Sunyi hatiku







Dalam luka
Dalam duka
Engkau ada dan setia
Temani jiwa...

Surya yang memerah
Senja di langit dunia
Sunyi hatiku

Terbayang wajah mereka
Yang memelukku
Menjagaku
Memberiku kasih dan sayang

Mencintaiku
Merawatku tanpa lelah
Setulus jiwamu...

Jauh sudah langkah hari
Yang memanggil rindu
Di dalam hatiku padamu

Andai bisa ku mengulang waktu
Hanya tuk mengerti akanmu menyentuhmu...

(Opick-cinta setulus jiwa)


Barisan huruf ini terhenti. 
Kursor terus saja berkedip. 
Hilang kata. 
Yang ada hanya derai airmata

Semakin berlalu melangkah
semakin terasa ketiadaanmu
Dalam sunyi, terasa rindu

3 Tahun berlalu tanpamu
Sunyi hatiku tanpa memandang wajah teduhmu
Tanpa senyummu yang memberi bahagia dalam hatiku

21 tahun bersamamu
Kasih sayangmu memenuhi ruang hatiku
Cintamu memeluk jiwaku
Tangan halusmu memenggam jemariku, menuntun langkahku
dan kini semua tlah terhenti..
dan hatiku kembali sunyi.

Rabb, bilakah aku bisa menggenggam tangannya kembali dalam indah surgaMu?
karena walau berakhir waktu ini, rindu akan terus bersemayam dalam relung hatiku.
Ya Rabb jagalah ia untukku,
peluklah ia dengan hangat cintaMu
terangi perjalanannya kini dengan cahaya cintaMu,
dan izinkanlah suatu hari nanti kami memandang cahaya syurgaMu bersama-sama. 


Mengenangmu, ayah
18 Mei 2011-18 Mei 2014

Read More

Rinai Hujan di Puncak Sibayak



"Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira" (Al Qur'an, 30:48)


H u j a n. Selalu saja romantis :)
Setiap tetesannya memintal rindu yang bertumpuk harap.
Seperti kerinduan bumi mengharap rintiknya turun memberi kesejukan.
Seperti kerinduan pohon mengharap rinainya menghadiahkan sumber kehidupan.
Seperti kerinduan alam mengharap dendangan syahdu yang terlantun di setiap rintiknya.
Seperti kerinduan hamba mengharap kasih Tuhannya.

Pernahkah suatu masa terbersit dalam pikiran bahwa hujan membawa pesan dari Tuhan? Pesan cinta berhias rahmat tercurah deras dari langit untuk makhlukNya. Oh, betapa romantis Allah menunjukkan cintaNya kepada kita. Maka, patutlah setiap tetesnya adalah kesyukuran. 

“Allahumma shoyyiban nafi’an”
Ya Allah, Jadikanlah hujan ini sebagai hujan yang bermanfaat

Pernahkah suatu kali anda memandang hujan? Sesekali cobalah berdiri di bawah hujan. Akan hadir sebuah rasa yang tak biasa terpancar mekar dari relung jiwa. Seperti yang saya alami kemarin sore di penghujung senja. Seusai syuro sore itu, hujan datang menyapa bumi dan penghuninya. Menyejukkan, menenangkan. Rintiknya yang semula malu-malu turun dari balik awan semakin lama semakin mengucur dengan derasnya. Saya mencoba mempercepat laju kenderaan, berharap bisa sampai di rumah dengan selamat tanpa basah kuyup karena pasalnya saya tak membawa mantel, hanya memakai jaket.

Namun hujan semakin deras, akhirnya setelah menimbang, mengingat dan memperhatikan kesehatan saya yang sedang melemah maka saya memutuskan untuk berteduh. :)
Ada beberapa orang yang sudah berteduh lebih dulu, alhamdulillah masih ada ruang untuk saya ikut berteduh menunggu rintik-rintik hujan mereda. Menunggu di bawah hujan, mengingatkan saya akan sebuah moment indah yang sangat romantis. :)

Berada di puncak sibayak bersama keluarga besar Ukmi Ad-dakwah dan teman-teman lembaga dakwah fakultas se-USU. Awal bulan Juni di tahun 2011. Ya saya masih mengingat moment indah itu dengan begitu jelas. Mendaki gunung sibayak untuk pertama kali bagi saya adalah sesuatu yang luaar biasaa! Bertambah lengkap kebahagiaan ini karena ini merupakan salah satu program kerja dari departemen saya. Dengan alasan yang cukup logis ketika itu, mengadakan kegiatan yang mempererat kebersamaan di antara kader dakwah se-USU. Alhamdulillah terlaksana dengan baik. :)

Mendaki gunung sibayak dengan cuaca yang cukup dingin, tak menyurutkan langkah kami untuk terus melaju, melesat, menuju puncak sibayak. Sesekali rintik hujan datang menyapa membasuh butiran-butiran peluh. Pendakian ini terasa menyenangkan tanpa keluh kesah karena satu sama lain saling menyemangati dan menguatkan.

Pendakian ini ibarat perjalanan dakwah. Dakwah, dalam perjalanannya akan menemui jalan berbatu, menanjak, berkelok, licin yang membuat pelaku dakwah sesekali tergelincir. Tak ada pilihan lain selain terus mendaki, karena kembali turun adalah sebuah kesia-siaan. Dalam dakwah, pelaku dakwah tidak sendiri. Ada pendaki-pendaki lain yang bersama-sama menuju puncak. Saling menguatkan, saling mengingatkan, saling menyemangati. Dan tentu saja Allah dan para malaikat membersamai setiap langkah dalam dakwah ini.

Sesampainya di puncak, rintik-rintik hujan masih setia menemani kami yang beristirahat melepas lelah selama pendakian. Subhanallah, di atas puncak dengan ketinggian sekitar 2.094 m dari permukaan laut ini kami disuguhkan dengan panorama indah. Bukit-bukit berbatu yang mengelilingi kawah diselimuti gumpalan-gumpalan asap yang berarak malu-malu. Allahu akbar!!

Sebelum mengisi perut yang sudah mulai berdendang, kami duduk mendengarkan taujih singkat dari sang pemateri. Bagi saya, ini sungguh luar biasa! di Atas puncak gunung sibayak untuk pertama kali mendengarkan taujih yang membangun ruhiyah bersama sahabat seperjuangan di jalan dakwah. Sungguh romantis! Dan semakin romantis ketika hujan ikut membersamai kebersamaan kami. :)

Sungguh, inilah perjalanan di bawah hujan yang paling romantis yang pernah saya alami selama hidup saya. Ya, menikmati hujan bersama teman-teman seperjuangan di jalan dakwah.

Terlantunlah doa di bawah rinai hujan di puncak gunung sibayak...

Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berhimpun dalam naungan cintaMu
bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam dakwah kepadaMu, menegakkan syariatMu.
Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya, terangilah dengan cahayaMu yang tiada pernah padam 
Lapangkanlah dada kami dengan karunia iman dan indahnya tawakal padaMu 
hidupkan dengan ma'rifatMu matikan dalam syahid di jalan Mu
Engkaulah pelindung dan sebaik-baik penolong.


Hujan. Selalu saja romantis. :)
Mengikat hati seorang hamba pada kerinduan atas Rabbnya.




