Satu Cinta




Engkau satu cinta yang selamanya aku cari
Tiada waktu ku tinggalkan demi cinta ku kepada mu
Walau seribu rintangan kan menghadang dalam diri
Ku teguhkan hati ini hanya pada Mu
Ku pasrahkan


_Star five

Aku tak tahu, apakah aku akan kembali ke sini lagi... Ke kampung halamanku yang menyimpan pahit manis kisah perjalanan hidupku. Untuk sekarang, aku memang harus pergi demi satu cinta yang selama ini kucari. 

***

Ramadhan, 1433 Hijriyah

Langit malam ini penuh bintang berkilauan. Bulan masih berbentuk sabit, tentu saja karena ini masih awal Ramadhan. Ramadhan tahun ini membawaku pulang. Bukan karena ingin mudik lebih awal atau ingin berkumpul dengan keluarga menjalankan ibadah di bulan puasa bersama-sama. Alasan kedua itu tidak mungkin kulakukan. Karena sudah jelas ada tembok besar pemisah antara aku dan keluargaku. Tembok keyakinan.

Inilah kali pertama aku menginjakkan kaki di kampung halamanku sejak aku memilih islam. Sebenarnya, aku sangat merindukan kampung halaman, namun aku tak ingin pulang sebelum keislaman ini kokoh di dalam jiwaku. Sejak mengucapkan syahadat cinta, aku mondok di pesantren selama tiga tahun. Aku ingin mengisi jiwaku dengan ilmu agama yang aku benar-benar buta tentangnya. Tapi, kalimat La ilaha illallah sudah bersemayam kuat dalam relung jiwa, hingga aku berani menanggung kosekuensi tidak diakui sebagai anak. Sungguh menyakitkan. Tapi inilah pilihan hidup yang harus kulalui demi satu cinta. Cintaku pada islam, cintaku pada Allah.

Malam semakin larut, aku ingin segera tertidur namun mata ini belum juga terpejam. Pertemuan besok sedikit membuatku gundah gelisah. Pertemuan dengan kedua orangtuaku di suatu tempat yang tak pernah terbersit di benakku. Kantor polisi. Pertemuan ini ternyata bermuara di sana.

Masih tersimpan jelas dalam memoarku, jejak-jejak perjalanan hidupku menemukan cinta ini.
Setelah menyelesaikan kuliah di universitas keagamaan, aku tak lantas pulang kampung. Aku ingin memperoleh pengalaman kerja di kota. Kala itu, bapak dan ibu mengizinkan. Siapa sangka? Menunda kepulangan adalah pilihan terbaik.

Hari-hari usai wisuda berlalu, tak disangka suatu ketika takdir mempertemukan aku kembali dengan seorang pemuda yang dahulu pernah bekerja di kampungku. Dia dan rekan-rekan kerjanya melaksanakan proyek pembangunan di sana. Merekalah orang islam pertama yang masuk ke kampung kami, karena seluruh masyarakat di kampung menganut keyakinan yang sama dengan kami. Dulu, kami sering diskusi seputar agama. Dari dialah aku mengenal islam.

Takdir mempertemukan kami di sini. Aku kembali membuka ruang diskusi dengannya seperti dulu. Dari diskusi inilah semakin hari aku semakin tertarik dengan islam. Hingga Allah berikan aku hidayah terindah. Hatiku memilih islam. Setelah hatiku mantap dengan agama ini, akhirnya aku mengucapkan kalimat Syahadat. Yah, syahadat cinta. Kini, aku bukan lagi yang dulu, aku telah terlahir kembali sebagai seorang muslim. Keberkahan terus mengalir dalam hidupku. Pemuda itu, yang menyadarkanku akan agama yang indah ini akhirnya melamarku. Kami pun menikah tanpa restu dari kedua orangtuaku. Meski ini bukan kehendak hatiku, namun bapak dan ibu dari awal memang tak merestuiku berpindah agama apalagi menikah dengan seorang muslim. Kebahagiaan semakin bertambah dengan kehadiran bayi laki-laki yang mungil, buah cinta kami. 

