Karena Noda Datang Setiap Hari...



Banyak sekali hikmah disepanjang perjalanan hidup kita, bahkan bila kita cerdas mengamati, setiap detik langkah hidup ini ada saja pelajaran yang mencerdaskan kita dalam memaknai hidup. Inilah yang saya dan beberapa sahabat menyebutnya dengan istilah “belajar di universitas kehidupan”.

Saya menemukan beberapa hikmah ketika melakukan aksi “bersih-bersih” rumah baru. Ya, kala itu kami pindah rumah (maklumlah anak kost, tiap tahun pindah rumah #hehe). Tentulah rumah baru yang akan dihuni, perlu dibersihkan agar penghuni merasa nyaman tinggal di rumah itu. Ketika itu, sahabat saya tengah sibuk mengepel seluruh ruangan. Sebenarnya, mengepel lantai menjadi tugas saya, tapi karena dia melihat saya sudah terkapar kehabisan tenaga, dia dengan ikhlas mengambil alih tugas saya. #baik ya.. ini baru namanya ukhuwah :D. 

Dari kamar, saya mendengar dia mengeluh, “Nodanya gak bisa ilaaang... ”.

“Ya iyalah neng gak ilang, noda di lantai itu udah lama gak dibersihin, jadinya susah...” saya mencoba menjawab. 

“Jadi gimana donk? Ini udah di pel dua kali lho... udah disiram pake air berkali-kali, udah disikat, tapi gak ilang juga...”jawabnya lagi dengan nada hampir pasrah.

Mau sebanyak apapun disiram, mau sekuat apapun disikat gak bakalan hilang, karena noda-noda itu sudah lama melekat di keramik lantai dan lantainya sudah lama tidak dibersihkan sementara noda-noda itu semakin hari semakin banyak sehingga menjadi pekat, pikir saya.

“Ya udah ntar gue yang ngepel pake sabun pembersih lantai” sahut saya menambahkan sambil bangun dari tempat tidur melihat hasil jerih payahnya membersihkan lantai ruang tamu. Terlihat bersih dan beraroma wangi, namun bila diamati masih ada noda-noda hitam di beberapa sudut lantai. Keberadaannya di lantai membuat hati sahabat saya masih belum tenang, seolah noda itu menghantuinya. #haha.

“Sepertinya kita perlu buat piket lagi deh kayak di Pondok An-nahl dulu... Nyapu dan ngepel tiap hari biar lantai rumah tetap bersih” tambah sahabat saya.

Saya setuju saja karena itu memang solusi tepat untuk menjaga kebersihan rumah, jika setiap hari dibersihkan noda-nodanya gak akan mengusik lagi.. :D

Saya membersihkan lantai dengan sabun pembersih lantai yang baru saja saya beli di minimarket terdekat. Pelan-pelan saya teteskan ke lantai dan saya mulai mengepel seluruh area ruang tamu. Alhamdulillah, noda-noda yang mengusik itu menghilang dan akhirnya lantai menjadi bersih.

Saya berfikir, mencoba menganalogikan lantai dengan noda-noda hitam itu sebagai hati. Begini ya susahnya membersihkan hati yang dipenuhi noda-noda dosa... Tidak cukup satu dua macam ibadah untuk menghilangkannya. Konon lagi bila tidak beribadah sama sekali.. Dosa-dosa itu akan semakin melekat dan mengotori seluruh ruang di hati, jadilah hati menjadi mati. Maka hati yang mati itu tidaklah mendapat cahaya hidayah dari Allah. Astaghfirullah :(

Lalu bagaimana caranya agar hati ini menjadi bersih? Ya, hampir sama dengan cara membersihkan lantai ini (eh, bukan pake sabun pembersih lantai lho! #hehe). Dengan terus-menerus membersihkan hati di setiap hari dengan memperbanyak ibadah. Semakin banyak salah dan dosa yang diperbuat, semestinya lebih banyak ibadah dan perbuatan baik yang dilakukan untuk membuat hati menjadi bersih. Karena kata Rasulullah SAW, "ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya.ingatlah ia adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka, mari membersihkan hati setiap hari karena noda datang setiap hari.. :D

Read More

Keping Kisah di 2013





Bertemankan suara-suara kembang api dan meriam bambu yang mengusik, saya mencoba untuk melakukan hal yang lebih bermanfaat dari sekedar membakar uang untuk membeli kembang api atau berkerumun di tengah keramaian orang yang menghabiskan malam demi merayakan pergantian tahun.

Adalah hal yang tidak menjadi “ritual tiap tahun” dalam keluarga kami merayakan pergantian tahun. Ayah saya pernah berpesan bahwa itu adalah hal yang merugi dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Dalam islam tak ada pembenaran merayakan pergantian tahun. 

Saya mencoba mencari aktivitas lain yang lebih berkualitas dan alhamdulillah sahabatku yang jauh di Kandis sana bersedia menemaniku untuk menulis malam ini. Tulisan yang bagus nantinya akan kami muat di blog yang kami kelola bersama. Kami berdua meski terpisah oleh jarak yang cukup jauh mencoba menyatukan hati dalam tulisan dan menghadirkan semangat yang akhir-akhir ini sedang pergi entah kemana. Duh semangat, kemanakah engkau pergi? Ia nyaris hilang. Bukan sekali dua kali merasakan hal ini. Di akhir tahun 2012 dulu sempat kehilangan semangat ketika harapan untuk wisuda di awal tahun 2013 pupus karena beberapa hal yang tak dapat dielakkan. Ketika itu posisi skripsi sudah berpindah ke tangan dosen pendamping II (yang selanjutnya disebut doping). Tapi mungkin Allah berkehendak lain. Mimpi wisuda bareng dengan trio UM belum bisa terwujud.

Awal tahun 2013 saya berusaha menghadirkan semangat kembali untuk terus mengejar mimpi wisuda bulan Mei. Alhamdulillah di Universitas Sumatera Utara masih berlaku wisuda 4 periode setiap tahunnya. Di awal bulan Januari saya berusaha untuk tetap eksis di depan pintu departemen kesehatan lingkungan demi menanti doping tercinta. Hampir tiap hari dari pagi sampai sore. Saat itu memang wajib menghadirkan hati yang sabar dan semangat yang membara karena semua orang tahu bahwa menunggu tanpa kejelasan itu adalah hal yang tidak menyenangkan. Hampir-hampir saya hafal siapa saja dosen yang ada dalam ruangan di setiap harinya, siapa saja mahasiswa yang menunggu dosen di jam-jam tertentu, dan tahu jam berapa ibu-ibu Cleaning Service membersihkan ruangan dosen di pagi dan sore hari, bahkan tak jarang ibu CS menemaniku berbincang sembari menunggu dosen. Sambil tersenyum si ibu berkata “nunggu lagi dek??” Aku pun tersenyum “Iya bu, satu harian belum ketemu”. Duh, seolah menunggu kekasih, tak tenang hati rasanya bila tak bertemu barang sehari. #haha.

Aktivitas ini kulakoni hampir setiap hari, terkadang dibarengi dengan aktivitas lainnya seperti tilawah atau mengisi mentoring di sela-sela penantianku. Namun kadang, mentoring itu bertabrakan jadwalnya dengan jadwal “ngedate” bareng dosen yang akhirnya harus diganti dengan pementor lain. Maaf ya adik-adik :(. Bahkan pernah saya kena marah dosen gara-gara lupa datang setelah janji ketemuan jam 3 sore di kampus. Ketika itu saya sedang sibuk mengikuti sebuah acara memperingati Hari Menutup Aurat yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Islam Ad-dakwah USU. Duh, bakalan kena marah nih. Karena pasalnya sang dosen mencari-cari saya di kampus. Tapi, alhamdulillah Allah masih sayang pada saya. Keesokan harinya sang dosen lupa dengan perkara kemarin. Alhamdulillah, bisikku.