Mengenang bingkai kehidupan di bawah hujan,
Sibayak, 4 Juni 2011

Terbingkai dalam barisan huruf,
Nias di penghujung senja, 17 Mei 2014

Tersimpan dengan indah dalam ingatan, In sya'a Allah :')
Read More

3 Lebah; Trilogi 3 Lebah


Dahulu sekali, ketika saya menginjakkan kaki untuk yang pertama di fakultas ini, saya tidak pernah menyangka bahwa kampus ini memberikan berjuta warna dalam pengembaraan menuntut ilmu di perantauan.
Menuntut ilmu di kota Medan ini merupakan anugerah terindah yang diberikan Allah kepada saya. Di tengah desakan orangtua untuk segera mendaftarkan diri di sebuah sekolah tinggi keguruan yang ada di kota kelahiran saya, saat itu pula anugerah dari Allah hadir menjawab kegundahan saya. Saya dinyatakan lulus di Universitas sumatera Utara melalui jalur PMP (kalau sekarang namanya jalur undangan).
 Mungkin bagi sebagian mahasiswa di USU, mahasiswa yang masuk dari jalur ini adalah mahasiswa yang dipandang sebelah mata. Tapi bagi saya, inilah jalan menuju cahaya yang diberikan Allah kepada saya. Jalan inilah yang menuntun saya menuju kebaikan. Akhirnya, kota ini resmi saya nobatkan sebagai kota hijrah saya.
Bercerita tentang perjalanan menuju kebaikan, Allah memberikan saya lingkungan yang baik, teman-teman yang baik, dan komunitas yang baik agar pengembaraan ini berujung pada kebaikan. Sungguh sekenario yang hebat.
Bagaimana tidak? Selama mengembara di kota Medan ini, alhamdulillah saya tidak pernah terjerumus dan tersesat bahkan kehidupan saya menjadi lebih baik dibandingkan ketika saya masih sekolah dulu.
Di semester satu, saya tergabung dalam sebuah kelompok mentoring dan sungguh saya baru menyadari bahwa satu di antara teman saya yang tergabung di kelompok ini adalah lebah pertama yang akan menjadi sahabat saya dalam pengembaraan ini. Berarti di awal kisah ini, Allah sudah tunjukkan orang-orang yang akan memberikan kebaikan kepada saya di hari depan.
Masih di semester satu, ketika dosen mata kuliah bahasa inggris memberi tugas membuat sebuah wacana (saya lupa tentang apa) dalam bahasa inggris. Kami satu kelas dengan hikmad mengerjakan tugas itu, hanya satu orang saja yang saya perhatikan grasah-grusuh, ya dia adalah lebah ketiga yang akan mewarnai hidup saya. Lalu, siapa lebah kedua? Ya tentu saja saya yang paling cantik (hehe). Inilah kisah awal pertemuan saya dengan 2 lebah yang lain.

Pertemuan di awal tidak serta merta membuat saya dekat dengan mereka, tapi mereka berdua kelihatannya sudah dekat. Dan sepertinya ketika itu mereka sudah punya gank bernama Khodijah, yang diketuai lebah pertama.

Lagi-lagi, dalam skenario Allah kami dipertemukan dalam sebuah komunitas penuh cahaya bernama Ukmi Ad-dakwah. Yah, meskipun ketika itu mereka tergabung lebih dulu daripada saya. Karena ketika mereka mengikuti training pengkaderan tingkat dasar di Ukmi Ad-dakwah, secara bersamaan pula saya mengikuti training pengkaderan di komunitas lain bernama KAMMI komisariat USU (ketika itu masih 1 komisariat). Maklumlah, di awal keberadaan saya di USU, kehadiran Ukmi Ad-dakwah belum membumi membahana, jadi saya tidak begitu tahu bahkan bertanya-tanya apa itu Ukmi Ad-dakwah? hehehe betapa polosnya saya ketika itu. Tapi Alhamdulillah karena kehadiran Dakwah Expo untuk pertama kali di USU, akhirnya eksistensi Ukmi Ad-dakwah di USU meroket tajam. Dan saya bangga menjadi peserta dakwah Expo yang pertama :D. Sssst, sedikit rahasia, ketika acara Dakwah Expo berlansung, saya berdoa dalam hati " Ya Allah suatu hari nanti, izinkan saya menjadi panitia Dakwah Expo". Dan Alhamdulillah doa itu terwujud, tidak hanya sekali tapi berkali-kali :). #saya jadi ngalor ngidul, harusnya kan cerita 3 lebah.. haha. Tapi tak pa lah sekalian promosi Dakwah Expo :D.

Saya tidak terlalu ingat kapan kami bertiga mulai dekat, yang saya ingat kami menjadi sering bertemu dan berkumpul. Kami pun pernah berada dalam satu kelompok lingkaran, saya ingat betul ketika itu ukuran jilbab kami masih tergolong imut-imut (hehe) namun akhirnya kami dipencar-pencar ke kelompok lain. Saya juga pernah satu bidang dengan lebah ketiga di PHBI FKM USU, dan satu departemen di Ukmi Ad-dakwah USU. Sedangkan dengan lebah pertama, saya pernah satu kelompok saat membuat tugas mata kuliah tentang sanitasi rumah sakit dan pernah satu bidang administrasi kesekretariatan di PHBI FKM USU.

Seringnya kami bertemu dan berkumpul inilah yang pada akhirnya menghadirkan keterikatan hati. Dan tentu saja banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi (macam mau buat skripsi la ni.. hehe). Di semester 6 lah kami mulai mengerti bahwa ukhuwah telah mempertautkan hati kami. Tanpa mempengaruhi satu sama lain, kami bertiga memilih peminatan yang sama. Kesehatan Lingkungan. Meski sebelumnya saya masih galau antara peminatan gizi dan kesling, lebah ketiga galau antara AKK dan Kesling, sementara lebah pertama lebih galau lagi. hehehe. Karena di tahun kedua lebah pertama pernah berencana pindah ke fakultas sebelah. Namun, rencana Allah lebih indah untuk kami. Kami disatukan dalam satu departemen Kesehatan Lingkungan. Tidak itu saja, banyak hal yang menyatukan kami. Menjadi Trio UM misalnya. (Oooh apalagi itu ya?).
Saya tidak tahu siapa yang pertama sekali menciptakan istilah ini, tiba-tiba saja saya dan kedua lebah lainnya diberi gelar Trio UM. Menurut isu yang beredar, istilah ini muncul karena dalam sebuah kepengurusan, kami diberi kepercayaan memegang amanah sebagai Ketua Umum, Sekretaris Umum dan Bedahara Umum. Yang kemudian muncullah istilah Trio UM ini di kalangan para pengurus. (Alhamdulillah gelarnya Trio UM, coba kalo trio-trio lainnya, hehehe). Pemberi istilah ini cukup cerdas, siapa ya dia? saya jadi penasaran. Harusnya kan dia diberi hadiah sepotong kue donat yang sering dijual anak Ukmi FKM... hehehe. Mungkin setelah dia membaca tulisan ini dia akan segera menghubungi saya. haha. Back to topic!

Masih banyak hal lain yang membuat kami terlihat sangat terkenal dan fenomenal di kalangan para junior dan senior bahkan seantero USU (narsis sedikit). Kami terlahir di bulan yang sama (dari orangtua yang berbeda tentunya, hehe), Bulan April dengan tanggal yang hampir berdekatan 15, 22, 24. Dan tentunya dengan tahun lahir yang sama. Upppss.. hampir lupa. Salah satu di antara kami ternyata lahir di tahun 91. Tapi, tak apa lah. Kita anggap saja lebah yang satu itu lahir di tahun yang sama biar kelihatan kompak sejagat raya seperti kata kak Dina. (hehe)

Dan... pastinya pembaca bertanya-tanya. Mengapa ada istilah lebah-lebah di sini? Baiklah mohon bersabar. Saya akan menceritakannya secara detail. :)

Memasuki jenjang mahasiswa tingkat akhir, saya dan para lebah lainnya memutuskan untuk ngontrak rumah. Alasannya cukup diplomatis. Bila kami bertiga tinggal di rumah yang sama maka kami bisa saling menyemangati dalam pembuatan tugas akhir alias Skripsi. Dan akhirnya kami mengontrak sebuah rumah di jalan Murni yang diberi nama Pondok An-Nahl  yang dihuni oleh 9 lebah termasuk kami. Nah, pasti sudah tau kan mengapa kami dijuluki 3 lebah? Belum tau juga? Aduh gawatlah.
Rumah yang sederhana ini kami beri nama Pondok An-nahl. Tentulah dengan pertimbangan yang matang. "Kenapa An-Nahl?" begitulah kira-kira pertanyaan saya ketika itu. "Karena di sini ada yang jualan madu" jawab si sekretaris pondok (ngasal bener jawabnya, sementang kak Ainun jual madu.. hehe)
 "Eh, bukan karena itu aja sih... itu sebenernya doa, semoga seluruh penghuni pondok ini menjadi lebah. Lebah itu kan binatang yang menghasilkan madu yang memberikan manfaat bagi manusia, nah semoga kita bisa menjadi lebah yang bermanfaat dan menebar kebaikan pada siapa saja..." Mari kita aminkan bersama-sama. Amiin. (yang mengaminkan semoga dapat jodoh yang sholeh dan sholehah. hehe).

Di pondok ini lah kami tidak hanya bertiga namun dengan lebah-lebah lainnya menjalin ukhuwah menebar dakwah (pinjam jargon UAD). Segala aktivitasnya penuh hikmah. Sholat berjama'ah, Taujih tiap pagi minggu, Tilawah One Day One Juz, Les Bahasa Arab 2 kali seminggu dan masih banyak kegiatan bermanfaat lainnya misalnya bisnis madu,  bisnis cocholate, bisnis es krim dan pancake juga pernah bisnis bakwan cinta dan cetar banana (hehe), ya tidak dipungkiri tetap saja ada kegilaan-kegilaan yang menghiasi hari-hari kami. Maklumlah kami masih sangat belia ketika itu. hehe.

