saya sangat berterimakasih sudah berbaik hati tiap selasa dan jumat malam mengajarkan kami bahasa Arab. Dan juga, Ustadzah Fadhilah telah mengajarkan saya Tahsin Qur’an. Semoga Ilmu yang diberikan ustadzah tetap mengalir dan menjadi pahala yang tiada putusnya. Tak ketinggalan, Kak dina switi (masih ingatkan siapa J) juga ikut les bahasa Arab di Rumah kami.

Kalau teringat masak-memasak, kala itu kami makannya dijatah, terkadang orang yang makan terakhir hanya tersisa sedikit saja. Hiks.. tapi walaupun demikian, kita membuktikan bahwa kita bisa menikmati hidup dengan sederhana dan saling berbagi (walau.. seperti itu, terkadang yang terakhir hanya tersisa sedikit lauk dan kehabisan sayur :D).

Dan yang selalu diingat, kalau makanan sudah habis untuk sarapan, kita sering sekali membeli Mie balap. Baiklah saya akan memperkenalkan Mie Balap (Sarapan khas mahasiswa Medan, barangkali di luar Medan banyak yang tidak tahu :D). Mie balap itu adalah mie yang ditumis dan dimasak dengan dibolak-balik oleh sang koki secara cepat. Mie balap ada dua jenis yaitu mie balap dari bihun atau kwitiau. Jangan kira, makanan ini dijual di warung makan bahkan restoran, makanan ini di jual kaki lima pinggir jalan. Tapi rasanya itu enak banget, ngangeni. kalau ke Medan, Mie Balap insyaAllah saya beli :D.

Lanjut tentang rumah kontrakan kami, banyak kegiatan yang terjadi di dalamnya. Banyak usaha-usaha yang kita jalani. Seperti yang sudah lebah kedua ceritakan, rumah kontrakan kami diberi dengan nama AnNahl (lebah) karena kak Inun menjual Madu. Madu, seperti yang kita ketahui, dihasilkan oleh lebah. AnNahl juga memiliki makna yang bagus, oleh karena itu kami pilih AnNahl menjadi nama rumah kontrakan Kami :D.

Di Annahl, saya juga menjalani usaha, usaha coklat. Usaha coklat saya beri nama L’Chocolate. Fotografi dan toko onlinenya dipegang oleh lebah kedua dan tim kreatif ada lebah ketiga dan Oi. Sebenarnya, banyak yang bisa saya ceritakan tentang perjalanan usaha coklat ini. Semua penghuni rumah yang mempunyai waktu luang ikut terlibat membuat coklat. Waktu itu, Linda sangat telaten banget. Banyak coklat-coklat yang dihasilkannya setiap hari :D. Teman-teman yang mencetak coklat mendapatkan fee per kilogram coklat. Sampai-sampai, pada saat itu, Oos menyebut saya Nyonya. Kemudian teman-teman pada ikut-ikutan memanggil saya Nyonya. Hehe, ngerasa gimana gitu ya. Tapi, saat ini usaha coklat berhenti. Mudah-mudahan kedepannya bisa tetap lanjut. Aamiin.

AnNahl atau yang artinya lebah akan berhubungan dengan kenapa kami menjadi 3 lebah. Kami memang terlihat kompak, mulai dari menjadi Trio Um, tinggal di satu kontrakan yang sama, dan sampai-sampai bulan kelahiran kamipun sama yaitu bulan april. Bulan April tahun 2013pun tiba. Saat itu, ada dua kakak yang baik hati yang memberi kami dua kue ulang tahun. Kak Nina dan kak Dina memberi kami kue ulang tahun di hari yang berbeda. Benar, 1 kue ulang tahun untuk kami bertiga, merangkap gitu :D. Alhamdulillah, bagaimanapun kami sangat-sangat bersyukur mempunyai kakak yang sangat baik memberikan rasa sayang kepada kami di setiap saat dan juga saat kami ulang tahun.