Dua tahun usia pernikahan kami, bapak dan ibu datang mengujungiku. Mereka ingin melihat dan menggendong cucunya. Inilah kali pertama pertemuan kami setelah aku menjadi seorang muslimah.
Aku mengganggap kedatangan bapak dan ibu adalah sebuah tanda keikhlasan mereka akan jalan hidup yang kini kupilih. Tak sempat terrpikirkan olehku bahwa ada sesuatu di balik pertemuan itu. Aku hanya bahagia bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan kedua orangtuaku.

"Ayahmu ingin mengajak Ammar ke kampung bertemu dengan keluarga di sana."
Sehari sebelum Bapak dan Ibu pulang, Ibu mencoba membujukku mengizinkan Ammar pulang bersama mereka.
"Tidak lama, seminggu saja. Bapak akan mengantar Ammar lagi ke sini." Ibu terus berusaha membujuk. Namun, hati ini masih berat. Banyak hal yang harus dipertimbangkan.
"Biarlah ini menjadi hadiah dari ketulusan kami merelakanmu berpindah agama." Lagi-lagi, Ibu menggunakan cara ini untuk meluluhkan hatiku.
Entah apa yang kupikirkan saat itu, pada akhirnya aku mengizinkan rencana Bapak dan Ibu membawa Ammar, seminggu. Ya hanya seminggu saja. Tak boleh lebih dari itu.

Ahh, seminggu itu ternyata hanya sebuah janji yang tak pernah tertunaikan. Seminggu. Itu hanyalah sebuah alasan. Atau mungkin bisa dikatakan sebuah jebakan. Aku tak menyangka Bapak dan Ibu menggunakan cara itu untuk mengambil Ammar dariku. Aaahh, mereka menggunakan Ammar sebagai senjata untuk mengembalikanku pada kondisi dahulu. Hal yang tak pernah terpikirkan sedikitpun. Kini, tidak lagi seminggu tapi  setahun!  setahun sudah mereka memisahkanku dengan Ammar.

"Kami akan mengembalikan Ammar asalkan kamu kembali pada agama kita. Agama nenek moyang kita." Sebuah ultimatum yang menyesakkan jiwa. Bagaimana mungkin aku mengabulkan permintaan kedua orangtuaku? Bagaimana mungkin aku berpaling dari cahaya yang menerangi jiwaku yang selama lebih 25 tahun tenggelam dalam kegelapan??

Tak ada jalan lain. Aku terpaksa menempuh jalan ini, Bu. Mengambil Ammar dengan jalur hukum yang mungkin akan menambah kebencian kalian padaku. Maafkanlah, anakmu ini...

Malam semakin larut, kututup hari ini dengan untaian doa.  Semoga Allah melindungiku dan keluargaku, menghidupkan kami dalam islam dan mematikan kami pula dalam keadaan islam.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan muslim(Ali Imran : 102)

***

"Tega sekali kamu melakukan ini pada orangtuamu."
Aku tak mampu menatap wajah Ibu. Aku tahu kemarahan itu sudah memenuhi ruang hatinya, hingga ia tak mampu lagi memikirkan keadaanku. Sudah setahun  aku terpisah dari anakku, apakah sebuah kedurhakaan pabila aku ingin menginginkan darah dagingku sendiri??

Ibu tak datang sendiri. Seluruh kakak-kakakku, paman, bibi, dan sepupu-sepupuku datang berbondong-bondong. Aku menelan semua kata-kata pahit yang terlontar dari mereka. Tak ada gunanya melawan. Yang ku ingin saat ini adalah Ammar pulang bersamaku.

"Ayo pulang, kita bicarakan ini baik-baik." Ibu mencoba berunding denganku.