Julukan 3 lebah ini, sebenarnya disematkan oleh seorang kakak yang cantik jelita yang bulan November lalu naik ke pelaminan siapa lagi kalau bukan kak Dina :). Julukan yang ditulis secara resmi di atas kue tart yang diberikan untuk kami di hari milad kami (ya seperti yang anda duga, kue tartnya dirangkap. haha). Terimakasih untuk kakanda Dina atas julukannya. (hadiahnya gak usah ya kak.. hihi)

Ya 3 lebah yang kelihatan kompak, fenomenal dan cukup menggemparkan ini menyimpan banyak kisah dalam pengembaraannya menuntut ilmu di kota Medan ini. Walau kelihatan kompak bukan berarti tak pernah diterpa masalah. (macam artis saja). Tentulah ada tawa, canda, gembira, bahagia yang mewarnai kehidupan, namun tak dipungkiri kesedihan, duka, tangis, curiga, prasangka juga turut menghiasi riak-riak kebersamaan kami.
Ada tangis yang hadir karena hati yang kecewa, ada aksi diam karena menyimpan sakit di dada namun tentu saja semua berakhir dengan kebahagiaan. Karena ada cinta di antara kami. Karena ada tauhid yang mempersaudarakan kami. Karena ada ukhuwah yang mempertautkan hati kami.
Tulisan kak Dina beberapa hari lalu di akun facebooknya membuat saya tertegun. Menuliskan bahwa kami adalah 3 lebah yang kompak sejagat raya. Bila mungkin orang di luar sana beranggapan seperti itu, maka patutlah bila hal ini disyukuri. Bahwasanya Allah telah mempertemukan kami, telah mempersaudarakan kami di bawah naungan CintaNya. Sungguh anugerah yang indah. Allah berikan kami sahabat-sahabat yang menuntun kami menuju kebaikan. Terlantunlah doa, semoga kami tetap menjadi sahabat hingga di syurgaNya kelak.
Satu hal yang harusnya 3 lebah sadari bahwa Allah yang mempertemukan kita dan Allah pula yang memisahkan kita. Meski kini kita berada di 3 tempat yang berbeda semoga selalu saling mendoakan, dan suatu saat nanti semoga Allah mempertemukan kita kembali.

Salam cinta untuk sahabatku yang tak tergantikan hadirnya di relung hatiku, lebah pertama, Winni RE dan lebah ketiga Sri Lestari Zhaw di manapun kalian berada saat ini, semoga Allah merahmati setiap langkah dan hembusan nafasmu.

Nias, 10 Mei 2014
Aku di sini merindukanmu
RaFiLa :)

NB : ini cerita versi lebah kedua, untuk lebah pertama dan ketiga mohon buat versi sendiri di blog masing-masing jangan nyemak di sini.. hahahaha 
Read More

Belahan Jiwa




Bersama lalu waktu dan padang kembara yang pilu

Kuselisih serakan pasir gurun dan debu untuk temukan dirimu
Kusibak semestaku yang gemuruh ombak dan lembab dedaunan untuk temukan sosokmu
Duduk di antara jarum jam yang berdetak menunggu-nunggu
Adakah kau di sana di belahan dunia yang entah melakukan ziarah yang sama untuk menemukan diriku
Lalu kita tak pernah bosan mencari di antara selipan cahaya doa-doa
Kita tak pernah lelah, patah dan tua
Lelarian di padang senja penantian
Senja yang kuyup dan rapuh
Di antara genuruh pinta-pinta, saat kumohon padaNya
Agar kau tampak dalam jelma yang tak hanya fatamorgana

Izzatul Jannah
Read More

Keluarga Muslim di 3 Bulan Tarbiyah (Rajab, Sya’ban & Ramadhan)





Ramadhan sudah dekat. Alhamdulillah. Musim semi orang-orang beriman itu dinanti karena kebaikan dan kenikmatannya. Tentu hanya orang beriman yang menantinya. Karena jika tidak beriman, Ramadhan hanya beban yang memberatkan dan menghilangkan kenikmatan.

Setiap keluarga mukmin ingin Ramadhannya bertenaga dan berkesan serta meningkat lebih baik. Hanya saja, sering kali kita baru merasakan bahwa Ramadhan kita dan keluarga kurang maksimal setelah berada di penghujungnya.

Salah satu penyebabnya adalah persiapan yang tidak baik. Perjalanan Ramadhan menempuh taman hijau yang menanjak. Indah bagi yang tidak mempedulikan bentuk jalannya. Bagi yang sibuk menilai jalan yang melelahkan itu, maka taman hijau di kanan kirinya hampir tak berarti. Keindahannya. Tak hanya sehari atau dua hari. Juga tidak sekali-kali. Tetapi satu bulan penuh.

Perjalanan seperti itu, bagaimana tidak disiapkan sebaik mungkin perbekalannya. Pasti. Perjalanan panjang itu memerlukan persiapan yang baik. Gagal pada persiapan, bisa menimbulkan masalah pada perjalanan.

Persiapan itu bukan sibuk mencari tiket jauh-jauh hari. Juga bukan sibuk menghitung budget sepanjang Ramadhan dan pulang kampung. Sehingga sibuk mencari tambahan untuk itu. Persiapan juga bukan memikirkan jenis menu sepanjang Ramadhan.

Kalau demikian, persiapan apa yang diperlukan?

Persiapan itu telah diajarkan Rasulullah pada dua bulan sebelumnya; Rajab dan Sya’ban. Sebagaimana dalam sabda beliau,

عن أسامة بن زيد قال قلت : يا رسول الله لم أرك تصوم شهرا من الشهور ما تصوم من شعبان قال ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

Dari Usamah bin Zaid berkata: aku bertanya: Ya Rasulullah aku belum pernah melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain, seperti puasamu di bulan Sya’ban.

Rasul menjawab : itu ada bulan yang dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan diangkatnya amal padanya kepada Robbul ‘alamin. Maka aku ingin amalku diangkat dalam keadaan berpuasa. (HR. Nasa’i, dihasankan oleh Al Albani)

Di dalam hadits ini, Rasulullah mengingatkan kita tentang bulan yang dilupakan yaitu Sya’ban yang ada di antara Rajab dan Ramadhan. Itu artinya, Rajab dan Ramadhan merupakan bulan yang sangat diperhatikan oleh masyarakat Nabi Arab saat itu. Maka mari kita lihat apa yang ada di bulan Rajab, Sya’ban kemudian Ramadhan.

Rajab

Setelah dikaji oleh para ulama, seluruh riwayat hadits tentang keutamaan bulan Rajab, maka inilah dua kesimpulan dua ulama besar di bidang hadits,

Ibnu Qoyyim, “Setiap hadits tentang puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya adalah dusta.” (Al-Manarul Munif hal 96)

Ibnu Hajar, “Tidak ada dalil yang shahih tentang keutamaan Bulan Rajab baik keutamaan untuk puasa atau qiyam.” (Tabyinul ‘Ajab hal 11)

Dengan demikian, tidak amal khusus di bulan Rajab. Sama sekali. Karena beribadah harus berlandaskan dalil yang shahih. Jika tidak, maka kita termasuk orang-orang yang beramal dengan tanpa ilmu. Sebagaimana yang disifati dalam Al Fatihah dengan kata (الضالين/sesat).


Tetapi Bulan Rajab mempunyai keistimewaan seperti yang disampaikan oleh Al Quran. Allah berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. (Qs. at-Taubah: 36)

Dari Abu Bakrah radhiallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam saat khutbah Haji Wada’ bersabda, “Sesungguhnya waktu berputar sebagaimana hari penciptaan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan di antaranya ada empat bulan haram, tiga bulan berturut-turut: Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab mudhar yang ada di antara bulan Jumadi dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1741 dan Muslim no 1679)

Secara bahasa Rajab berarti keagungan, hal ini karena orang-orang Arab dahulu mengagungkan bulan ini sebagaimana syariat juga menjadikannya sebagai bulan haram (mulia). (Ibnu Faris dalam mu’jam maqayis lughah hal. 445)

Kini kita berada di Bulan Rajab. Salah satu bulan haram (mulia). Apa yang harus kita lakukan pada bulan seperti ini?