Nah, di kue ulang tahun dari kak Dina, tertuliskan 3 Lebah, Winni, Rahmi, Sri. Inilah awalnya kenapa kami dipanggil 3 lebah. kalau urutannya, saya dipilih menjadi Lebah pertama, Rahmi Lebah kedua, dan Sri lebah ketiga karena, dari kami bertiga, saya lahir duluan diikuti Rahmi dan Sri. Kalau kata sri ada beberapa alasan lain. Masih ingatkan, mungkin bisa dibaca cerita lebah ketiga lagi ya :D.

Alhamdulillah, walau kami bertiga berada di tempat-tempat yang berbeda sejak bulan Juni 2013, sampai sekarang kami masih berkomunikasi dengan baik. Mungkin ini yang membuat kak dina kala itu bertanya kenapa kami masih kompak. Jawabannya dari winni adalah selain banyak kesamaan yang telah kami miliki, karena sejak awal kami sudah diberi pancaran iman yang memberikan kami cahaya. Walaupun iman itu turun naik, mudah-mudahn iya takkan akan redup. Walau kadang kala diantara kami ada yang memiliki iman yang turun, yang lain tetap memberikan cahayanya.

Harapan, terutama mengingatkan lebah pertama, kita harus tetap saling mendoakan. Walau diantara kita tidak ada yang tahu ada yang sedang berdoa untuk yang lain, tapi tetap lakukanlah. Karena itulah penghubung cahaya-cahaya kita.

Salam Rindu Ukhtifillah
1 Ramadhan 1435 H

By : Winni RE Tumanggor
Read More

Lebah Gelombang Ke-3 (Macam judul buku kan?); Trilogi 3 Lebah




Alhamdulillah, tulisan 3 LEBAH kembali hadir yang kali ini dirangkai dan dibingkai oleh lebah ke-3 di bumi Kampar, Riau, Rincan Zhaw :)

Baca  Trilogi 3 Lebah secara utuh biar dapet alur ceritanya.. Ok? :D




3 Lebah (versi lebah ke-3)

Dahulu kala, (hampir 6 tahun yang lalu tepatnya), ketika saya menginjakkan kaki untuk pertama kali di Fakultas Kesehatan Masyarakat itu, saya tak pernah menyangka sama sekali tak pernah menyangka, akan tersesat terlalu jauh hingga tak tau jalan pulang (#eh) di jalan yang, kalo kita ngambil bahasanya Rahmi sang lebah ke-2 yang fenomenal cetar membahana badai kalo bikin tulisan itu, jalan yang penuh cahaya ini. Tapi percaya tak percaya ini adalah kesesatan yang menyenangkan, sesat membawa nikmat lah kalo boleh di bilang, haha... Kalo tak percaya, cobalah jalan ini, pasti mau tersesat juga, lama-lama disini, sampe akhir hayat malah!!! 

Dan hal itu menjadi modal yang cukup untuk saya, sehingga walau seperti apapun kehidupan Pasca kampus yang saya alami sekarang ini, tak pernah ada sesal yang mencuat untuk dilihat, karena dunia kampus FKM itu telah menghantarkan saya ke depan pintu gerbang kemerdekaan saya. Yang kalo saya masuk FE seperti ingin saya waktu itu, mungkin tak beginilah jadinya, syukur yang tak terhingga kepada Allah ta’ala, yang telah menggariskannya dengan begitu indah dan ciamik, dan karena di FKM jualah segalanya bermula, pertemuan dengan insan muda belia perkasa yang kali ini akan menjadi fokus pembicaraan kita, si 3 lebah alias trio um.

Berikut saya sajikan reka adegan perjumpaan kami yang begitu dramatis, yang kalo di film-in jauuuhlaaah sama Laskar Pelangi, iya jauh karena, Laskar Pelangi di Belitong kami di Medan, 2 hari 3 malemlah kalo naik bus... #nahloh...