"Tidak, Bu. Seandainya saja Ibu menepati janji Ibu, aku mungkin tak kan menggunakan cara ini untuk mengambil Ammar. Apapun yang terjadi, aku harus membawa Ammar bersamaku."

"Biarkan Ammar tinggal bersama kami. Toh, sebentar lagi kamu akan melahirkan, kamu tidak akan merasakan kehilangan karena kehadiran Ammar akan digantikan oleh adiknya." Ibu tetap saja bersikeras. Ooh, Ibu tidakkah engkau menaruh kasihan sedikit saja pada anakmu ini? Bagaimana mungkin seorang Ibu bisa dipisahkan dengan anak kandungnya yang masih sekecil itu??

Kami terus saja berdebat. Namun, secara hukum, akulah yang berhak atas Ammar.

"Tak ada gunanya Ibu bersikeras seperti itu. Secara hukum, Ibu Nur Hidayah sebagai  ibu kandung dari anak ini yang berhak mengasuh anak ini."
Pihak kepolisian mencoba menengahi kami.
"Mau dibawa ke pengadilan pun, akan sia-sia dan membuang banyak waktu dan tenaga, lebih baik, Ibu menempuh jalan damai saja."

"Tidak bisa, Pak. Anak ini adalah keturunan kami. Kami juga punya hak atas anak ini. Apalagi, Ibunya  sebentar lagi akan melahirkan seorang anak. Harusnya dia merelakan anak ini pada kami." Ibu tetap saja ngotot.

"Kalau Ibu tetap bersikeras, silahkan Ibu menempuh jalur hukum. Walau bagaimanapun, kami pihak kepolisian tetap akan menjaga Ibu Nur Hidayah dan mengantarkan beliau pulang dengan selamat sampai ke rumahnya bersama dengan anak ini."

Ibu menatapku dengan tajam. "Pergilah! bawa anakmu! Jangan pernah kembali lagi ke sini. Aku takkan mengakuimu sebagai anak lagi!"

***

Hari ini langit sangat cerah.
Biru memesona. Sinar mentari menyemburat di antara celah-celah awan yang berarak.
Dengan segenap rasa di jiwa, kulangkahkan kaki meninggalkan kampung halamanku. Entah kapan dan bagaimana aku bisa kembali lagi ke sini. Hanya Allah yang tahu.
Yang harus kutempuh saat ini adalah mengarungi perjalanan panjang kembali ke rumah bersama Ammar.
Menjalani hidup menjadi seorang istri, seorang ibu dan seorang muslimah demi satu cinta, Cintaku kepada Allah.

Ramadhan kali ini, menjadi saksi bahwa Allah tak pernah meninggalkan hamba yang datang kepadaNya. 




Satu cinta, sebuah kisah pada Ramadhan 2 tahun yang lalu. Semoga Allah senantiasa melindungi beliau dan keluarganya. Trimakasih untuk sepenggal kisahmu, semoga semakin banyak hamba Allah yang meneguhkan cintanya pada agama ini. Sepertimu.

10 Sya'ban 1435H




Read More

Ketika Sholat "Berbicara"



Bismillahirrahmanirrahim...
Aku adalah tiang penyangga agama ini. Rabbku mengutamakan aku dari ibadah yang lain dan telah mewajibkan untuk memerangi orang yang telah meninggalkanku. Tapi, mengapa kau merobohkan tiang-tiang ini dengan meninggalkan dan menghinakanku?

Aku adalah pertanyaan pertama yang akan dihisab di hari pembalasan. Lalu bagaimana kau akan menjawabnya sementara dirimu hanya berleha-leha ketika azan berkumandang? Apa yang akan kau jawab, sementara semua amal shalihmu tiada berguna, sekalipun sebesar gunung. Apakah kau ingin menjadi orang-orang yang merugi di akhirat kelak?