Suka duka membuat skripsi itu sudah saya hadapi sekitar 8 bulan lebih. Di pertengahan 2012 sampai bulan ke empat tahun 2013. Banyak sukanya terlebih lagi dukanya. #hehe. Pernah suatu ketika dipertengahan bulan Maret, selama seminggu saya gak datang ke kampus dan benar-benar tidak menyentuh skripsi sedikitpun. Ada perasaan kesal, kecewa plus sakit hati #eaaa. Mungkin dikarenakan kesabaran yang kurang plus mental yang belum kuat menerima kata-kata yang kurang berkenan dari sang dosen. Sepulang dari konsul itu saya langsung pulang ke kost dan mengunci pintu kamar dari dalam, mematikan lampu kamar. Mengurung diri. Ingin sendiri. Mencoba berdamai dengan hati. Tapi tetap saja hati ini belum mau berdamai. Teman-teman satu kost khawatir dengan keadaan saya. Padahal saya sedang tidak ingin bicara. Hanya ingin sendiri. Tapi itulah ukhuwah. Salah seorang dari akhwat-akhwat itu mencoba mendobrak pintu kamar. Dan alhasil pintu itu terbuka. #tangguh bener ni akhwat. Haha. 

Semenjak itu seminggu lebih saya ingin menghilang dari peredaran kampus, saya mencoba mencari semangat di kegiatan yang lebih bermanfaat. Sungguh, kala itu Allah masih saja menyayangi saya. Dalam kondisi down seperti itu bisa saja saya melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Tapi, Allah malah menuntun langkah saya untuk hadir di Gladi Resik FSLDKD Sumut yang tahun ini diadakan di Universitas Sumatera Utara. Bertemu dengan wajah-wajah saudara seiman sedikit menyembuhkan luka di hati. Apalagi diberi amanah untuk menghandle keberlangsungan acara, suatu hal yang menggembirakan. Saya pun sempat dikerjain oleh “rekan kerja” karena saya (menurut mereka, padahal gak lho) sangat cerewet. #hmm. Yang kemudian disogok dengan segelas es jagung sebagai permintaan maaf. #gak modal hehe. Sedikit demi sediki hati saya mulai bisa berdamai. Toh, di sini benar-benar sibuk (atau mungkin sok sibuk. #hehe) sehingga saya benar-benar melupakan kejadian itu.

Seusai acara itu, saya benar-benar sudah menghimpun semangat-semangat dalam hati saya dan kembali menghadap dosen untuk kelanjutan masa depan skripsi saya. Lagi-lagi, Allah menunjukkan kasih sayangNya. Tanpa banyak kata, dosen langsung berkata “Rahmi, kamu maju minggu depan”. Alhamdulillah Ya Allah. Sidang skripsi yang saya tunggu-tunggu dalam penantian panjang akhirnya di depan mata. Tepat tanggal 6 April saya sidang skripsi dan alhamdulillah ketika itu belum diberlakukan sidang tertutup sehingga sahabat-sahabatku boleh berhadir di ruangan. Kehadiran mereka sungguh menambah semangat bagiku yang tadinya H2C alias harap-harap cemas. Dan tentunya doa dari ibunda, serta teman-teman yang sempat ngsms sebelum sidang berlangsung sungguh berarti.

Di akhir bulan Mei tepatnya tanggal 29 Mei saya bisa wisuda bersama ratusan atau mungkin hampir menyentuh angka ribuan wisudawan di Auditorium USU. Sesekali kupandangi ibunda dan abang yang duduk tidak jauh dari tempat duduk saya, seolah ingin berteriak “Akhirnya saya wisuda”. Kebahagiaan semakin lengkap dengan terwujudnya impian bisa foto di papan bunga UAD. Bila beberapa tahun yang lalu di setiap moment-moment wisuda saya dan sahabat baik saya menyusun nama-nama wisudawan yang ingin berfoto di papan bunga UAD atau sesekali berfoto dengan para senior yang wisuda kala itu bahkan sempat pula berfoto sambil memanjatkan doa ketika milad yang ke 22 di tahun 2012 lalu. Saya dan trio UM pernah berfoto bertiga di depan papan bunga UAD sembari berdoa “Ya Allah kalau tahun ini kami berfoto karena milad maka izinkanlah tahun depan kami berfoto di sini karena wisuda. Amiin.” Hari ini, doa itu diwujudkan oleh Allah yang Maha Pengabul Doa, saya dan sahabat saya yang berdiri tegak dan menatap tukang foto yang berderet mengabadikan moment bahagia ini #edisiseharijadiartis. hehe.

Studi yang sudah dijalani sejak tahun 2008 akhirnya rampung sudah. Begitu banyak hikmah yang Allah berikan dalam keping-keping perjalanan hidup saya selama menuntut ilmu di kota Medan ini. Bukan hanya sekedar kuliah, tapi banyak kejutan-kejutan yang Allah siapkan untuk saya selama merantau di sini. In Sya’a Allah bila Allah memberi waktu, saya ingin bercerita mozaik hidup selama di Medan. 


Saya berpikir bahwa ketika studi ini telah berakhir maka perpisahan pun akan tiba. Yah, berpisah dengan kota hijrahku ini, berpisah dengan sahabat-sahabatku. Karena dimensi waktu sudah berbeda. Kami harus melanjutkan kehidupan masing-masing, mencoba mencari arti kehidupan yang sesungguhnya. Bukankah bila ada pertemuan pasti ada perpisahan? Tak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Ke depan, Allah lah yang menentukan. Di bumi Allah mana saya akan ditempatkan. Sebagus apapun saya mencoba merancang untuk tetap tinggal di kota Medan tapi Allah lah yang berkehendak. 

Diawal Bulan Juni saya memutuskan untuk pulang ke nias dulu, sambil menunggu ijazah keluar. 3 bulan kemudian tepatnya di awal September saya kembali ke Medan untuk mengurus pengambilan ijazah. Kerinduan berkumpul kembali dengan sahabat di kota hijrah saya ini terobati. Saling bertanya ke depannya ada rencana apa? Pertanyaan yang akhirnya dijawab dengan jawaban “Mungkin nikah dulu” jawab kami mencandai adik-adik di kampus yang bertanya. #haha.

Di pertengahan November saya harus kembali ke Nias untuk memenuhi permintaan ibunda mengikuti tes CPNS yang tak pernah ada di hati saya. Tapi, demi membahagiakan Ibunda maka saya mengikuti kemauan beliau. Setelah usai tes CPNS saya untuk kedua kalinya kembali ke Medan karena ada panggilan kerja dari Azzakiyah Islamic Schooling sebagai staf IT dan multimedia. Sebenarnya bergabung di sekolah ini merupakan hal yang saya impikan. Ingin sekali bekerja di lingkungan yang penuh kedisiplinan dan menjunjung akhlak. Dan saya mendapatkannya di sini. Saya juga menyukai pekerjaan di sini karena selain pekerjaannya menuntut harus selalu online dan up date di jejaring sosial (ini gue banget deh) juga di sini saya belajar menjadi seorang psikolog anak (beneran gak bohong). Namun, lagi-lagi Allahlah yang berkehendak. Sekuat apapun saya berupaya namun luluh juga. Saya harus pulang ke Nias. Saya berpikir berulang kali dan juga sempat istikharah, hati saya tak tenang bila harus bekerja di Medan semetara ibu saya belum benar-benar ridho. Akhirnya setelah didera kegalauan yang cukup panjang, saya memutuskan kembali ke Nias di awal bulan Desember.

Sisa waktu di penghujung November, saya isi dengan bersilaturrahim dengan sahabat-sahabat di Medan, adik-adik di kampus, sesekali mengisi acara yang diadakan di fakultas dan menjumpai Murabbiyah yang sudah lama saya tak pernah bersua dengannya. Saya juga menyempatkan diri untuk hadir di Walimahan kak Dina MS di Rantau Prapat. Berbekal tiket kereta api, saya dan tiga orang teman berangkat menuju Rantau Prapat. Ini kali kedua naik kereta api setelah naik kereta api pertama kali dulu di Jakarta. Jadi agak sedikit ndeso. Kok gak ada selt bealtnya?? Hehehe (#edisindeso). Yang lebih ndeso lagi adik-adik yang duduk di depan kami. “Kak sayang ya kita berangkat malam, coba berangkat siang kan bisa da..da..da..da..” sambil melambaikan tangannya ke jendela. #ada yang lebih ndeso ternyata. Hehe. Naik kereta api ternyata lebih menyenangkan dan ketagihan! Jadi pengen naik kereta api dari Jakarta ke Jogja yang katanya 8 jam perjalanan. Kan seru.. hehe. Oh ya, Alhamdulillah di Ranto bisa bertemu lagi dengan sahabat baikku. Meskipun sama-sama menyimpan rindu tapi pas ketemu kok jadi norak ya? #hehe.