Ada dua hal yang harus diperhatikan :

1. Jangan berbuat dosa padanya, karena akan dilipat gandakan


Allah berfirman:

فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ


“maka janganlah kamu menganiaya diri.” (Qs. At Taubah: 36)

2. Jangan menumpahkan darah padanya

Allah berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar.” (Qs. Al Baqarah: 217)

Poin pertama adalah melakukan kesalahan dan dosa pada diri kita sendiri. Sedangkan poin kedua adalah melakukan kesalahan dan dosa pada orang lain. Keduanya, harus sangat dihindari di bulan mulia ini.

Berarti semangat Rajab adalah: menjaga diri dari dosa.

Sya’ban

Bulan ini disebut Nabi sebagai:
Bulan yang dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Bulan diangkatnya amal padanya kepada Robbul ‘alamin

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan tentang amal di waktu lalainya manusia,

“Ibadah di waktu-waktu lalai mempunyai keutamaan di bandingkan waktu yang lain.”

Jadi, Bulan Sya’ban ini mempunyai dua keistimewaan: bulan dilalaikan dan bulan diangkatnya amal. ada kedua hal tersebut, beramal mempunyai nilai baik. Nabi juga menyampaikan bahwa beliau ingin dicatat seorang yang berpuasa saat pengangkatan amal.

Adapun tindakan Rasulullah dan shahabat di bulan ini adalah:

1. Banyak puasa

Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha berkata,

وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ

“Dan aku tidak melihat Rasulullah shallallahu al

aihi wasallam menyempurnakan puasa satu bulan kecuali Ramadhan. Dan aku tidak melihat beliau puasa paling banyak dalam satu bulan kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu banyaknya hari-hari di Sya’ban yang dipuasai Nabi dengan puasa-puasa sunnah, hingga dalam riwayat lain Aisyah mengatakan bahwa Nabi puasa satu bulan penuh. Yang dimaksud oleh Aisyah adalah puasa hampir satu bulan penuh.


2. Jika tidak, jangan lewatkan puasa pertengahan Sya’ban (Al Ayyam Al Bidh)

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ أَوْ لِآخَرَ أَصُمْتَ مِنْ سُرَرِ شَعْبَانَ قَالَ لَا قَالَ فَإِذَا أَفْطَرْتَ فَصُمْ يَوْمَيْنِ

Dari Imron bin Hushain radhiallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya atau kepada yang lainnya: Apakah kamu puasa Surar Sya’ban?

Dia menjawab: Tidak

Nabi bersabda: Jika kamu berbuka, maka puasalah dua hari. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kata Surar/Sarar Sya’ban, para ulama berbeda pendapat apakah awal, pertengahan atau akhir bulan tersebut. An Nawawi menjelaskan hal ini dalamAl Minhaj.

Pendapat yang kuat adalah : pertengahan dan akhir bulan.
Jika maksudnya adalah pertengahan, maka yang dimaksud adalah puasa al ayyam al bidh. Dan jika yang dimaksud adalah akhir bulan, maka yang dimaksud adalah bagi mereka yang biasa berpuasa sunnah, diizinkan untuk puasa di akhir Sya’ban.

Sya’ban adalah bulan Nabi menganjurkan untuk kita isi dengan banyak berpuasa. Jika tidak mampu berpuasa banyak, maka puasalah pada pertengahannya (13, 14, 15) Sya’ban.

3. Bersihkan kemusyrikan & saling memaafkan

عن أبي موسى الأشعري عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن الله ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

Dari Abu Musa, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah memeriksa (hamba) di malam pertengahan Sya’ban. Dia mengampuni seluruh makhluknya kecuali orang yang musyrik atau bertikai.” (HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani)

Ini satu-satunya hadits yang bisa dijadikan landasan untuk keutamaan malam nisfu Sya’ban.

Allah menurunkan ampunan bagi seluruh orang hamba beriman. Tidak ada amal tertentu yang diperintahkan untuk dilakukan pada malam tersebut. Ini adalah ampunan yang diturunkan Allah begitu saja, sebagai bukti Maha Pengampunnya Allah.

Hanya saja, kita harus membersihkan dari dua hal: Kemusyrikan dan Pertengkaran. Jika salah satunya atau keduanya masih ada dalam diri kita, maka ampunan itu akan terlewatkan.

Jadi, budaya meminta maaf menjelang Ramadhan, lebih bagus jika dilaksanakan sebelum ertengahan Sya’ban.

4. Batas akhir membayar hutang Ramadhan yang lalu
Bagi yang mempunyai hutang di Ramadhan sebelumnya, diberi keluangan waktu untuk membayarnya hingga bulan Sya’ban tahun berikutnya. Hal ini dilakukan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha,

عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ الشُّغْلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


Aisyah radhiallahu anha berkata,
“Saya mempunyai hutang puasa Ramadhan. Saya tidak mampu menggantinya kecuali pada Bulan Sya’ban dikarenakan kesibukanku (melayani) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, semboyan orang beriman di Bulan Sya’ban : Berlatih dan Memperbanyak amal.

Jika dua bulan ; Rajab dan Sya’ban kita siapkan sebaik mungkin, maka Ramadhan akan menjadi sangat istimewa. Karena Ramadhan adalah gabungan antara meninggalkan dosa dan hal-hal yang membatalkan Ramadhan dan melakukan amal sebanyak-banyaknya.
Rajab mengajarkan separo yang pertama, sementara Sya’ban mengajarkan separo yang kedua.


Kesimpulan : Apa yang harus dilakukan bagi kita dan keluarga kita untuk menyiapkan diri menghadapi Ramadhan?

Persiapkan ilmu

Rajab: Bulan menahan diri dari dosa
Sya’ban: Bulan melatih diri untuk beramal sebanyak mungkin
Banyak berpuasa di Bulan Sya’ban
Jika tidak mampu berpuasa banyak di Sya’ban, maka puasalah pada al ayyam al bidh (13, 14, 15) Bulan Sya’ban
Sebelum pertengahan Sya’ban pastikan kemusyrikan telah bersih
Sebelum pertengahan Sya’ban pastikan telah terlerai pertengkaran
Segera bayar hutang Ramadhan

Ya Alloh bimbing kami…

sumber : parenting nabawiyah
Read More

Waktu terus Bergulir, Lidah terus Berdzikir



Bismillahirrahmanirrahim,
Selalu ada kebaikan dari Allah di setiap pagi. Seperti hari ini, pagi menyuguhkan berkah hujan yang tercurah dari langitNya, menyejukkan setiap hati untuk mereguk nikmatnya. Berdiri 2 rakaat menghadapkan wajah dan hati hanya kepadaNya, mmengharap rahmat dan kasihNya.

MengingatNya, di setiap pagi, di setiap menit, di setiap detik, bahkan di setiap jantung ini berdegup dan di setiap tarikan nafas. Mensyukuri nikmatnya yang tak pernah berhenti meski kadang terlalaikan untuk di sadari. Astagfirullah, maafkan diri ini ya Allah.

CintaNya tak pernah berhenti, meski lisan ini terlupa menyebut namaNya, KasihNya tak pernah pudar meski beribu-ribu kekhilafan menghiasi diri ini..
:(

maka, benarlah apa yang dikatakan oleh Abu Mu’az Ar-Razi :

Hati cenderung tertarik mencintai yang selalu berbuat baik kepadanya. Heran, bagaimana seseorang tidak mencintai Allah yang tak henti berbuat baik kepadanya.

Maafkanlah diri ini ya Allah atas segala kelemahan diri, atas kecintaan yang berlebihan terhadap dunia ini.