Baik saya akan jelaskan bagaimana alur perjumpaan saya dengan kakak lebah 1 dulu ya, jadi begini ceritanya, kala itu sepulang orientasi MABA, namanya PMB dulu, ha... Biasalah tu kan kalo MABA, biar banyak kawan, agak2 mepet-mepet sesama MABA untuk sekedar sapa, tanya nama, tanya nomor HP dan sebagainya dan sebagainya kan, kala itu saya udah punya temen yang sekaligus sahabat pertama di FKM, namanya Melly (kenal kan?), dan dari kejauhan entah mengapalah, mata saya menangkap sesosok gadis berbaju oranye dan bercelana petak-petak, celana petak-petak yang begitu eye catching (Winni masik inget ga?), pake tas coklat, nyebrang. Naah, dikarenakan di Medan mobilnya (red : arus lalu lintas) lebih ramai daripada di Kabanjahe, saya pun ngekorin gadis berbaju oranye itu untuk nyebrang (ngikutin pesan emak, kalo nyebrang hati-hati ya Naak...), hehe, dia jago nyebrang ternyata, trus pas naik angkot ternyata angkot yang kami tumpangi sama sodara-sodara (waaaah, saya terkejuut) haha... Ya sudah, dengan agak malu malu tapi mau, kalo ga salah saya nanyain deh nama si gadis berbaju oranye bercelana petak-petak itu, yang di kemudian hari ternyata Allah takdirkan jadi kaka lebah pertama saya, Winni Ramadhani Elistria Tumanggor, itulah awal perjumpaan dengan Wince sang pelopor kemerdekaan #eh salah, sang Nyonya L-Chocolatte. Dan kemudian kami mengalir begitu saja, menjadi begitu dekat, lekat, erat, seerat perangkoooh, hehe... pokoknya akrablah, sulit terjabarlah dengan kata-kata, pokoknya Kaka Winni ini telah banyak mengajarkan ilmu berharga kepada saya yang masih muda belia kala itu, misalnya : ilmu menyetir motor, dialah guru setir motor yang ngajarin saya ngebut #eh, ilmu berdagang, ilmu move-on, ilmu mencoba hal-hal baru, ilmu biostatistika, ilmu bela diri, ilmu nyubit supersakit #eh dan banyak ilmu lain yang tak bisa dijabarkan secara nyata dan tajam setajam silet haha... Seperti itulah, kakaaa lebah pertama saya yang luar biasa. Dan kami banyak menjalani suka duka hidup bersama di kampus, bikin usaha bareng, kena marah sama tim penilai SEC bareng, tak terhitung jumlah tugas kelompok yang dikerjain bareng, menggila bareng, dan akhirnya hijrah ke jalan penuh cahaya (culik bahasa Rahmi) ini pun bareng, intinya kalo sama kaka Winni ini, sering se-kufu lah sayanya... 

Itu secuil kisah tentang lebah 1, kalo di jelasin semua, butuh waktu yang panjaaaaaaang sekali...

Baik mari kita beranjak kepada si tengah kami, lebah ke-2, Rahmi Fitri Laoli, gadis ombo batu dari Pulau Nias. Saya tak mengingat secara jelas, bagaimana kami menjadi dekat seperti saat ini. Yang jelas di kelas kaka Rahmi ini pendiam sangat, membuat saya tak kenal (soalnya saya dulu ribut sangat, haha). Dia kalem, santai, cool, tak banyak bicara, tipikal-tipikal gadis Nias lah (haha sok tau) (tapi itu dulu lo, dulu, sekarang dah lain pasal). Dulu dia dekat dengan Sri juga, tapi bukan saya bukan saya, itu Sri yang kecil imut lucu dan jago masak, Sri Erlina. 