Di akhir waktu saya di Medan, sehari sebelum terbang ke Nias saya menyempatkan diri bertemu dengan Murabbiyah saya dulu. Saya tak ingat lagi kapan kami terakhir bertemu (saking lamanya). Sungguh, saya sangat merindukan beliau. Di pagi yang basah, saya menemuinya di tempat kerjanya dan berharap ini bukan kali terakhir pertemuan kami. Dari balik pintu, beliau melambaikan tangannya dan tentu saja senyumnya tetap saja menghangatkan. Belum lagi saya berkata-kata, beliau sudah tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam pikiran saya. Perjumpaan yang hanya sepersekian menit itu menentramkan, membunuh segala keraguan yang sedari rumah saya bawa. “Bersabarlah dinda, semua pasti ada hikmahnya. Siapa tahu Allah sudah siapkan kado terindah untuk pengorbanan adik..”

Alhamdulillah, saya tiba dengan selamat di Pulau Nias setelah delay 1 jam. Saya menghirup udara di tanah kelahiran dengan sedikit perasaan yang berkecamuk. Inilah pilihan yang harus dijalani. Terkadang, saya kehilangan semangat di sini. Seperti malam ini. Saya coba menghadirkan “dia” dengan mengisi waktu-waktu luang saya dengan menulis. Kata sahabat saya, menulis juga aktivitas yang berkualitas paling tidak bisa berdakwah.

Kami, setiap kehilangan semangat mencoba saling menguatkan dan saling menasehati. Saling mengingatkan untuk tilawah 1 juz setiap hari, saling mengingatkan untuk puasa ayammulbith dan ibadah-ibadah lainnya. Tarbiyah dzatiyah demi long life tarbiyah. Kami harus terus istiqomah di manapun berada. Bukan mudah memang, tapi sayang bila harus mundur. Bukankah mendapatkan hidayah dari Allah untuk keluar dari kejahiliyahan adalah sebuah hadiah yang mahal harganya? Ditempa selama 4 tahun di kampus untuk bisa survive di kehidupan yang sesungguhnya. Dan kami baru saja memulainya. Sungguh disayangkan bila harus mundur. Aku teringat dengan sms sahabatku yang lain, ia menyemangati untuk terus move on, jangan terlalu lama berdiam nanti terbakar rasa. Move on lah nikmati segala aktivitas yang dijalani sekarang bersama Allah saja.

Malam ini, saya akhiri dengan sepenggal kisah di tahun 2013. Bila orang-orang di luar sana sibuk menyalakan kembang apinya, saya dan sahabat saya di Kandis sana sedang asyik mengisi malam dengan menulis. Berharap mampu menghadirkan semangat yang telah pergi. 

Lebih baik bersibuk-sibuk dalam kebaikan daripada berlalai-lalai dalam keburukan.

#Nias, akhir 2013, menjawab tantangan sahabat baikku di bumi Kandis, Sri Zhaw.

Read More

Menulis, dari Makna hingga Daya (Repost)





oleh Salim A. Fillah dalam Rajutan Makna. 04/11/2012

kata-kata kita menjelma boneka lilin

saat kita mati untuk memperjuangkannya

kala itulah ruh kan merambahnya

dan kalimat-kalimat itupun hidup selamanya

-Sayyid Quthb-

Menulis adalah mengikat jejak pemahaman. Akal kita sebagai karunia Allah ‘Azza wa Jalla, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data. Tetapi kita kadang kesulitan memanggil apa yang telah tersimpan lama. Ilmu masa lalu itu berkeliaran dan bersembunyi di jalur rumit otak. Maka menulis adalah menyusun kata kunci untuk membuka khazanah akal; sekata menunjukkan sealinea, satu kalimat untuk satu bab, sebuah paragraf mewakili berrangkai kitab. Demikianlah kita fahami kalimat indah Imam Asy-Syafi’i; ilmu adalah binatang buruan, dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya.


Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman. Kita lalui usia dengan memohon ditambah ilmu dan dikaruniai pengertian; maka adakah kemajuan?Itu boleh kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam lembaran; kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan. Jika tulisan kita tiga bulan lalu telah bisa kita tertawai; maka terbaca adanya kemajuan. Jika anggitan setahun lewat masih terkagumi juga; itu menyedihkan.

Lebih lanjut; menulis adalah mengujikan pemahaman kepada khalayak; yang dari berbagai sisi bisa memberi penyaksamaan dan penilaian. Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam seminar dan sarasehan. Tetapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan. Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, dan membetulkan kekeliruan.

Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia berbalas tambahan pengertian; makin bening, makin luas, kian dalam, dan kian tajam.Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu dan ruang. Ia tak dipupus masa dan usia, ia tak terhalang ruang dan jarak. Adagium Latin itu tak terlalu salah; Verba Volant, Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis kan adi mengabadi. Tetapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai. Apakah kemaslahatan yang kita lungsurkan, atau justru kerusakan.

Andaikan benar bahwa II Principe yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran seperti terisyu tentang Napoleon, Hitler, dan Stalin; akankah dia bertanggung jawab atas berbagai kezaliman yang terilham bukunya? Sebab bukan hanya pahala yang bersifat ‘jariyah’; melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan. Mungkin tak separah II Principe; tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berrantai-rantai.

Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma dzarrah kebajikan; percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba. Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika catatan amal diserahkan, “Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak ini?” Moga kelak dijawab-Nya, “Ya, amalmu sedikit, dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan yang kautebarkan.” Tulisan shahih dan mushlih; jadi jaring yang melintas segala batas; menjerat pahala orang terilham, tanpa mengurangi ganjaran si bersangkutan.

Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluk pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, dan ayat pertama berbunyi “Baca!” Tersebut dalam hadis riwayat Imam Ahmad dan ditegaskan Ibnu Taimiyah dalamFatawa, “Makhluk pertama yang dicipta-Nya ialah pena, lalu Dia berfirman, “Tulislah!” Tanya Pena, “Apa yang kutulis, wahai Rabbi?” Maka Allah titahkan, “Tulislah segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluk-Ku sejak awal zaman hingga akhir waktu.”

Demikianpun ilmu yang diajarkan pada Adam hingga membuat dia unggul atas malaikat yang diperintahkan bersujud padanya adalah bahasa; adalah kosa kata; adalah nama-nama (QS Al-Baqarah [2} ayat 31).

Dan “Baca!”; adalah wahyu pertama. Bangsa Arab dahulu mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca. Sebab, menulis—kata mereka—hanyalah alat bantu bagi yang hafalannya di bawah rata-rata. Namun begitu ayat itu nuzul di Bukit Cahaya, hanya dalam 2 dasawarsa, para penggembala kambing dan penunggang unta itu meloncat ke ufuk, menjadi guru bagi semesta.

Muhammad, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hadir bukan dengan mukjizat yang membelalakkan. Dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut ‘Al Quran’, yang bermakna 'bacaan'. Maka Islam menjelma diri menjadi peradaban ilmiah, dengan pena sebagai pilarnya; hingga berbagai wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke segenap penjuru bumi.

Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita. Sungguh, sesusun kalimat dapat menggugah jiwa manusia dan mengubah arah laju dunia.Maka bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami; tak tersia, tak jadi tragika, dan tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan? Saya mencermati setidaknya ada tiga kekuatan yang harus dimiliki seorang penulis menggugah; Daya Ketuk, Daya Isi, dan Daya Memahamkan.

Daya Ketuk
Daya ketuk ini yang paling berat dibahas. Yang mericau ini pun masih jauh darinya dan tertatih belajar merengkuhnya. Ia masalah hati; terkait niat dan keikhlasan. Tapi pertama-tama, marilah kita jawab ketiga pertanyaan ini: 1) Mengapa saya harus menulis? 2) Mengapa hal ini harus ditulis? 3) Mengapa harus saya yang menuliskannya?


Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 soalan ini, menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati berrupa-rupa tantangan menulis.Alasan kuat tentang diri, tema, dan akibat dunia-akhirat yang akan kita tanggung jika ia tak ditulis; akan menggairahkan, menguatkan, dan menekunkan. Keterlibatan hati dan jiwa dengan niat menyala itulah yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca; mengetuk, menyentuh, menggerakkan.

Tetapi, tak cukup hanya hati bergairah dan semangat menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di nurani pembaca. Menulis memerlukan kata yang agung dan berat itu; IKHLAS. Kemurnian. Harap dan takut yang hanya pada-Nya. Cinta terhadap kebenaran di atas segala-galanya.

Allah menggambarkan keikhlasan sejati bagaikan susu; terancam kotoran dan darah, tapi terupayakan. Ia murni, bergizi, mengandung tenaga inti. Ia mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat dan bertakwa (Q.s. an-Nahl [16] ayat 66). Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah dan tak mudah, ada goda kotoran dan darah, ada rayuan kekayaan dan kemasyhuran, ada jebakan riya’ dan sum’ah.

Jika ia berhasil dilampaui; jadilah tulisan, ucapan dan perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci. Sebaliknya; penulis tak ikhlas itu; tulisannya bagai susu dicampur kotoran dan darah, racun dan limbah; lalu disajikan pada pembaca. Ya Rabbi; ampuni bengkoknya niat dalam hati, ampuni bocornya syahwat itu dan ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis dan berbagi.

Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan 2 hal: a) pembaca muak, mual, dan muntah bahkan saat baru mengamati awalnya. Atau lebih parah: b) pembaca begitu rakus melahap tulisan kita; tapi yang tumbuh di tubuhnya justru penyakit-penyakit berbahaya. Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian; agar Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketakwaan. Itulah daya ketuk sejati.

Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca; bukan didapat dari wudhu dan shalat yang dilakukan semata karena niat menoreh kata. Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan Dzat Mahaperkasa, semuanya, bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa. Lalu menulis itu sekadar satu dari berbagai pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya; menggenapi semua keshalihan yang mengemuka.

Daya Isi

Setelah daya ketuk, penulis sejati harus ber-Daya Isi. Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung harus berbuat apa. Daya Ketuk memang membuat pembaca terinsyaf dan tergugah. Tapi jika isi yang kemudian dilahap ternyata cacat, timpang, dan rusak; jadilah masalah baru.


Daya Isi adalah soal ilmu. Mahfuzhat Arab itu sungguh benar; “Fakidusy syai’, laa yu’thi: yang tak punya, takkan dapat memberi”. Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu dan berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Semuanya sebagai mujahadah tanpa henti.

Dia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati apa yang memancar dari hidup Rasul-Nya; dan membawakan makna ke alam tinggalnya. Dia pahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; terus mencoba mencerahkan akal dan hati.

Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses penghayatan dan internalisasi. Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kepahaman latar belakang dan kedalaman tafsir. Dengan internalisasi itu; semua data dan telaah yang disajikan jadi matang dan lezat dikunyah. Pembacanya mengasup ramuan bergizi dengan amat berselera hati.

Sebab konon ‘tak ada yang baru di bawah matahari’; tugas penulis mungkin memang hanya meramu hal-hal lama agar segar kembali. Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat satu masalah dari banyak sisi. Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak. Maka penulis sejati lihai menghubungkan titik temu aneka ilmu dengan pemaknaan segar dan baru, dengan tetap berpegang pada kaidah shahih dan tertentu.

Dia hubungkan makna yang kaya; fikih dan tarikh; dalil dan kisah; teks dan konteks; fakta dan sastra; penelitian ilmiah dan kecenderungan insaniyah. Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggal. Tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus dan terus mencari. Dia membawakan pemaknaan penuh warna; beda bagi masing-masing pembaca; beda pula bagi pembaca yang sama di saat lainnya. Tulisannya membaru dan mengilhami selalu. Maka karyanya melahirkan karya; syarah dan penjelasan, catatan tepi dan catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, dan bahkan bantahan.

Daya Memahamkan

Seorang penulis menggugah memulai daya memahamkan-nya dengan satu pengakuan jujur; dia bukanlah yang terpandai di antara manusia. Sang penulis sejati juga memahami; banyak di antara pembacanya yang jauh lebih berilmu dan berwawasan dibandingkan dirinya sendiri. Maka dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih dibanding pembaca: “Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah agar kuberitahu.”




Setiap tulisan dan buku yang disusun dengan sikap jiwa penulis “Aku tahu! Kamu tak tahu!” pasti berat dan membuat penat. Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang pendidikan tak sengaja melahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih tahu. Sungguh, sikap jiwa seorang penulis harus diubah; dari “Aku tahu! Kamu tak tahu!” menjadi suatu rasa yang lebih adil, haus ilmu, dan rendah hati.

Penulis sejati mengukirkan semboyan, “Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kautahu.”Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi. Penulis sejati berhasrat untuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kekeliruannya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya. Penulis sejati menjadikan dirinya seakan murid yang mengajukan hasil karangan pada gurunya. Maka berribu pembaca menjadi pengajar baginya, berjuta ilmu akan menyapanya.

Inilah yang menjadikan tulisan akrab dan lezat disantap; pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu, dan rendah hati.

Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan yang beribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami. Lebih parahnya; keinginan untuk tampil lebih pandai dan tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet dan jemari terhenti. Jika lolos tertulis; ianya menjadi kegenitan intelektual; inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat mual.

Kesantunan Allah menjadi pelajaran bagi kita. Rasul-Nya menegaskan keindahan surga itu belum pernah ada mata yang melihatnya, telinga yang mendengarnya, dan angan yang membayangkannya. Tetapi dalam firman-Nya, Dia menjelaskan dengan paparan yang mudah dihayati. Dia gambarkan surga dalam paparan yang mudah dicerna akal manusia; taman hijau, sungai mengalir, naungan rindang, bebuahan dekat, duduk bertelekan di atas dipan, dipakaikan sutra halus dan tebal, pelayan hilir mudik siap sedia, bidadari cantik bermata jeli.

Inilah Allah yang Mahatahu, Dia tak bersombong dengan ilmu. Bahkan Dia kenalkan diri-Nya bukan sebagai “Ilah” di awal-awal, melainkan sebagai “Rabb” yang lebih dikenal.

Penulis sejati menghayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicaralah dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka.Penulis sejati memahami; dalam keterbatasan ilmu yang dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang bersahaja. Itu pun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, dan tambahan data.

Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya memahamkan hakikatnya berhulu di sini. Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan dia pun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata. Begitulah daya memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu, dan rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan dengan tekad bulat untuk menjadi orang pertama yang mengamalkan tulisan, dan berbagi pada pembaca dengan hangat, akrab, serta penuh cinta.

Kali ini, tercukup sekian bincang kita tentang menulis. Maafkan tak melangkah ke hal-hal yang bersifat teknis, sebab banyak yang lebih ahli tentangnya. Semoga kita lalu tahu; menulis bukanlah profesi tunggal dan mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup seorang mukmin untuk menebar cahaya pada dunia. Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus sarana bagi si mukmin untuk menguatkan iman, amal shalih, dan saling menasehati. Jika ada amal lain yang lebih utama dan lebih kuat dampaknya dalam ketiga perkara itu; maka kita tak boleh ragu; tinggalkan menulis untuk menujunya.

http://salimafillah.com/
Read More

Surat Cinta dari sang Mutarabbi




Selalu ada saja cara Allah menghadiahkan hidayah pada hambaNya.. 
Suatu ketika, aku menghadiri suatu kegiatan yang terlahir dari ide kreatif adik-adik tersayangku di Lembaga MAI alias Mentoring Agama Islam salah satu lembaga di Unit Kegiatan Mahasiswa Islam di kampus FKM yang diberi nama TORAJA. Dari namanya terasa berada di pulau Sulawesi yaa? Hehe. Tapi tenang dulu.. ini bukan acara adat atau sejenisnya. TORAJA singkatan dari menTORing Akbar lanJutAn. Acara luar biasa unik dan memang dikemas dengan sangat baik. Mulai dari materi, pemateri, sampai lomba yang diadakan juga cukup menguras airmata.