Alhamdulillah, di pagi sabtu yang basah ini, saya rasa ini bukan sebuah kebetulan, tapi inilah cara Allah agar saya lebih rajin lagi berdzikir. Saya menemukan sesuatu yang berharga di antara ribuan blog orang. Sebuah video dzikir yang syahdu. Karena sudah ada yang berbaik hati (jazakallah khairan untuk anda yang sudah menge-share video ini) membagikan kebaikan ini maka saya meneruskan membagikannya untuk semua yang menemukan tulisan ini. Sebuah dzikir syahdu yang mengandung makna dan doa yang sangat mendalam.
Persembahan dari seorang Syeikh Mishary Rasyid :  La illaha Illa Allah (silahkan download di sini)





لا الـه الا الله
Tiada Tuhan Selain Allah
(By: Syeikh Mishary Rasyid)

لا الـه الا الله
Tiada Tuhan Selain Allah (3x)

مالنـا رب ســواه
(MA LANA RABBON SIWAH)
Kami tidak punya Tuhan kecuali Dia

ربنــــــــا رب القلوب ..وهو علام الغيوب
(RABBUNA RABBUL QULUUBI WA HUWA ‘ALLAMAL GHUYUUB)
Wahai Tuhan kami, Tuhan yang mengetahui apa yang ada dalam hati

في الشروق وفي الغروب …نوره يهدي العصاه
(FI SHURUUQI WA FIL GURUUBI NUURUHU YAHDIL ‘USSHAH)
Dari fajar sampai matahari terbenam, cahaya-NYA membimbing orang-orang berdosa
ربنا الهادي الودود

(RABBUNA AL-HADI AL WADUD)
Tuhan kami, Yang Maha Pemberi Petunjuk dan Maha Menyayang

فضله ملىء الوجود
(FADHLUHU MIL’UL WUJUUD)
Keberkahannya meliputi segala sesuatu

عفوه خير وجود
“afuhu khoirun wa juud
Ampunan-NYA baik dan murah hati

فأرتجي دوما رضاه
(FUR TAZII DAWMAN RIDHAAH’)
Maka mintalah selalu ridhonya

ربنـــــا الحي الرقيــــــب 
(ROBBUNA AL HAYYU AR ROQIIBU)
Tuhan kami yang Maha Hidup Maha Mengawasi 

يقبل العبــــد المنــــيب
(YAQBAL-UL ‘ABD AL MUNIIB)
Terimalah taubat hambamu

فهــو رحمـان مجيــب
(FA HUWA ROHMANUN MUJIIBUN)
Sayangi dan kabulkanlah

للـدعاء ومن دعاه
(LI AD-DU’A’I WA MAN DA ‘AAH)
Bagi yang berdoa dan meminta

Semoga bermanfaat bagi semuanya, karena ketika kita mengingat ALLAH maka ALLAH akan mengingat kita.

"Sesungguhnya hati tanpa dzikir seperti ikan tanpa air"


Read More

Teruntuk Ayahanda di HadiratNya


Assalamu'alaykum,
Sebuah surat cinta goreskan untukmu, di hari lahirmu yang jatuh pada hari ini.

Apa kabar, Pa?
Semoga dalam kehidupan yang engkau jalani sekarang selalu ada limpahan cinta dan lindungan yang Maha Dahsyat dari Sang Maha Kasih untukmu.
Pa, di hari lahirmu yang berulang setiap tahun tak ada hal terindah yang kulakukan selain mengirimkan  berjuta-juta lantunan doa untuk kebahagiaanmu di sana.
Lantunan doa yang selalu terhubung untukmu bukan hanya di moment ini namun di setiap sujud malamku, dan tentu saja di setiap "pertemuan"ku dengan Tuhanku, Rabbil Izzati.

Engkau adalah lelaki hebat yang telah Allah pilihkan untuk kami. Dengan cintamu, engkau didik kami dengan penuh harapan agar kami menjadi anak yang baik, sholeh dan sholehah. Dengan kelembutan hatimu, engkau ajarkan kami agar menjadi anak yang berbakti kepada kedua orangtua. Dengan kebaikan hatimu, engkau elus kami dengan lembut ketika kami melakukan kesalahan. Aku bersyukur memiliki ayah seperti papa, karena papa adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepada kami. Terimakasih atas ketulusan dan kebaikan yang telah papa berikan untuk kami selama ini.

Pa, kepergianmu yang sungguh terlalu mendadak bagiku, membuat diri ini lunglai berderai-derai airmata. Bagaimana mungkin? Sehari sebelum engkau pergi, aku masih mendengar suaramu dari ujung telepon. Beberapa hari sebelum engkau pergi pun kita masih bercerita banyak hal.  Bahkan sebulan sebelum kejadian naas itu, kita masih bertemu di kamar kost ku yang kecil itu. Harusnya ku sadar dengan keadaanmu yang kian lama kian lemah saja. Tapi, senyum yang selalu kau beri untukku menepiskan semua ragu bila engkau akan pergi secepat itu. Ya secepat itu bahkan aku belum sempat memberikan sesuatu yang terindah untukmu.

Aku tahu, Allah telah takdirkan perpisahan ini untuk kita. Karena bagiNya inilah yang terbaik. Dalam setiap sujudku, aku memohon agar Allah menempatkan dirimu di syurga Firdaus milikNya. Dan kuyakin kita akan bertemu kembali, In Sya'a Allah di SurgaNya kelak.

Dalam sisa kehidupanku di dunia ini, aku kan mencoba dan berusaha menjadi anak yang baik serta selalu mendoakan kedua orangtuanya. Hingga kita bertemu kembali.


Nias, 23 Maret 2014
Read More

18 Tahun yang Lalu


Assalamu'alaykum..:D

Bismillah. Sebelum memulakan aktivitas tulis-menulis ini saya nak sapa-sapa dulu para pembaca yang budiman. Sudah lama sekali ya tidak bersua di blog ini. Maklumlah saya tengah sibuk mempersiapkan proyek besar yang In sya'a Allah untuk kebaikan (mohon doanya ya). Tapi, saya belum bisa cerita-cerita banyak tentang "proyek besar" itu, kalau sudah rampung saya akan bagi ceritanya untuk saudara-saudara sekalian. Jadi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk para sahabat dan handai taulan yang menanti-nanti tulisan saya (*mudah-mudahan memang ada yang menanti hehe, sekedar mengintip ke blog ini juga udah alhamdulillah deh. hehe).

Saya sudah rindu sekali ingin menulis kembali di blog ini. Kegiatan menulis itu sungguh membuat saya jatuh cinta. Beneran deh. Oh ya, membaca tulisan orang lainpun bisa membuat saya jatuh cinta padanya. HEHE. Jadi berhati-hatilah anda yang tulisannya bagus apalagi kalau tulisannya itu sampai saya beri komentar. Berarti saya sudah mulai menunjukkan rasa CINTA. (Hehe jangan ge'er ya. Saya jatuh cinta pada TULISANNYA bukan pada orang yang MENULISnya. hehe)
Kalau sudah menulis saya akan lupa segalanya termasuk lupa dengan kerisauan saya akan listrik yang padam.  Ternyata di pulau tempat tinggal saya yang terkenal dengan keindahan pantainya (beneran lho  gak bohong, teman saya si anak BALI yang sudah sering menikmati keindahan pantai di pulau BALI ingin mengunjungi pulau saya ini karena pantai di pulau saya gak kalah cantik sama pantai yang ada di BALI ^_^) sudah 2 hari merasakan pemadaman listrik. Sebelumnya pemadaman listrik sering sekali terjadi tapi hanya sekitar 2-3jam saja. Otomatis seluruh masyarakat menjadi risau karena aktivias sehari-hari agak terganggu dengan kondisi ini. Dari informasi yang saya dengar, beberapa hari yang lalu, masyarakat mengadakan demo di kantor PLN gara-gara pemadaman listrik selama berhari-hari. Tapi, sungguh saudara-saudara. Saya berusaha untuk tidak mengeluh akan kondisi ini. Karena masih banyak orang di luar sana yang memiliki masalah yang lebih berat dari kondisi ini. Ya kan? misalnya kondisi saudara-saudaraku di Riau yang tertimpa musibah kabut asap (semoga Allah melindungi mereka termasuk sahabatku Sri Lestari dan keluarga) atau mungkin misteri hilangnya pesawat Malaysia Airlines yang membuat para keluarga risau karena hilangnya pesawat sudah hampir 2 minggu lamanya. Saya yakin semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Mungkin Allah sedang mengajari kami arti dari BERSYUKUR.

Nah, ngomong-ngomong soal lampu padam, karena sudah terlalu sering bahkan hampir menyamai rekor aturan minum obat yang 3 kali sehari, banyak warga di pulau ini yang berbondong-bondong membeli GENSET. (anda pasti tahulah apa itu G-E-N-S-E-T). Hampir setiap rumah memilikinya. Bahkan para pedagang dan pengusaha yang mengandalkan tenaga listrik dalam menjalankan usahanya, menggunakan jasa mesin GENSET ini. Maka, di pulau saya GENSET menjadi primadona, kehadirannya bagaikan SUPERHERO. Tetapi, di balik hadirnya GENSET yang menerangi pulau saya di malam hari, terjadilah sebuah tragedi yang membuat seisi rumah menjadi heboh. Saya yang sedang asyik membaca buku "ORANGTUANYA MANUSIA" buru-buru menutup buku itu dan bersegera mencari kunci motor. Ibu saya yang tengah menikmati makan malamnya segera meninggalkan makanannya begitu saja. Dan kami berdua pun segera meluncur ke TKP.

Apa sebenarnya yang terjadi?