Aku adalah pembelamu di dalam kegelapan kubur. Akulah yang akan menolak malaikat azab dan hisab yang buruk padamu. Aku adalah penjaga terbaik bagimu. Perbaikilah hubunganmu denganku sebelum kematian datang dan penyesalan ketika itu tiada berguna.
"hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan" (Al-mu'minuun : 99-100)

Aku adalah pilar yang memisahkanmu dengan kekufuran. Apakah kau mengira segala keagungan yang kumiliki ini bisa didapatkan dengan menggerakkan lidah dan tubuhmu tanpa kehadiran hati?

Aku adalah cahaya penyelamat bagimu di hari kiamat kelak. Pabila engkau tidak memeliharaku maka lisan Rasulullah telah berkata bahwa di akhirat engkau akan bersama-sama dengan Qarun, Fir’aun, Haaman, dan Ubay bin Khalaf, para pengingkar.

Aku adalah jalinan yang menghubungkanmu dengan Rabbmu. Lalu, mengapa kau menyia-nyiakanku bahkan melupakanku. Aku adalah tali yang menyambungkanmu dengan surga. Tapi, engkau masih saja mengabaikanku. Apakah kau ingin mendapatkan pertolongan Rabbmu dan ingin masuk surga dengan angan-anganmu tanpa mendekatiku?

Aku adalah bukti ketundukanmu kepada Allah. Bentuk kepatuhan dan kesyukuranmu terhadap segala nikmat yang telah diberikanNya dalam kehidupanmu. Tapi, sungguh aku heran, mengapa engkau masih saja melalaikanku. Apakah engkau tak takut segala nikmat itu dicabut?

Aku adalah simbol kedekatanmu kepada Allah. Sejauh mana kedekatanmu dengan Allah dapat diukur dari seberapa sering engkau menjumpai Allah dengan khusyuk mendirikanku.

Aku adalah hadiahmu yang engkau kirimkan kepada Allah. Maka, apakah engkau akan mengirimkan hadiah kosong kepada Dzat yang Maha Kaya? Engkaulah yang menentukan hadiah terbaik yang hendak engkau berikan kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu Dzat yang Maha Tayyib dan dia takkan sudi menerima kecuali yang tayyib. Maka, dirikanlah aku tanpa tergesa-gesa, hadirkan hatimu.

Aku adalah penyejuk hati. Hatimu yang gersang karena jauh dari mengingat Allah akan sejuk setelah engkau bersegera mendatangiku. Namun, jika tidak maka hatimu akan gersang, hawa nafsu dan panasnya syahwat akan segera menguasaimu dan mematikan hatimu.

Aku adalah sungaimu yang engkau gunakan untuk mandi lima kali sehari, untuk membersihkanmu dari berbagai kemungkaran dan kerusakan yang merugikan. Jika dirimu terkotori dengan noda-noda dosa maka jadikan aku sahabatmu! Tidak ada selain aku yang mampu membasuh dan membersihkanmu dan mengembalikanmu menjadi bersih seperti semula.

Aku adalah salah satu di antara dua posisi berdiri di hadapan Tuhanmu, ketika berdiri mengerjakan sholat dan berdiri pada hari kiamat. Jika engkau melakukan penghadapan yang baik ketika berdiri melaksanakanku maka akan ringan bagimu melakukan penghadapan kedua. Jika tidak, maka keadaanmu akan jauh lebih mengerikan dari yang bisa dibayangkan.

Lalu, apa yang sedang kau tunggu??
mengapa engkau masih saja duduk sambil tertawa riang ketika panggilan Tuhanmu dikumandangkan?
mengapa engkau masih saja menarik selimut ketika suara penyeruNya telah diperdengarkan?
mengapa engkau masih saja sibuk dengan urusan dunia  seolah-olah kematian itu tak pernah datang?
Apakah dunia akan menyelamatkanmu dari pedihnya kehidupan akhirat yang sebenarnya?

Apa yang sedang kau tunggu??
Bergegaslah membasuh dirimu dengan wudhu, sucikan jiwamu. Berdirilah menghadapNya, rukuk dan bersujudlah kepadaNya dengan sepenuh jiwa.