Yang saya ingat, kami dekat semenjak memutuskan memasuki peminatan yang sama, dan Allah takdirkan dia menggantikan saya mengemban amanah menjadi sekretaris departemen komunikasi dakwah dimana saya menjadi stafnya, nah disanalah kami banyak bertukar pandang, berdiskusi, bercanda, tertawa, menangis, bersamalah, bergosip #eh, lalu Allah takdirkan lagi dia menjadi sekretaris umum dimana saya menjadi ketua umumnya, kami acap berada dalam posisi harus saling mentsiqoh-ditsiqohi seperti itu, kaka Rahmi juga banyak mengajarkan ilmu kepada saya, ilmu gombal #eh, ilmu administratif (meski saya gagal terus), ilmu me-manajemen waktu (ini juga saya gagal terus), ilmu kasih sayang sesuai namanya Rahmi (penyayang), dia ni penyayang sangat, jadi saya banyak men-JIMOD (jiplakmodifikasi) darinya, misalnya tentang bagaimana dia memperlakukan mad’u-mad’unya. Rahmi terkenal sebagai kakak yang romantis, #eh, dia pernah dapat surat cinta romantis dari adik menteenya soalnya. 

Tak seperti yang tampak diluar, bahwa kami selalu semangat, kreatif dan kompak (pinjam jargon organisasi kawan) seperti yang sudah Rahmi bilang dalam tulisannya, kami pernah sering kali tak sependapat, lempar-lemparan es sering terjadi, kedinginan interaksi pun tak bisa dihindari, tapi begitulah karena ukhuwah bukanlah sesuatu yang harus diperjuangkan karena Ia hanyalah buah dari iman, acapkali setelah proses es-esan kami menyadari bahwa memang iman kami yang sedang merombeng, itu jua yang membuat membaik kembali, karena mereka selalu ada untuk mengingatkan dalam kesabaran dan kebenaran. Semoga proses ini berlanjut hingga akhir hayat hingga tapak kaki kami menjejak surga-Nya Allah yang indah tak terperi. 

Begitulah, menapak tilas perjalanan kami bersama selama beberapa tahun terakhir, saya si lebah ke-3, acap kali menjadi gelombang yang ke-3 dalam banyak hal, sebut saja, dalam usaha meraih gelar SKM kami, di awali oleh kakak lebah pertama, kemudian kakak lebah kedua, baru kemudian saya. Begitupun dengan kepemilikan SIM, Winni melaju keencang memiliki SIM terlebih dahulu di banding kami-kami adiknya yang karena itu seringkali nekat membawa sepeda motor tanpa si SIM C itu, hingga akhirnya di penghujung usia kampus berujung tilang dari pak POLISI yang garang. Lalu kemudian Rahmi yang tanpa dinyana tanpa di duga, selepas kembali dari tanah ombo batunya selepas bergelar SKM, dia nyengir kuda menunjukkan SIM C nyaa, haha, dan jadilah semenjak itu dia aktif membonceng saya kemana-mana. Baru kemudian saya memiliki SIM C setelah tak menjejak dunia kampus lagi. 

Sampai-sampai sering nalar nakal saya berfikir yang tidak tidak, kalaupun akhirnya saya menjadi si gelombang yang ke-3 dalam memperoleh SIM dan SKM dalam akronim yang diselewengkan, surat izin menikah dan surat keterangan menikah, dimana Winni memperoleh SIM dan SKM di urutan pertama dan Rahmi berikutnya tak apa, jadi saya bisa hadir di keduanya saat masih dalam keadaan Single kemudian mereka hadir di tempat saya dalam keadaan Double, jadi kan di potonya nanti Cantik, hahahah... (yang ini abaikan saja yaaaa).

Begitulah, cerita kami, dalam versi si gelombang ke-3.... nantikan versi kakak lebah pertama yang tentu saja akan fenomenal dan membadai. :D 