Terjadi kebakaran saudara-saudara!
Dan anda tahu apa yang membuat seisi rumah menjadi heboh terutama ibu saya? Karena lokasi kejadian berdekatan dengan rumah kakak dari ibu saya. Ibu saya langsung panik dan segera menghubungi kakaknya. Detik berlalu. Telpon ibu saya tidak juga diangkat. Ibu saya kian panik. Akhirnya terdengar suara di ujung telpon. Saya yang masih membaca buku mendengar suara di ujung telpon itu sangat panik, suara sirine pemadam kebakaran pun terdengar meraung-raung. "Rumah siapa yang terbakar?" Ibu saya mencoba menanyakan kondisi di sana. Suara di ujung telpon tidak terdengar jelas. Tak lama percakapan di telpon itu selesai.
Ibu saya malah semakin panik setelah menelpon kakaknya. Akhirnya saya memutuskan untuk "Ayo, kita langsung ke TKP" agar tidak terjadi kepanikan yang membuat Ibu saya stress dan saya pun ikut stress melihat ibu saya yang panik.

Singkat cerita, tibalah kami di lokasi kejadian. Begitu banyak orang-orang yang menonton seolah-olah kebakaran itu sebuah tontonan gratis di malam itu. Alhamdulillah rumah kakak ibu saya masih jauh dari lokasi kejadian, berjarak 8 rumah. Saya mencoba mendekati lokasi kejadian. Berusaha lebih dekat agar bisa melihat dan mendapatkan informasi. Api masih berkobar-kobar dan sudah menjalar ke rumah tetangga. Ternyata masih ada anggota keluarga yang terjebak di dalam rumah. Dari informasi yang saya terima, korban adalah seorang anak perempuan  berusia 5 tahun. Sempitnya akses masuk dan kobaran api yang kian besar menyulitkan petugas pemadam kebakaran untuk menyelamatkan korban. Sekitar pukul 22.00 WIB akhirnya petugas kebakaran mampu memadamkan api yang telah melahap 2 rumah. Anak perempuan tersebut berhasil dievakuasi oleh petugas yang dibantu beberapa warga. Namun nyawanya tak terselamatkan. :(
Beliau ketika itu sedang tertidur di kamar yang terletak di lantai 2 rumahnya. Malam itu memang lampu sedang padam. Ayah beliau yang juga memiliki usaha "WARNET" menghidupkan si GENSET yang selama ini adalah SUPERHERO yang menerangi rumah dan usaha beliau. Tapi, entah mengapa si GENSET tiba-tiba meledaaaak!!!! Duuaaaaaar!!!!
Si ayah berusaha menggendong putrinya namun terlepas dari pelukannya karena tiba-tiba ada lemari yang menghantam beliau. Si ayah malah berlari menuju sumber api berupaya memadamkan api, namun api terlanjur membesar. Ia tak sempat menyelamatkan putrinya yang terjebak dalam kobaran api. Ibu dari anak tersebut pun akhirnya pingsan.
Saya sedih mendengar kejadian itu. saya teringat dengan kejadian 18 tahun yang lalu... Ketika itu saya masih duduk di kelas 1 sekolah dasar. Hari itu hari sabtu. Ibu saya hendak pergi menjenguk tetangga kami yang baru saja melahirkan anak ke-4 nya di rumah sakit. Ibu mengajak serta saya dan abang saya, sementara Ayah saya ketika itu hendak pergi kuliah. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 1 siang. Ayah saya yang akan masuk kuliah, harus mengantarkan kami dulu ke rumah sakit. Karena terburu-buru, ibu saya melupakan sesuatu, sesuatu yang nantinya akan menjadi bencana buat kami.
Sesampainya di rumah sakit, saya yang masih kecil ketika itu, langsung bermain-main dengan anak tetangga saya yang sebaya dengan saya. Kami berlari-lari di sepanjang koridor rumah sakit (maklumlah masih anak-anak) hingga akhirnya tak sadar kami sudah terlalu jauh dari ruang inap si Ibu, tetangga saya itu. Saya tak tahu ternyata ibu saya mencari-cari kami. Dengan wajah panik, ibu saya langsung  menggenggam tangan saya dan berkata "Kita harus segera pulang, rumah kita kebakaran". Saya yang masih kecil ketika itu menurut saja, tidak banyak bertanya. Saya hanya berjalan mengikuti ibu, sesekali melihat raut wajahnya yang panik.
Tinggal beberapa meter dari rumah, saya sudah bisa melihat asap hitam yang menebal, membumbung tinggi di angkasa. Asap hitamnya membuat saya ketakutan. Setibanya di gang rumah, saya menyaksikan ramainya orang yang berdiri di depan rumah kami. Beberapa dari mereka memegang ember berisi air dan berusaha memadamkan api.  Saya dan Ibu mencoba menerobos kerumunan orang. Pemandangan yang tampak adalah rumah kami yang mungil yang dibangun dengan jerih payah orangtua saya telah hangus terbakar. Tak jelas lagi, mana pintu dan jendela, mana atap, mana dinding. Semua telah hangus terbakar. Yang tersisanya hanyalah baju di badan.
Saya menangis. Ibu saya terduduk lemas. Ayah saya juga baru pulang pun terdiam.
Saya melihat ada ketegaran di wajah ibu saya. Beliau menangis tapi tidak meraung-raung. Sumber penyebab kebakaran adalah setrika yang lupa dimatikan oleh ibu saya. Orang di sekeliling menyabarkan ibu saya. Ibu saya hanya berkata "Iya, semua sudah takdir dari Allah."
Sungguh ketika itu, keluarga kami sedang diuji oleh Allah. Namun, hadiah dari ujian itu sudah kami terima pula dari Allah.
Kala mengenang kebakaran itu, Ibu saya selalu berkata "Allah memberi ujian untuk kita, tapi sekarang lihatlah apa yang diberikan Allah untuk kita karena kita sabar menghadapi cobaannya."
Saya tersenyum. Allah itu Maha Penyayang. Dulu, Allah ambil sedikit titipanNya dari kami, sekarang Allah beri banyak untuk kami.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. 30 Mei 1996 menjadi saksi betapa sayangnya Allah pada keluarga kami. :)
Terimakasih Allah.

Nias, 22 Maret 2014



Read More

Karena Noda Datang Setiap Hari...



Banyak sekali hikmah disepanjang perjalanan hidup kita, bahkan bila kita cerdas mengamati, setiap detik langkah hidup ini ada saja pelajaran yang mencerdaskan kita dalam memaknai hidup. Inilah yang saya dan beberapa sahabat menyebutnya dengan istilah “belajar di universitas kehidupan”.

Saya menemukan beberapa hikmah ketika melakukan aksi “bersih-bersih” rumah baru. Ya, kala itu kami pindah rumah (maklumlah anak kost, tiap tahun pindah rumah #hehe). Tentulah rumah baru yang akan dihuni, perlu dibersihkan agar penghuni merasa nyaman tinggal di rumah itu. Ketika itu, sahabat saya tengah sibuk mengepel seluruh ruangan. Sebenarnya, mengepel lantai menjadi tugas saya, tapi karena dia melihat saya sudah terkapar kehabisan tenaga, dia dengan ikhlas mengambil alih tugas saya. #baik ya.. ini baru namanya ukhuwah :D. 

Dari kamar, saya mendengar dia mengeluh, “Nodanya gak bisa ilaaang... ”.

“Ya iyalah neng gak ilang, noda di lantai itu udah lama gak dibersihin, jadinya susah...” saya mencoba menjawab. 

“Jadi gimana donk? Ini udah di pel dua kali lho... udah disiram pake air berkali-kali, udah disikat, tapi gak ilang juga...”jawabnya lagi dengan nada hampir pasrah.

Mau sebanyak apapun disiram, mau sekuat apapun disikat gak bakalan hilang, karena noda-noda itu sudah lama melekat di keramik lantai dan lantainya sudah lama tidak dibersihkan sementara noda-noda itu semakin hari semakin banyak sehingga menjadi pekat, pikir saya.

“Ya udah ntar gue yang ngepel pake sabun pembersih lantai” sahut saya menambahkan sambil bangun dari tempat tidur melihat hasil jerih payahnya membersihkan lantai ruang tamu. Terlihat bersih dan beraroma wangi, namun bila diamati masih ada noda-noda hitam di beberapa sudut lantai. Keberadaannya di lantai membuat hati sahabat saya masih belum tenang, seolah noda itu menghantuinya. #haha.

“Sepertinya kita perlu buat piket lagi deh kayak di Pondok An-nahl dulu... Nyapu dan ngepel tiap hari biar lantai rumah tetap bersih” tambah sahabat saya.