Sebuah renungan mengingatkan diri sendiri
Nias, 7 Sya'ban 1435H
Read More

Pesona yang Terlupa



Bismillahirrahmaanirrahiim

Dengan mengharap ridho Allah SWT, izinkanlah aku menawarkan diriku untukmu.

Namaku adalah Sya'ban. Mungkin tidak banyak orang yang mengenalku. Namaku bisa saja terdengar sangat asing. Mungkin orang akan mengiraku "sorban", atau lebih parah lagi mengiraku "lakban"...

Sejujurnya, aku merasa iri dengan saudaraku yang telah mendahuluiku dan yang akan menyusulku. Mereka lebih terkenal dariku. Aku iri pada saudaraku yang menyapamu lebih dulu, Rajab namanya. Sementara yang akan hadir adalah yang paling mulia dan indah di antara kami, ialah Ramadhan.

Orang-orang banyak melupakanku. Padahal aku juga dicipta dengan keindahan yang merona dan kebaikan yang menyamudera.

Beruntung, sungguh beruntung nasibku. Rasulullah Muhammad SAW pernah menyanjungku dengan lisannya yang mulia...

"Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu memperbanyak berpuasa (selain Ramadhan) kecuali pada bulan Sya’ban?" begitu tanya Usama Bin Zaid.
Rasulullah SAW pun menjawab, ”Itu bulan dimana manusia banyak melupakannya antara Rajab dan Ramadhan, di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa”. (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

Ya, aku datang ke hadapanmu. Menawarimu cawan-cawan berisi kebaikan-kebaikan yang besar. Agar matamu berpaling pada pesonaku. Dan mantab memenangkan hatiku.

Ingatkah engkau bahwa Ibnu Rajab pernah berkata berkata: "Puasa dibulan sya'ban lebih utama daripada puasa dibulan-bulan haram, dan sebaik-baik amalan sunnah adalah yang dilakukan ketika dekat dengan bulan suci Ramadhan baik sebelum maupun sesudahnya, maka puasa pada bulan ini kedudukannya seperti sunnah-sunnah rawatib sebelum atau sesudah fardhu dan berfungsi untuk melengkapi jika ada kekukarangan pada amalan fardhu tersebut. Demikian pula puasa sebelum dan sesudah Ramadhan memiliki keutamaan lebih dibanding puasa-puasa lain yang bersifat mutlak atau umum. Oleh karena itu puasa yang dilakukan ketika sudah mendekati Ramadhan lebih utama dibanding puasa-puasa yang dilakukan jauh dari bulan suci ini"?

Uhm... Orang bilang, "tak kenal, maka taaruf". Dan aku ingin sekali engkau mentaarufi diriku. Jauh lebih dalam. Melebihi palung di celah bumi. Temuilah aku. Bahwa aku adalah mutiara yang terpendam. Aku tidak terkenal. Aku pun hanya yang terlupa. Tapi aku tetaplah mutiara yang bersinar. Yang menanti pinanganmu dengan binar.

Sungguh, bila engkau berbuat ibadah bersamaku yang kala itu banyak orang lupa terhadapku, maka menjadi orang yang ikhlas adalah buahnya lantaran kau terlatih oleh kesunyian. Sebab engkau beribadah
bukan karena apa yang mengitarimu. Tapi karena kesungguhanmu untuk menghamba kepada Rabb-mu. Rabb kita.

Kuberharap, buah dari cintamu kepadaku akan segera ranum. Buah yang melahirkan cinta, pada Ramadhan yang mulia.

Ku 'kan setia menunggumu...
Dalam sepi nan syahdu...
Semoga engkau segera berminat meminang kemuliaanku...