Lombanya sederhana memang. Lomba menulis surat cinta untuk kakak mentor. Tapi jangan tanya hasilnya... Masya Allah, luarbiasa...!! saya secara pribadi memberikan standing uplause sekaligus bersyukur kepada Allah karena telah menghadirkan adik-adikku stambuk 2011 di FKM ini. Kehadiran mereka sebagai tongkat estafet dakwah di FKM adalah sesuatu yang membahagiakan hatiku. Karunia Allah yang tak henti-hentinya aku syukuri.

Aku dan kedua lebah lainnya (winni_sri.red) diundang sebagai juri dalam acara ini. awalnya aku menolak, karena aku merasa tidak punya kemampuan sebagai juri. Tapi, setelah berdiskusi panjang lebar bahkan sempat pula di foto sama panitia *hehe, panitianya usil. Akhirnya kami memberi penilaian berupa skor. Jadi, masing-masing surat dibaca satu per satu, dan dinilai dari segi isi, tulisan, penampilan dan lain-lain yang berkenaan dengan itu.
Satu per satu kami membaca surat itu.. ada yang lucu, ada yang mengharukan, bahkan membuatku meneteskan airmata. *tissu mana tissuuu...

Pada sebuah surat aku terhenti. Kupandangi 1 surat yang terdiri dari 2 lembar kertas HVS itu. Awalnya aku tak tahu  siapa yang menulis surat itu, karena memang tidak ada nama penulisnya. Suratnya membuatku terenyuh. Subhanallah.. Allah punya banyak cara memberikan hidayah pada hamba yang dicintaiNya...
Surat ini benar-benar surat cinta dari seorang pecinta kebaikan, sang perindu kebaikan...
semoga Allah selalu mencintainya.

Medan, 6 April 2013
Assalamu'alaikum wr. wb
Kepada pementorku tersayang...
Semoga engkau selalu berada dalam lindunganNya. Izinkan aku, adik mentormu mengungkapkan sedikit perasaanku lewat kata-kata yang mungkin bagimu tidak berarti apa-apa, namun bagiku ini sungguh berharga.

Aku mengenalmu secara tak sengaja dan tak pernah kusadari sebelumnya. Tapi kehendak Allah ternyata tak bisa di duga dan ternyata lebih indah karena Dia memang tahu yang terbaik untuk makhluk-Nya. Kau dan aku, kita dipertemukan dalam sebuah lingkaran ini. Lingkaran yang selalu kunanti di setiap minggunya, lingkaran yang selalu kutunggu kehadirannya. Lingkaran indah yang bernama "mentoring"

Bersamamu, kau kenalkan aku dengan sesama teman yang ingin bergabung dalam lingkaran ini, yang sebelumnya tak pernah ku kenal dan sekarang bahkan lebih dari sekedar kenal. Terimakasih telah mendekatkan kami...

Bersamamu, kau kenalkan aku kembali tentang Allah dan rasul yang sebelumnya sempat terlupa, setelah aku terlalu sibuk dengan urusan duniaku sendiri. Terimakasih telah mengingatkanku...

Bersamamu, kau ajarkan aku kembali tentang islam sehingga membuatku semakin penasaran dan ingin terus belajar dan belajar tentang islam lagi sehingga aku bisa terus memperbaiki ibadahku...

Bersamamu, kau kuatkan aku di saat kau memberikan waktu untuk bercerita semua masalahku dan kau berikan solusi yang menyejukkan hatiku...

Duhai pementorku yang selalu kurindukan,
maafkan jika aku tak sengaja mengecewakanmu
mengatakan diriku sibuk ketika kau ajak untuk berkumpul
meminta izin pulang cepat ketika mentoring kita sedang berlangsung
atau sama sekali tidak memberi kabar dan tidak membalas smsmu atau tidak mengangkat telponmu...

Tapi inilah aku,
Adik mentormu yang nakal tapi sebenarnya selalu ingin diperhatikan
adik mentormu yang masih malas beribadah tapi sebenarnya ingin sesoleha dirimu, ingin hafalannya bisa banyak sepertimu...
dan adik mentormu yang berharap bisa sepertimu dan menggantikanmu.
Jadi, tolong tetaplah bersabar menantiku hingga akhirnya kau berkata
"Selamat jadi pementor ya dek.."

Oh pementorku, semoga Allah yang membalas semua ketulusanmu...

Wassalam
adik mentormu :)

Berderai airmataku membacanya.
Betapa berharganya duduk melingkar itu.
bukan sekedar duduk dan berbincang, tapi ada energi positif yang menyentuh dan mengetuk setiap dinding jiwa yang hadir. mengelus dengan lembut, perlahan, menghapus bintik-bintik noda yang berkarat di hati, menggantinya dengan cahaya hidayah. Ya, cahaya yang perlahan menghantarkan pemilik jiwa pada hakikat hidayah yang sebenarnya.

surat cinta ini benar-benar menyadarkan bahwa menjadi pementor itu butuh kesabaran ekstra, sangat ekstra. Bilalah sang adik mentee tak pernah hadir, bilalah sang adik mentee tak pernah membalas sms, bahkan tak pernah mengangkat telpon tak benarlah bila langsung berspekulasi bahwa mereka tak butuh mentoring ini, tak suka mentoring ini... 
tapi mungkin mereka sedang berperang dengan hatinya... berikan mereka waktu, berikan mereka perhatianmu. Berikan mereka sedikit waktu walau hanya sekedar duduk-duduk di taman USU sambil memakan ice cream yang kau beli. Berikanlah mereka waktu untuk curhat tentang apa yang ada dalam benaknya mengenai mentoring ini. Berikanlah mereka waktu untuk berkeliling kota Medan ini dan berfoto bersama mereka agar mereka tak merasa mentoring ini adalah sebuah pengekangan terhadap jiwa muda mereka. Itulah sebenarnya yang mereka butuhkan. Karena hidayah datang bukan karena dipaksa. Tapi karena kelembutan hati menerimanya.

Sekarang, penulis surat cinta ini telah menjadi seorang pementor. dan bolehkan aku sekarang berkata, 
"Selamat jadi pementor, adinda...:* Terimakasih atas surat cintamu yang indah ini. Semoga ia selalu menjadi penyemangat untukku. Dan semoga kita selalu istiqomah di Jalan ini."

Salam mahabbah dariku untukmu, adinda Ratna Juwita Sari..

Read More

Melerai rindu di kampung halaman ayah




Aku yang sedang di ufuk rindu, mencoba mencari hadirmu di sini.. di tanah kelahiranmu, ayah.

Di siang hari yang terik diiringi lagu yang diputar oleh tetangga depan rumahku, lagu yang seolah-olah menjadi backsound tulisanku kali ini...

"takkan pernah ada yang lain di sisi, segenap jiwa hanya untukmu, dan takkan mungkin ada yang lain di sisi, kuingin kau disini, tepiskan sepiku bersamamu... hingga akhir waktu.. "

untuk kali ini lagu yang diputarnya sedikit bersahabat di telinga tidak seperti kemarin-kemarin, mengganggu ketenangan batin siapa saja yang mendengarnya.. :D

Beberapa hari yang lalu, aku melakukan perjalanan yang tak terencana sebelumnya. Mungkin inilah rahasia Allah padaku yang sedang di ufuk rindu. Untuk beberapa hari aku menginap di kampung halaman ayah. Sebuah desa yang sangat tentram jauh dari hiruk pikuk kota yang memusingkan, dan juga benar-benar jauh dari yang namanya dunia sms-an, dunia facebookan *haha karena di sini sinyal benar-benar lenyap.

3 hari hari di desa ayah yang terletak cukup jauh dari kota tingggalku, sekitar 14 km, kira-kira 2 jam perjalanan. Dulu, waktu jalannya masih rusak, perjalanan memakan waktu lebih banyak lagi, karena di setiap jembatan yang dilewati harus turun, di setiap jalan berlubang harus pelan-pelan, dan pernah hampir terjatuh *hehe. Kalau sekarang, alhamdulillah sudah lebih baik, ya bisa kukatakan lebih baik dibandingkan desa tempat aku PBL dulu.