Saya setuju saja karena itu memang solusi tepat untuk menjaga kebersihan rumah, jika setiap hari dibersihkan noda-nodanya gak akan mengusik lagi.. :D

Saya membersihkan lantai dengan sabun pembersih lantai yang baru saja saya beli di minimarket terdekat. Pelan-pelan saya teteskan ke lantai dan saya mulai mengepel seluruh area ruang tamu. Alhamdulillah, noda-noda yang mengusik itu menghilang dan akhirnya lantai menjadi bersih.

Saya berfikir, mencoba menganalogikan lantai dengan noda-noda hitam itu sebagai hati. Begini ya susahnya membersihkan hati yang dipenuhi noda-noda dosa... Tidak cukup satu dua macam ibadah untuk menghilangkannya. Konon lagi bila tidak beribadah sama sekali.. Dosa-dosa itu akan semakin melekat dan mengotori seluruh ruang di hati, jadilah hati menjadi mati. Maka hati yang mati itu tidaklah mendapat cahaya hidayah dari Allah. Astaghfirullah :(

Lalu bagaimana caranya agar hati ini menjadi bersih? Ya, hampir sama dengan cara membersihkan lantai ini (eh, bukan pake sabun pembersih lantai lho! #hehe). Dengan terus-menerus membersihkan hati di setiap hari dengan memperbanyak ibadah. Semakin banyak salah dan dosa yang diperbuat, semestinya lebih banyak ibadah dan perbuatan baik yang dilakukan untuk membuat hati menjadi bersih. Karena kata Rasulullah SAW, "ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya.ingatlah ia adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka, mari membersihkan hati setiap hari karena noda datang setiap hari.. :D

Read More

Keping Kisah di 2013





Bertemankan suara-suara kembang api dan meriam bambu yang mengusik, saya mencoba untuk melakukan hal yang lebih bermanfaat dari sekedar membakar uang untuk membeli kembang api atau berkerumun di tengah keramaian orang yang menghabiskan malam demi merayakan pergantian tahun.

Adalah hal yang tidak menjadi “ritual tiap tahun” dalam keluarga kami merayakan pergantian tahun. Ayah saya pernah berpesan bahwa itu adalah hal yang merugi dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Dalam islam tak ada pembenaran merayakan pergantian tahun. 

Saya mencoba mencari aktivitas lain yang lebih berkualitas dan alhamdulillah sahabatku yang jauh di Kandis sana bersedia menemaniku untuk menulis malam ini. Tulisan yang bagus nantinya akan kami muat di blog yang kami kelola bersama. Kami berdua meski terpisah oleh jarak yang cukup jauh mencoba menyatukan hati dalam tulisan dan menghadirkan semangat yang akhir-akhir ini sedang pergi entah kemana. Duh semangat, kemanakah engkau pergi? Ia nyaris hilang. Bukan sekali dua kali merasakan hal ini. Di akhir tahun 2012 dulu sempat kehilangan semangat ketika harapan untuk wisuda di awal tahun 2013 pupus karena beberapa hal yang tak dapat dielakkan. Ketika itu posisi skripsi sudah berpindah ke tangan dosen pendamping II (yang selanjutnya disebut doping). Tapi mungkin Allah berkehendak lain. Mimpi wisuda bareng dengan trio UM belum bisa terwujud.

Awal tahun 2013 saya berusaha menghadirkan semangat kembali untuk terus mengejar mimpi wisuda bulan Mei. Alhamdulillah di Universitas Sumatera Utara masih berlaku wisuda 4 periode setiap tahunnya. Di awal bulan Januari saya berusaha untuk tetap eksis di depan pintu departemen kesehatan lingkungan demi menanti doping tercinta. Hampir tiap hari dari pagi sampai sore. Saat itu memang wajib menghadirkan hati yang sabar dan semangat yang membara karena semua orang tahu bahwa menunggu tanpa kejelasan itu adalah hal yang tidak menyenangkan. Hampir-hampir saya hafal siapa saja dosen yang ada dalam ruangan di setiap harinya, siapa saja mahasiswa yang menunggu dosen di jam-jam tertentu, dan tahu jam berapa ibu-ibu Cleaning Service membersihkan ruangan dosen di pagi dan sore hari, bahkan tak jarang ibu CS menemaniku berbincang sembari menunggu dosen. Sambil tersenyum si ibu berkata “nunggu lagi dek??” Aku pun tersenyum “Iya bu, satu harian belum ketemu”. Duh, seolah menunggu kekasih, tak tenang hati rasanya bila tak bertemu barang sehari. #haha.

Aktivitas ini kulakoni hampir setiap hari, terkadang dibarengi dengan aktivitas lainnya seperti tilawah atau mengisi mentoring di sela-sela penantianku. Namun kadang, mentoring itu bertabrakan jadwalnya dengan jadwal “ngedate” bareng dosen yang akhirnya harus diganti dengan pementor lain. Maaf ya adik-adik :(. Bahkan pernah saya kena marah dosen gara-gara lupa datang setelah janji ketemuan jam 3 sore di kampus. Ketika itu saya sedang sibuk mengikuti sebuah acara memperingati Hari Menutup Aurat yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Islam Ad-dakwah USU. Duh, bakalan kena marah nih. Karena pasalnya sang dosen mencari-cari saya di kampus. Tapi, alhamdulillah Allah masih sayang pada saya. Keesokan harinya sang dosen lupa dengan perkara kemarin. Alhamdulillah, bisikku.

Suka duka membuat skripsi itu sudah saya hadapi sekitar 8 bulan lebih. Di pertengahan 2012 sampai bulan ke empat tahun 2013. Banyak sukanya terlebih lagi dukanya. #hehe. Pernah suatu ketika dipertengahan bulan Maret, selama seminggu saya gak datang ke kampus dan benar-benar tidak menyentuh skripsi sedikitpun. Ada perasaan kesal, kecewa plus sakit hati #eaaa. Mungkin dikarenakan kesabaran yang kurang plus mental yang belum kuat menerima kata-kata yang kurang berkenan dari sang dosen. Sepulang dari konsul itu saya langsung pulang ke kost dan mengunci pintu kamar dari dalam, mematikan lampu kamar. Mengurung diri. Ingin sendiri. Mencoba berdamai dengan hati. Tapi tetap saja hati ini belum mau berdamai. Teman-teman satu kost khawatir dengan keadaan saya. Padahal saya sedang tidak ingin bicara. Hanya ingin sendiri. Tapi itulah ukhuwah. Salah seorang dari akhwat-akhwat itu mencoba mendobrak pintu kamar. Dan alhasil pintu itu terbuka. #tangguh bener ni akhwat. Haha. 

Semenjak itu seminggu lebih saya ingin menghilang dari peredaran kampus, saya mencoba mencari semangat di kegiatan yang lebih bermanfaat. Sungguh, kala itu Allah masih saja menyayangi saya. Dalam kondisi down seperti itu bisa saja saya melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Tapi, Allah malah menuntun langkah saya untuk hadir di Gladi Resik FSLDKD Sumut yang tahun ini diadakan di Universitas Sumatera Utara. Bertemu dengan wajah-wajah saudara seiman sedikit menyembuhkan luka di hati. Apalagi diberi amanah untuk menghandle keberlangsungan acara, suatu hal yang menggembirakan. Saya pun sempat dikerjain oleh “rekan kerja” karena saya (menurut mereka, padahal gak lho) sangat cerewet. #hmm. Yang kemudian disogok dengan segelas es jagung sebagai permintaan maaf. #gak modal hehe. Sedikit demi sediki hati saya mulai bisa berdamai. Toh, di sini benar-benar sibuk (atau mungkin sok sibuk. #hehe) sehingga saya benar-benar melupakan kejadian itu.

Seusai acara itu, saya benar-benar sudah menghimpun semangat-semangat dalam hati saya dan kembali menghadap dosen untuk kelanjutan masa depan skripsi saya. Lagi-lagi, Allah menunjukkan kasih sayangNya. Tanpa banyak kata, dosen langsung berkata “Rahmi, kamu maju minggu depan”. Alhamdulillah Ya Allah. Sidang skripsi yang saya tunggu-tunggu dalam penantian panjang akhirnya di depan mata. Tepat tanggal 6 April saya sidang skripsi dan alhamdulillah ketika itu belum diberlakukan sidang tertutup sehingga sahabat-sahabatku boleh berhadir di ruangan. Kehadiran mereka sungguh menambah semangat bagiku yang tadinya H2C alias harap-harap cemas. Dan tentunya doa dari ibunda, serta teman-teman yang sempat ngsms sebelum sidang berlangsung sungguh berarti.