By : Sri Lestari Zhaw

Read More

3 Lebah; Trilogi 3 Lebah


Dahulu sekali, ketika saya menginjakkan kaki untuk yang pertama di fakultas ini, saya tidak pernah menyangka bahwa kampus ini memberikan berjuta warna dalam pengembaraan menuntut ilmu di perantauan.
Menuntut ilmu di kota Medan ini merupakan anugerah terindah yang diberikan Allah kepada saya. Di tengah desakan orangtua untuk segera mendaftarkan diri di sebuah sekolah tinggi keguruan yang ada di kota kelahiran saya, saat itu pula anugerah dari Allah hadir menjawab kegundahan saya. Saya dinyatakan lulus di Universitas sumatera Utara melalui jalur PMP (kalau sekarang namanya jalur undangan).
 Mungkin bagi sebagian mahasiswa di USU, mahasiswa yang masuk dari jalur ini adalah mahasiswa yang dipandang sebelah mata. Tapi bagi saya, inilah jalan menuju cahaya yang diberikan Allah kepada saya. Jalan inilah yang menuntun saya menuju kebaikan. Akhirnya, kota ini resmi saya nobatkan sebagai kota hijrah saya.
Bercerita tentang perjalanan menuju kebaikan, Allah memberikan saya lingkungan yang baik, teman-teman yang baik, dan komunitas yang baik agar pengembaraan ini berujung pada kebaikan. Sungguh sekenario yang hebat.
Bagaimana tidak? Selama mengembara di kota Medan ini, alhamdulillah saya tidak pernah terjerumus dan tersesat bahkan kehidupan saya menjadi lebih baik dibandingkan ketika saya masih sekolah dulu.
Di semester satu, saya tergabung dalam sebuah kelompok mentoring dan sungguh saya baru menyadari bahwa satu di antara teman saya yang tergabung di kelompok ini adalah lebah pertama yang akan menjadi sahabat saya dalam pengembaraan ini. Berarti di awal kisah ini, Allah sudah tunjukkan orang-orang yang akan memberikan kebaikan kepada saya di hari depan.
Masih di semester satu, ketika dosen mata kuliah bahasa inggris memberi tugas membuat sebuah wacana (saya lupa tentang apa) dalam bahasa inggris. Kami satu kelas dengan hikmad mengerjakan tugas itu, hanya satu orang saja yang saya perhatikan grasah-grusuh, ya dia adalah lebah ketiga yang akan mewarnai hidup saya. Lalu, siapa lebah kedua? Ya tentu saja saya yang paling cantik (hehe). Inilah kisah awal pertemuan saya dengan 2 lebah yang lain.

Pertemuan di awal tidak serta merta membuat saya dekat dengan mereka, tapi mereka berdua kelihatannya sudah dekat. Dan sepertinya ketika itu mereka sudah punya gank bernama Khodijah, yang diketuai lebah pertama.

Lagi-lagi, dalam skenario Allah kami dipertemukan dalam sebuah komunitas penuh cahaya bernama Ukmi Ad-dakwah. Yah, meskipun ketika itu mereka tergabung lebih dulu daripada saya. Karena ketika mereka mengikuti training pengkaderan tingkat dasar di Ukmi Ad-dakwah, secara bersamaan pula saya mengikuti training pengkaderan di komunitas lain bernama KAMMI komisariat USU (ketika itu masih 1 komisariat). Maklumlah, di awal keberadaan saya di USU, kehadiran Ukmi Ad-dakwah belum membumi membahana, jadi saya tidak begitu tahu bahkan bertanya-tanya apa itu Ukmi Ad-dakwah? hehehe betapa polosnya saya ketika itu. Tapi Alhamdulillah karena kehadiran Dakwah Expo untuk pertama kali di USU, akhirnya eksistensi Ukmi Ad-dakwah di USU meroket tajam. Dan saya bangga menjadi peserta dakwah Expo yang pertama :D. Sssst, sedikit rahasia, ketika acara Dakwah Expo berlansung, saya berdoa dalam hati " Ya Allah suatu hari nanti, izinkan saya menjadi panitia Dakwah Expo". Dan Alhamdulillah doa itu terwujud, tidak hanya sekali tapi berkali-kali :). #saya jadi ngalor ngidul, harusnya kan cerita 3 lebah.. haha. Tapi tak pa lah sekalian promosi Dakwah Expo :D.