Terlepas dari itu semua, ada kebahagiaan dalam hatiku karena punya kesempatan untuk tinggal beberapa hari di sini. Ketenangan desa ini membuatku benar-benar merenung, benar-benar merenung. Sudah sejauh mana aku berjuang untuk hidupku seperti perjuangan ayah semasa hidupnya.
Kubandingkan kehidupan yang kujalani selama ini dengan kehidupan di desa ini. Ayahku terlahir di desa yang minim fasilitas, di sini yang ada cuma sekolah SD, anak-anak yang duduk di bangku sekolah menengah harus menempuh perjalanan jauh dengan sepeda ke kecamatan. Di sini, gak ada rumah sakit, yang ada puskesmas pembantu saja. Gak ada minimarket, yang ada hanya warung kecil yang harga dagangannya lebih mahal dibandingkan di kota. Dan tentu saja di sini terisolir dari dunia maya.. hehe. Walau begitu, ayahku tetap menjadi orang sukses walau terlahir dengan kondisi kampung halaman seperti ini. Lalu bagaimana denganku yang memiliki banyak fasilitas? Aku belum benar-benar berjuang.

Selama 3 hari, aku tinggal di rumah saudara laki-laki ayahku, aku memanggilnya pak tanga, panggilan untuk saudara laki-laki ayah. Pak tanga memiliki banyak kemiripan dengan ayah. Postur tubuh, suara dan gestur tubuhnya. Suatu pagi aku terkejut mendengar suaranya, persis sama! dan aku mulai merindu di pagi itu. Merindu ayah yang pergi tanpa kata. Yang kuingat beberapa minggu sebelum ayah pergi, ia selalu minta didoakan. Dan akan selalu ada doa untuknya.

Semua sudah takdir dari Allah, kepergian ayah yang sangat mendadak di siang yang mendung itu tak ada yang pernah menyangka. Kecelakaan itu hanya sebab. Allah sudah menentukan semuanya.
Kala itu, aku masih kuliah semester 5, sebentar lagi menamatkan kuliahku. Aku sudah membayangkan semua persiapan menjelang wisuda nanti, ayah dan ibu akan hadir di acara wisudaku. Namun, rencana Allah jauh lebih indah.

Ketika itu, hanya aku satu-satunya orang yang tak diberitahu kejadian yang sebenarnya. Aku hanya mendadak disuruh pulang besok pagi, karena ayah sakit keras. Setauku ayah tak punya riwayat penyakit yang parah. Aku tau, mereka menyembunyikan hal itu dariku, entah dengan alasan apa. Sejak kabar itu, dari sore hingga malam banyak saudara-saudara yang menelepon. Mereka bertanya ini itu, aku tak tahu mau jawab apa? aku pun tak tahu apa ayah hanya sakit atau...?? Hanya ibu saja yang tak menelpon. Yah, mungkin saat itu dia sedang menahan rasa perih di hatinya, membuatnya tak sanggup untuk berkata apapun padaku. Ayah pergi tiba-tiba, setelah ia iringi kepergian ayah menuju sekolah di depan pintu rumah siang itu.

Semua yang terjadi menjadi semakin jelas setibanya aku di nias, saudara yang datang menjemput menceritakan kronologis kejadian itu, bahkan kami melintasi tempat kejadian. Tabrakan maut di simpang meriam. Ada sedih yang mendalam, ada rasa perih yang menusuk-nusuk. suatu kenyataan pahit yang harus kuterima. Ayahku sudah pergi. Mengahadap Allah. Hal yang selalu dirindukan oleh ayah.

Setibanya di rumah, aku tak mau menangis meraung-raung, karena Rasulullah tak suka hal itu. Seperih apapun hati ini, aku hanya menangis ikhlas seraya melantunkan doa untuk Ayah. Semoga Allah tempatkan di tempat terindah milikNya. Ayah meninggal dengan husnul khatimah. Ia pergi meninggalkan senyum terindah miliknya. Wajahnya putih bersih. Tak ada goresan sedikitpun di tubuhnya akibat kecelakaan itu. Seluruh tubuhnya utuh, bahkan kacamatanya pun tak ada retakan. Yang rusak parah hanya sepeda motor ayah.

Ahh, berada di kampung halaman ayah, benar-benar membuatku merinduinya. Kurasakan hadirnya di sini, hadirnya yang tak pernah bisa tergantikan, hingga akhir waktu. Ayah, engkau akan selalu ada di hatiku.

Akan selalu ada doa untuk Ayah.. Semoga kita bersua di SyurgaNya...

Ade,

Oktober 2013

Read More

Jangan biarkan kapal kita tenggelam



Bila suatu ketika dalam suatu kondisi, kita dan segerombolan orang banyak harus mengarungi samudera luas menggunakan satu kapal yang memiliki 2 bagian, bagian atas dan bagian bawah, tentulah kita akan berebut tempat di bagian atas, bagian paling nyaman. Bagian di mana kita bisa dengan bebas menikmati indahnya laut biru, memandang riak dan gelombangnya yang bekejar-kejaran, dan bisa mengambil air dari lautan untuk berbagai keperluan.

Sementara, orang-orang yang berada di bagian bawah kapal tak seberuntung kita, jika mereka ingin melihat pemandangan atau ingin mengambil air, mereka harus naik ke atas, bolak-balik, turun-naik. Hal ini membuat kita dan sebagian orang yang berada di atas merasa terganggu. Orang-orang yang berada di bagian bawah pun merasa tidak enak karena mengganggu. Akhirnya, orang-orang yang berada di bagian bawah kapal punya ide untuk melubangi bagian bawah kapal supaya lebih mudah mengambil air dan tidak lagi mengganggu orang-orang yang berada di atas.

Kita yang berada di atas tahu mereka akan melubangi kapal sementara kapal sedang berlayar mengarungi samudera. Saudaraku, kalau mereka dibiarkan, maka ini akan membahayakan semua orang yang ada di dalam kapal, kapal ini akan tenggelam.. Kita yang berada di atas tahu kondisi ini, lalu apakah yang akan kita lakukan? apakah kita hanya diam berpangku tangan membiarkan mereka melakukan hal itu? apakah kita tidak peduli dengan kondisi tersebut dan berfikir biarlah kita tenggelam bersama yang lainnya? ataukah kita berusaha mengajak yang lainnya untuk mencegah mereka melakukan hal itu?? "Ayo kita cegah mereka sebelum kita tenggelam". Barangkali itu yang menjadi pilihan kita.

Saudaraku, inilah perumpamaan yang diberikan oleh Rasulullah SAW.
Dalam kehidupan kita ketika ber-amal ma'ruf nahi munkar, tatkala kita menyaksikan saudara-saudara kita melakukan kemungkaran, melakukan kerusakan, apa yang kita lakukan? Apakah kita membiarkan dia, kapal kita dan seisi kapal tenggelam? Tidak. Kita akan berusaha menyelamatkan diri kita, mereka, dan kapal ini agar terus berlayar sehingga akhirnya sampai di pantai impian.

Ini adalah sebuah perumpamaan yang disampaikan Rasulullah SAW. Rasulullah mengumpamakan orang-orang yang menegakkan Diinullah dan orang yang melanggarnya seperti sekelompok orang  yang diundi untuk menaiki kapal. Sebagian mendapatkan tiket kapal di bagian atas dan sebagian lagi mendapatkan tiket di bagian bawah. Lalu orang-orang yang berada di bawah melakukan kerusakan karena tidak memiliki ilmu akan hal itu. Lalu apakah kita akan membiarkan mereka? Membiarkan mereka merusak kapal yang menjadi alat satu-satunya bagi kita semua untuk mengarungi samudera kehidupan ini??

Maka, Saudaraku.. Inilah tugas kita.. menyampaikan dengan ilmu, bashirah, dengan cara yang lembut, hikmah serta akhlak yang mulia. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang menegakkan agama Allah, orang-orang yang menegakkan amal ma'ruf nahi munkar dengan cara yang baik, sehingga bahtera yang kita gunakan untuk menuju Allah tabaraka wa ta'ala bisa selamat sampai ke tujuan saat kaki menginjakkan kaki ke syurga Allah tabaraka wa ta'ala. Ø§ِ Ù†ْ Ø´َØ¢ Ø¡َ اللّÙ‡ُ.