Di akhir bulan Mei tepatnya tanggal 29 Mei saya bisa wisuda bersama ratusan atau mungkin hampir menyentuh angka ribuan wisudawan di Auditorium USU. Sesekali kupandangi ibunda dan abang yang duduk tidak jauh dari tempat duduk saya, seolah ingin berteriak “Akhirnya saya wisuda”. Kebahagiaan semakin lengkap dengan terwujudnya impian bisa foto di papan bunga UAD. Bila beberapa tahun yang lalu di setiap moment-moment wisuda saya dan sahabat baik saya menyusun nama-nama wisudawan yang ingin berfoto di papan bunga UAD atau sesekali berfoto dengan para senior yang wisuda kala itu bahkan sempat pula berfoto sambil memanjatkan doa ketika milad yang ke 22 di tahun 2012 lalu. Saya dan trio UM pernah berfoto bertiga di depan papan bunga UAD sembari berdoa “Ya Allah kalau tahun ini kami berfoto karena milad maka izinkanlah tahun depan kami berfoto di sini karena wisuda. Amiin.” Hari ini, doa itu diwujudkan oleh Allah yang Maha Pengabul Doa, saya dan sahabat saya yang berdiri tegak dan menatap tukang foto yang berderet mengabadikan moment bahagia ini #edisiseharijadiartis. hehe.

Studi yang sudah dijalani sejak tahun 2008 akhirnya rampung sudah. Begitu banyak hikmah yang Allah berikan dalam keping-keping perjalanan hidup saya selama menuntut ilmu di kota Medan ini. Bukan hanya sekedar kuliah, tapi banyak kejutan-kejutan yang Allah siapkan untuk saya selama merantau di sini. In Sya’a Allah bila Allah memberi waktu, saya ingin bercerita mozaik hidup selama di Medan. 


Saya berpikir bahwa ketika studi ini telah berakhir maka perpisahan pun akan tiba. Yah, berpisah dengan kota hijrahku ini, berpisah dengan sahabat-sahabatku. Karena dimensi waktu sudah berbeda. Kami harus melanjutkan kehidupan masing-masing, mencoba mencari arti kehidupan yang sesungguhnya. Bukankah bila ada pertemuan pasti ada perpisahan? Tak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Ke depan, Allah lah yang menentukan. Di bumi Allah mana saya akan ditempatkan. Sebagus apapun saya mencoba merancang untuk tetap tinggal di kota Medan tapi Allah lah yang berkehendak. 

Diawal Bulan Juni saya memutuskan untuk pulang ke nias dulu, sambil menunggu ijazah keluar. 3 bulan kemudian tepatnya di awal September saya kembali ke Medan untuk mengurus pengambilan ijazah. Kerinduan berkumpul kembali dengan sahabat di kota hijrah saya ini terobati. Saling bertanya ke depannya ada rencana apa? Pertanyaan yang akhirnya dijawab dengan jawaban “Mungkin nikah dulu” jawab kami mencandai adik-adik di kampus yang bertanya. #haha.

Di pertengahan November saya harus kembali ke Nias untuk memenuhi permintaan ibunda mengikuti tes CPNS yang tak pernah ada di hati saya. Tapi, demi membahagiakan Ibunda maka saya mengikuti kemauan beliau. Setelah usai tes CPNS saya untuk kedua kalinya kembali ke Medan karena ada panggilan kerja dari Azzakiyah Islamic Schooling sebagai staf IT dan multimedia. Sebenarnya bergabung di sekolah ini merupakan hal yang saya impikan. Ingin sekali bekerja di lingkungan yang penuh kedisiplinan dan menjunjung akhlak. Dan saya mendapatkannya di sini. Saya juga menyukai pekerjaan di sini karena selain pekerjaannya menuntut harus selalu online dan up date di jejaring sosial (ini gue banget deh) juga di sini saya belajar menjadi seorang psikolog anak (beneran gak bohong). Namun, lagi-lagi Allahlah yang berkehendak. Sekuat apapun saya berupaya namun luluh juga. Saya harus pulang ke Nias. Saya berpikir berulang kali dan juga sempat istikharah, hati saya tak tenang bila harus bekerja di Medan semetara ibu saya belum benar-benar ridho. Akhirnya setelah didera kegalauan yang cukup panjang, saya memutuskan kembali ke Nias di awal bulan Desember.

Sisa waktu di penghujung November, saya isi dengan bersilaturrahim dengan sahabat-sahabat di Medan, adik-adik di kampus, sesekali mengisi acara yang diadakan di fakultas dan menjumpai Murabbiyah yang sudah lama saya tak pernah bersua dengannya. Saya juga menyempatkan diri untuk hadir di Walimahan kak Dina MS di Rantau Prapat. Berbekal tiket kereta api, saya dan tiga orang teman berangkat menuju Rantau Prapat. Ini kali kedua naik kereta api setelah naik kereta api pertama kali dulu di Jakarta. Jadi agak sedikit ndeso. Kok gak ada selt bealtnya?? Hehehe (#edisindeso). Yang lebih ndeso lagi adik-adik yang duduk di depan kami. “Kak sayang ya kita berangkat malam, coba berangkat siang kan bisa da..da..da..da..” sambil melambaikan tangannya ke jendela. #ada yang lebih ndeso ternyata. Hehe. Naik kereta api ternyata lebih menyenangkan dan ketagihan! Jadi pengen naik kereta api dari Jakarta ke Jogja yang katanya 8 jam perjalanan. Kan seru.. hehe. Oh ya, Alhamdulillah di Ranto bisa bertemu lagi dengan sahabat baikku. Meskipun sama-sama menyimpan rindu tapi pas ketemu kok jadi norak ya? #hehe.

Di akhir waktu saya di Medan, sehari sebelum terbang ke Nias saya menyempatkan diri bertemu dengan Murabbiyah saya dulu. Saya tak ingat lagi kapan kami terakhir bertemu (saking lamanya). Sungguh, saya sangat merindukan beliau. Di pagi yang basah, saya menemuinya di tempat kerjanya dan berharap ini bukan kali terakhir pertemuan kami. Dari balik pintu, beliau melambaikan tangannya dan tentu saja senyumnya tetap saja menghangatkan. Belum lagi saya berkata-kata, beliau sudah tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam pikiran saya. Perjumpaan yang hanya sepersekian menit itu menentramkan, membunuh segala keraguan yang sedari rumah saya bawa. “Bersabarlah dinda, semua pasti ada hikmahnya. Siapa tahu Allah sudah siapkan kado terindah untuk pengorbanan adik..”

Alhamdulillah, saya tiba dengan selamat di Pulau Nias setelah delay 1 jam. Saya menghirup udara di tanah kelahiran dengan sedikit perasaan yang berkecamuk. Inilah pilihan yang harus dijalani. Terkadang, saya kehilangan semangat di sini. Seperti malam ini. Saya coba menghadirkan “dia” dengan mengisi waktu-waktu luang saya dengan menulis. Kata sahabat saya, menulis juga aktivitas yang berkualitas paling tidak bisa berdakwah.

Kami, setiap kehilangan semangat mencoba saling menguatkan dan saling menasehati. Saling mengingatkan untuk tilawah 1 juz setiap hari, saling mengingatkan untuk puasa ayammulbith dan ibadah-ibadah lainnya. Tarbiyah dzatiyah demi long life tarbiyah. Kami harus terus istiqomah di manapun berada. Bukan mudah memang, tapi sayang bila harus mundur. Bukankah mendapatkan hidayah dari Allah untuk keluar dari kejahiliyahan adalah sebuah hadiah yang mahal harganya? Ditempa selama 4 tahun di kampus untuk bisa survive di kehidupan yang sesungguhnya. Dan kami baru saja memulainya. Sungguh disayangkan bila harus mundur. Aku teringat dengan sms sahabatku yang lain, ia menyemangati untuk terus move on, jangan terlalu lama berdiam nanti terbakar rasa. Move on lah nikmati segala aktivitas yang dijalani sekarang bersama Allah saja.

Malam ini, saya akhiri dengan sepenggal kisah di tahun 2013. Bila orang-orang di luar sana sibuk menyalakan kembang apinya, saya dan sahabat saya di Kandis sana sedang asyik mengisi malam dengan menulis. Berharap mampu menghadirkan semangat yang telah pergi. 

Lebih baik bersibuk-sibuk dalam kebaikan daripada berlalai-lalai dalam keburukan.

#Nias, akhir 2013, menjawab tantangan sahabat baikku di bumi Kandis, Sri Zhaw.

Read More