Saya tidak terlalu ingat kapan kami bertiga mulai dekat, yang saya ingat kami menjadi sering bertemu dan berkumpul. Kami pun pernah berada dalam satu kelompok lingkaran, saya ingat betul ketika itu ukuran jilbab kami masih tergolong imut-imut (hehe) namun akhirnya kami dipencar-pencar ke kelompok lain. Saya juga pernah satu bidang dengan lebah ketiga di PHBI FKM USU, dan satu departemen di Ukmi Ad-dakwah USU. Sedangkan dengan lebah pertama, saya pernah satu kelompok saat membuat tugas mata kuliah tentang sanitasi rumah sakit dan pernah satu bidang administrasi kesekretariatan di PHBI FKM USU.

Seringnya kami bertemu dan berkumpul inilah yang pada akhirnya menghadirkan keterikatan hati. Dan tentu saja banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi (macam mau buat skripsi la ni.. hehe). Di semester 6 lah kami mulai mengerti bahwa ukhuwah telah mempertautkan hati kami. Tanpa mempengaruhi satu sama lain, kami bertiga memilih peminatan yang sama. Kesehatan Lingkungan. Meski sebelumnya saya masih galau antara peminatan gizi dan kesling, lebah ketiga galau antara AKK dan Kesling, sementara lebah pertama lebih galau lagi. hehehe. Karena di tahun kedua lebah pertama pernah berencana pindah ke fakultas sebelah. Namun, rencana Allah lebih indah untuk kami. Kami disatukan dalam satu departemen Kesehatan Lingkungan. Tidak itu saja, banyak hal yang menyatukan kami. Menjadi Trio UM misalnya. (Oooh apalagi itu ya?).
Saya tidak tahu siapa yang pertama sekali menciptakan istilah ini, tiba-tiba saja saya dan kedua lebah lainnya diberi gelar Trio UM. Menurut isu yang beredar, istilah ini muncul karena dalam sebuah kepengurusan, kami diberi kepercayaan memegang amanah sebagai Ketua Umum, Sekretaris Umum dan Bedahara Umum. Yang kemudian muncullah istilah Trio UM ini di kalangan para pengurus. (Alhamdulillah gelarnya Trio UM, coba kalo trio-trio lainnya, hehehe). Pemberi istilah ini cukup cerdas, siapa ya dia? saya jadi penasaran. Harusnya kan dia diberi hadiah sepotong kue donat yang sering dijual anak Ukmi FKM... hehehe. Mungkin setelah dia membaca tulisan ini dia akan segera menghubungi saya. haha. Back to topic!

Masih banyak hal lain yang membuat kami terlihat sangat terkenal dan fenomenal di kalangan para junior dan senior bahkan seantero USU (narsis sedikit). Kami terlahir di bulan yang sama (dari orangtua yang berbeda tentunya, hehe), Bulan April dengan tanggal yang hampir berdekatan 15, 22, 24. Dan tentunya dengan tahun lahir yang sama. Upppss.. hampir lupa. Salah satu di antara kami ternyata lahir di tahun 91. Tapi, tak apa lah. Kita anggap saja lebah yang satu itu lahir di tahun yang sama biar kelihatan kompak sejagat raya seperti kata kak Dina. (hehe)

Dan... pastinya pembaca bertanya-tanya. Mengapa ada istilah lebah-lebah di sini? Baiklah mohon bersabar. Saya akan menceritakannya secara detail. :)

Memasuki jenjang mahasiswa tingkat akhir, saya dan para lebah lainnya memutuskan untuk ngontrak rumah. Alasannya cukup diplomatis. Bila kami bertiga tinggal di rumah yang sama maka kami bisa saling menyemangati dalam pembuatan tugas akhir alias Skripsi. Dan akhirnya kami mengontrak sebuah rumah di jalan Murni yang diberi nama Pondok An-Nahl  yang dihuni oleh 9 lebah termasuk kami. Nah, pasti sudah tau kan mengapa kami dijuluki 3 lebah? Belum tau juga? Aduh gawatlah.
Rumah yang sederhana ini kami beri nama Pondok An-nahl. Tentulah dengan pertimbangan yang matang. "Kenapa An-Nahl?" begitulah kira-kira pertanyaan saya ketika itu. "Karena di sini ada yang jualan madu" jawab si sekretaris pondok (ngasal bener jawabnya, sementang kak Ainun jual madu.. hehe)
 "Eh, bukan karena itu aja sih... itu sebenernya doa, semoga seluruh penghuni pondok ini menjadi lebah. Lebah itu kan binatang yang menghasilkan madu yang memberikan manfaat bagi manusia, nah semoga kita bisa menjadi lebah yang bermanfaat dan menebar kebaikan pada siapa saja..." Mari kita aminkan bersama-sama. Amiin. (yang mengaminkan semoga dapat jodoh yang sholeh dan sholehah. hehe).