#taujihpagi
#teruntuk semua saudaraku yang berada di Jalan dakwah 
Read More

Terlambat (kah?) untuk mengerti



Ini aku yang terlambat untuk mengerti. Terlambat memahami setiap kata yang kau ucapkan tiap kali aku grasah-grusuh menghadapi setiap hal yang terkesan menyakitkan, menyebalkan, menyedihkan. #menurutku.
Terlambat aku mengerti bahwa itu adalah sebuah nasihat darimu yang kuanggap sebagai "caramu" untuk menenangkan aku. Ahhh, aku hanya terfokus pada diriku, terfokus pada rasa yang membuncah dalam jiwaku, mungkin setiap tanggapanmu atas ceritaku yang terkesan "aneh" kuanggap angin lalu. Maaf aku tak bermaksud begitu.

Mungkin pun bila kau membaca tulisan ini kau akan berkata "sob, kita sudah bahas itu berkali-kali..." sambil menggaruk-garuk kepalamu yang sebenarnya tidak gatal.

Seperti siang itu, ketika mendung menutupi langit.
"ada apa?" suaramu masih saja seperti dulu...
"aku tak tahu harus dari mana memulai ceritanya..." jawabku menahan segala rasa yang berkecamuk.
"ceritakan semuanya mumpung ada paket nelpon.." jawabmu bersiap menampung ceritaku.
aku diam mencoba mencari kata yang tepat untuk memulai.
"semua sudah berubah..." entah apa yang kuinginkan.
"ah itu perasaanmu saja..." tak pernah dirimu membenarkan aku. 
"kenapa kita harus egois dengan kesibukan kita di saat kita butuh pegangan tangan untuk saling menguatkan, butuh telinga untuk mendengar, butuh pundak untuk bersandar?? lalu di mana ukhuwah itu?" jawabku seperti biasa, berputar-putar. Sejatinya aku saat itu hanya butuh pendengar yang baik.
"jangan mengeneralisir segalanya, mungkin memang saat ini masa di mana kita harus berjalan sendiri, tapi bukan berarti saling memisah diri..."
"tak ada yang abadi, termasuk hubungan kita dengan orang lain termasuk ukhuwah" katamu lagi dan terus saja dirimu berkata-kata.
"jadi, aku yang salah?"
"jangan menyalahkan diri sendiri, ini hanya masalah waktu, jika saat ini dia tak bisa bersama-sama, masih ada yang lain"
apakah itu berarti termasuk dirimu?? tanyaku dalam hati. 
"bersabarlah dan tetap semangat, semua pasti bisa dilalui..."
aku diam......
diam...
beberapa saat...

"apa kau masih di sana??"
"ya..."
"kenapa diam saja?"
"sebentar lagi turun hujaaan.. " jawabku pelan.
"ya di sini mendung..."
"di sini sudah hujan.." jawabku
"hey,, kita berada di tempat yang tidak terlalu jauh, bagaimana mungkin di sana sudah hujan..."
"hujan karena mendungnya di hatiku..."
"oohh, jangan terlalu bersedih, Innallaha ma'ana..."
"ya..."
"sudah ya, paketnya sebentar lagi habis, afwan tadi gak balas sms karna pulsanya cuma bisa buat nelpon"
"gak modal" jawabku... tertawa. akhirnya aku bisa tertawa.
"ya kan lumayan, bisa nelpon"
"baiklah"
"semangatlah biar bisa wisuda"
"ya.."
"jangan lupa hadiah wisudanya"
"mau apa?"
"sesuatu yang bisa kau buat sendiri"
"oh, baiklah. itu mah gampang. udah ya assalamu'alaykum"
"walaikumsalam"


itu masih sepenggal, besok-besoknya... aku akan terus bertanya padamu, dan kau terus saja menjelaskan. tak bosan-bosan. aku tetap saja belum mengerti...belum bisa memahami...

Seperti saat kau pergi, bertahun-tahun lamanya aku belum juga mengerti, hingga akhirnya aku tersadar. Benar-benar sadar. Tak selamanya kita bersama-sama. Semua ada batasan waktunya.

dan kini aku mencoba membingkainya dengan sebaik-baiknya, karena dulu ketika aku belum benar-benar mengerti, aku selalu saja mencoba masuk kembali ke dalam memori itu mencoba mencoret-coretnya agar bisa kembali seperti dulu, ternyata itu sebuah kesia-siaan. Bukan menjadi cantik, tapi bertambah rusak karena aku. Atau mungkin aku lah yang merusaknya terlebih dulu? ya, kurasa memang begitu. 
Maaf, aku terlambat untuk mengerti.


Teringat masa-masa itu
kau ingatkan aku keindahan itu
kau ingatkan aku kepada pencipta kita
citaku sahabat surgaku

kau selalu ada saat ku suka dan duka
kau selalu ada saat kubutuhkanmu
walaupun ku tak pernah membuatmu bahagia
kadang tak kuindahkan nasihatmu

sahabat surgaku kini telah tiada
penyesalan yang kini tersisa
sahabat surgaku kini hanya doa
yang ku persembahkan untukmu
citaku sahabat surgaku

kepada Allah ku panjatkan doaku
semoga kita semoga kita semoga kita
dipertemukan di surga-Nya

#fourteens
Read More

Mari Saling Melupakan...


Mari saling melupakan, kawan...
Indahnya pesona kebaikan yang pernah ditebar biarlah hinggap dan tumbuh mekar pada yang tersentuh hatinya...
Seperti purnama yang tak pernah meminta imbalan pada malam yang benderang karena sinarnya...
Seperti hujan yang tak pernah mengharap balasan pada bumi yang menghapus kemarau karena tetesannya...
Seperti mentari yang tak pernah menadahkan tangan pada pagi yang menyingsing karena pancaran cahayanya...

Mari kawan, mari kita lupakan...
biarlah ia terbang menuju RabbMu, 
biarlah ia tercatat dalam buku amalmu.

Tak perlu kawan, 
tak perlu kau risau bila dunia tak tahu 
pesona kebaikan itu akan tetap merekah indah menggoda 
tanpa kau tahu ia akan menari-nari dari satu hati ke hati yang lain
dan suatu ketika ia akan kembali padamu, di masa yang tak bisa kau duga 

tak perlu kau ungkap karena ia akan kehilangan pesonanya
tak perlu kau ingat karna Tuhan tak pernah lupa
lupakanlah... itu lebih indah
tebarkanlah lagi... itu lebih mulia
indahnya kebaikan itu akan terpancar dari dirimu pabila ia tak diungkap, tapi dilupakan namun terus ditebarkan benihnya hingga tumbuh berbuah manis. Buah kebaikan :)

Mari kawan, mari saling melupakan kebaikan-kebaikan yang pernah kita lakukan, karena Tuhan tak pernah lupa...

Oktober 2013



Read More

Thanks To Allah SWT and My Big Family





Alhamdulillah Wa Syukurillah,, bulan April penuh barokah dari Allah, bulan di mana Allah mengizinkan aku terlahir ke dunia ini, di bulan ini pulalah aku menuntaskan studi di Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.

Thanks to all those who have prayed and supported me in the completion of this paper.
Afwan, bila ada nama yang tak tertuliskan di sini, tapi In Sha'a Allah, Allah tak kan melupakan kebaikan hati orang-orang yang telah mendoakan dan mendukung saya :)

KATA PENGANTAR

Ba’da tahmid dan shalawat, segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam serta beriring salam kepada Rasulullah SAW yang menjadi qudwah amaliyah bagi seluruh umat manusia.

Sujud serta syukur kehadirat Allah SWT yang mengiringi penyelesaian skripsi ini yang berjudul “Peran Serta Pengadaan sarana Air Bersih di Desa Lasara Idanoi Kecamatan Gido Kabupaten Nias”.