Di pondok ini lah kami tidak hanya bertiga namun dengan lebah-lebah lainnya menjalin ukhuwah menebar dakwah (pinjam jargon UAD). Segala aktivitasnya penuh hikmah. Sholat berjama'ah, Taujih tiap pagi minggu, Tilawah One Day One Juz, Les Bahasa Arab 2 kali seminggu dan masih banyak kegiatan bermanfaat lainnya misalnya bisnis madu,  bisnis cocholate, bisnis es krim dan pancake juga pernah bisnis bakwan cinta dan cetar banana (hehe), ya tidak dipungkiri tetap saja ada kegilaan-kegilaan yang menghiasi hari-hari kami. Maklumlah kami masih sangat belia ketika itu. hehe.

Julukan 3 lebah ini, sebenarnya disematkan oleh seorang kakak yang cantik jelita yang bulan November lalu naik ke pelaminan siapa lagi kalau bukan kak Dina :). Julukan yang ditulis secara resmi di atas kue tart yang diberikan untuk kami di hari milad kami (ya seperti yang anda duga, kue tartnya dirangkap. haha). Terimakasih untuk kakanda Dina atas julukannya. (hadiahnya gak usah ya kak.. hihi)

Ya 3 lebah yang kelihatan kompak, fenomenal dan cukup menggemparkan ini menyimpan banyak kisah dalam pengembaraannya menuntut ilmu di kota Medan ini. Walau kelihatan kompak bukan berarti tak pernah diterpa masalah. (macam artis saja). Tentulah ada tawa, canda, gembira, bahagia yang mewarnai kehidupan, namun tak dipungkiri kesedihan, duka, tangis, curiga, prasangka juga turut menghiasi riak-riak kebersamaan kami.
Ada tangis yang hadir karena hati yang kecewa, ada aksi diam karena menyimpan sakit di dada namun tentu saja semua berakhir dengan kebahagiaan. Karena ada cinta di antara kami. Karena ada tauhid yang mempersaudarakan kami. Karena ada ukhuwah yang mempertautkan hati kami.
Tulisan kak Dina beberapa hari lalu di akun facebooknya membuat saya tertegun. Menuliskan bahwa kami adalah 3 lebah yang kompak sejagat raya. Bila mungkin orang di luar sana beranggapan seperti itu, maka patutlah bila hal ini disyukuri. Bahwasanya Allah telah mempertemukan kami, telah mempersaudarakan kami di bawah naungan CintaNya. Sungguh anugerah yang indah. Allah berikan kami sahabat-sahabat yang menuntun kami menuju kebaikan. Terlantunlah doa, semoga kami tetap menjadi sahabat hingga di syurgaNya kelak.
Satu hal yang harusnya 3 lebah sadari bahwa Allah yang mempertemukan kita dan Allah pula yang memisahkan kita. Meski kini kita berada di 3 tempat yang berbeda semoga selalu saling mendoakan, dan suatu saat nanti semoga Allah mempertemukan kita kembali.

Salam cinta untuk sahabatku yang tak tergantikan hadirnya di relung hatiku, lebah pertama, Winni RE dan lebah ketiga Sri Lestari Zhaw di manapun kalian berada saat ini, semoga Allah merahmati setiap langkah dan hembusan nafasmu.

Nias, 10 Mei 2014
Aku di sini merindukanmu
RaFiLa :)

NB : ini cerita versi lebah kedua, untuk lebah pertama dan ketiga mohon buat versi sendiri di blog masing-masing jangan nyemak di sini.. hahahaha 
Read More