Penulis juga mengucapkan termakasih kepada pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, khususnya kepada :

1. Bapak Dr. Drs. Surya Utama, MS, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Ir. Evi Naria, Mkes, selaku Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan FKM USU, dan sekaligus sebagai dosen pembimbing I.
3. Ibu Prof. Dr. Dra. Irnawati Marsaulina, MS, selaku dosen pembimbing II.
4. Bapak Prof. Dr. Albiner Siagian Ir., Msi, selaku dosen pembimbing akademik.
5. Bapak Yeremia Zebua, SE, selaku kepala Desa Lasara Idanoi.
6. Seluruh dosen dan staf Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, khususnya Departemen Kesehatan Lingkungan.
7. Kedua orangtua Azhar Laoli, Amd dan Nur Jannah T. yang selalu mendukung dan mendoakan penulis dalam menjalani studi di Fakultas Kesehatan Masyarakat. Terimakasih atas semua kasih sayang yang telah dipersembahkan untuk penulis.
8. Abang tercinta, Azwar Rusdi Laoli yang langsung terjun ke lapangan serta selalu mendoakan dalam penyelesaian skripsi ini.
9. Tim “Ya’ahowu” : Alan, Bang Win dan Bang Jaya yang telah merelakan waktunya membantu penulis di lapangan.
10. Tim “A” : Abi Awwabin dan Imam Setiawan, Jazakallah atas dukungan dan doanya.
11. Doping III” dan “Doping IV” : bang Faizal Rangkuti dan Kak Arinil yang telah memberikan kritik dan saran kepada penulis sehingga skripsi ini selesai tepat pada waktunya.
12. Keluarga besarku di Medan UKMI AD-DAKWAH USU dan UKMI FKM USU yang senantiasa menyemangati, mendoakan dan mengajarkan arti sebuah perjuangan. Semoga Allah mengizinkan kita untuk reuni di SurgaNya.
13. Keluarga kecilku, “LASKAR SEMANGKOK UAD’ : Sri Lestari Zhaw, Dita Hafsari, Desi Ratna Sari, Yusri Khairunnisa, Rahmat Faizal, Bayu Syahputra, Sigit Putra Kurniawan, Yudi Irfansyah dan Imam Setiawan, Jazakumullah atas doa dan semangat yang tiada henti-hentinya diberikan kepada penulis. Tetaplah melantunkan kebaikan. Semoga Allah mengumpulkan kita kembali dalam indah SurgaNya.
14. Keluarga Besar “Pondok An-Nahl” : Kak Gema Riyani, Kak Ainun, Sri Lestari, Winni RE, Linda Handayani, Melisah Fitri, Sri Ulia Sari, Sovia “Oos”, Syukron Katsiran untuk semua kasih sayang, dukungan serta doa yang selalu diberikan kepada penulis untuk tetap berada pada garis semangat yang membara demi penyelesaian skripsi ini.
15. Saudariku dalam “Lingkaran Putih”, Jazakumullah atas doa, motivasi, dan semangat yang diberikan selama ini kepada penulis.
16. Kakak-kakak tercinta : Siska Ishaliani, Arinil Hidayah, Sukma faizah, Nina Apriyani, Dina Maya Sari, Rena Kinnara, Geni Angnestika, Fitria S. Pane, Oni Maulina, Annisa Naibaho dan Ustadzah Fadillah yang selalu mengingatkan dan mendoakan penulis untuk selalu semangat menuntaskan tugas akhir.
17. Adik-adikku sayang : Syafriana, Wahida Ukhra, Ratih Lestari, Ramadhani, Ayu Mutia Syafitri, Ayu Lestari, Ratna Juwita Sari, Ramadhanila Dewi, Rici Dina Putri, Henti Fitriani, Tiara, Rina, Imeh, Nura Miftah, Dian, Yolanda, Fira, Sovia, Alfi, Atika, Siti Sundari, Gabby, Icha, Ashel, Anif, Ebi, Enti, Desi, Siti Khodijah, Hapni, Isnaturrahmi, Una, Defi, Suliyanti, Ulfah, Rizqiana Halim yang selalu memotivasi dan mendoakan dalam penyelesaian skripsi ini.
18. Saudaraku UKMI AD-DAKWAH USU 2009-2011 : Azizah Endrastati, Cut Ida Agustina, Yoan Utami Putri, Dewi Putriani, Sri Erlina, Dina MS, Nina, Hessi Mayona, Ivana Widyasari, Dwi Karina Ariadni, Widia Sari, Rossy Nurhasanah, Lailan Sahrina, Renna Kinnara Arlotas, Tany Darmy, Ahmad Faizal Rangkuti, Fauzan Zulqarnain, Recky Suharmon, Deni Rafli, Ridho Simanungkalit. Terimakasih atas sebait kisah indah dalam dekapan ukhuwah di UAD.
19. Seluruh rekan-rekan “Forum Lingkar Tarbiyah Nias”. Terimakasih atas doa dan dukungannya. Semoga tetap istiqomah menebar kebaikan.
20. Seluruh rekan-rekan “DW” se-USU, Jazakumullah atas semangat yang luar biasa ditularkan kepada penulis. Semoga tetap menjadi satu pintu bagi berjuta ilmu, satu jiwa berjuta hikmah, satu pribadi penuh inspirasi. InsyaAllah semua kerja keras selama ini berbuah kebahagiaan dunia dan akhirat.
Penulis menyadari, skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkaa kritik 
dan saran demi kesempurnaan skripsi ini, sehingga dapat bermanfaat bagi penulis, pembaca dan penelti selanjutnya.

Medan, April 2013
Penulis

Rahmi Fitri Laoli












Read More

Di manakah Allah di hati kita??



Di pagi minggu yang syahdu mendayu menusuk qalbu, seperti biasa di sebuah pondok di kota Medan "PONDOK AN-NAHL" yang menebarkan madu-madu kebaikan, In Sha'a Allah, selalu ada taujih penyejuk hati. Seusai sholat subuh, seluruh penghuni pondok AN-NAHL berkumpul di ruang pertemuan membentuk sebuah lingkaran dan dimulailah taujih yang disampaikan oleh salah seorang penghuni Pondok.
Taujih setiap minggu pagi merupakan salah satu agenda rutin di pondok ini. sudah berlangsung 2 kali, al-awal tentang SENI MENGHADAPI UJIAN, atsani tentang IKHLAS, dan atsalist tentang DI MANAKAH ALLAH DI HATI KITA??

Bismillah..
Taujih dimulai dengan pertanyaan DI MANAKAH ALLAH DI HATI KITA??
coba direnungkan.. tanya hati.

Ali bin abi thalib berkata : azhumal khaliqu fii quluubihim, fashaghura maa duunahu fii a'yunihim. 

Para sholihin di zamannya sangat mengagungkan Allah dalam hatinya. Allah telah memenuhi dinding hati mereka, sehingga menjadi kecil dan tidak berartilah di mata mereka selain allah. jiwa mereka telah sibuk dengan Allah sehingga mereka tidak takut pada apapun kecuali Allah. Keagungan Allah benar-benar telah merajai hati mereka.

Dimanakah Allah di hati kita?? Apakah kita merasa gembira ketika berdekatan denganNya?? sejauh mana tingkat kesenangan kita ketika sujud disepertiga malam?? seberapa sejuk dan teduh hati kita ketika sujud menghadapNya?? karena sujud merupakan posisi terdekat kita dengan Allah.
indahnya ketika Allah berkata : Aku bersama dengan hamba-hamba yang mengingatKu...

Pernahkah merasakan jatuh cinta?? bukankah orang yang mencintai selalu menginginkan kesendirian bersama yang dicintainya?? apakah kepada Allah kita juga selalu ingin berkhalwat denganNya?? berdialog denganNya dengan penuh cinta??

Lalu di manakah Allah di hati kita saat kita harus melewati peristiwa pahit yang menyiksa hidup?? mampukah kita merasakan kasih sayang Allah dalam setiap peristiwa pahit yang menyakitkan itu??? karena apapun yang berasal dari Allah itu adalah indah. meski kadang kita tak mampu melihat keindahan di balik peristiwa itu.

Mari terus berlatih untuk meningkatkan cinta kepada Allah dan berusaha mendapatkan cintaNya bukan kepada selainNya. kita sudah lama hidup, tapi kita sudah terbuai oleh indahnya dunia.. berhentilah sejenak di sini,, raba hati, tanya hati, DI MANAKAH ALLAH DI DI HATI KITA??

Medan,
22 Desember 2012

Salam cinta untuk semua penghuni An-Nahl. Miss U.
Read More