Salam Cinta dari Pesona Yang Terlupa,

@Sya'ban
Read More

Lebah Gelombang Ke-3 (Macam judul buku kan?); Trilogi 3 Lebah




Alhamdulillah, tulisan 3 LEBAH kembali hadir yang kali ini dirangkai dan dibingkai oleh lebah ke-3 di bumi Kampar, Riau, Rincan Zhaw :)

Baca  Trilogi 3 Lebah secara utuh biar dapet alur ceritanya.. Ok? :D




3 Lebah (versi lebah ke-3)

Dahulu kala, (hampir 6 tahun yang lalu tepatnya), ketika saya menginjakkan kaki untuk pertama kali di Fakultas Kesehatan Masyarakat itu, saya tak pernah menyangka sama sekali tak pernah menyangka, akan tersesat terlalu jauh hingga tak tau jalan pulang (#eh) di jalan yang, kalo kita ngambil bahasanya Rahmi sang lebah ke-2 yang fenomenal cetar membahana badai kalo bikin tulisan itu, jalan yang penuh cahaya ini. Tapi percaya tak percaya ini adalah kesesatan yang menyenangkan, sesat membawa nikmat lah kalo boleh di bilang, haha... Kalo tak percaya, cobalah jalan ini, pasti mau tersesat juga, lama-lama disini, sampe akhir hayat malah!!! 

Dan hal itu menjadi modal yang cukup untuk saya, sehingga walau seperti apapun kehidupan Pasca kampus yang saya alami sekarang ini, tak pernah ada sesal yang mencuat untuk dilihat, karena dunia kampus FKM itu telah menghantarkan saya ke depan pintu gerbang kemerdekaan saya. Yang kalo saya masuk FE seperti ingin saya waktu itu, mungkin tak beginilah jadinya, syukur yang tak terhingga kepada Allah ta’ala, yang telah menggariskannya dengan begitu indah dan ciamik, dan karena di FKM jualah segalanya bermula, pertemuan dengan insan muda belia perkasa yang kali ini akan menjadi fokus pembicaraan kita, si 3 lebah alias trio um.

Berikut saya sajikan reka adegan perjumpaan kami yang begitu dramatis, yang kalo di film-in jauuuhlaaah sama Laskar Pelangi, iya jauh karena, Laskar Pelangi di Belitong kami di Medan, 2 hari 3 malemlah kalo naik bus... #nahloh...

Baik saya akan jelaskan bagaimana alur perjumpaan saya dengan kakak lebah 1 dulu ya, jadi begini ceritanya, kala itu sepulang orientasi MABA, namanya PMB dulu, ha... Biasalah tu kan kalo MABA, biar banyak kawan, agak2 mepet-mepet sesama MABA untuk sekedar sapa, tanya nama, tanya nomor HP dan sebagainya dan sebagainya kan, kala itu saya udah punya temen yang sekaligus sahabat pertama di FKM, namanya Melly (kenal kan?), dan dari kejauhan entah mengapalah, mata saya menangkap sesosok gadis berbaju oranye dan bercelana petak-petak, celana petak-petak yang begitu eye catching (Winni masik inget ga?), pake tas coklat, nyebrang. Naah, dikarenakan di Medan mobilnya (red : arus lalu lintas) lebih ramai daripada di Kabanjahe, saya pun ngekorin gadis berbaju oranye itu untuk nyebrang (ngikutin pesan emak, kalo nyebrang hati-hati ya Naak...), hehe, dia jago nyebrang ternyata, trus pas naik angkot ternyata angkot yang kami tumpangi sama sodara-sodara (waaaah, saya terkejuut) haha... Ya sudah, dengan agak malu malu tapi mau, kalo ga salah saya nanyain deh nama si gadis berbaju oranye bercelana petak-petak itu, yang di kemudian hari ternyata Allah takdirkan jadi kaka lebah pertama saya, Winni Ramadhani Elistria Tumanggor, itulah awal perjumpaan dengan Wince sang pelopor kemerdekaan #eh salah, sang Nyonya L-Chocolatte. Dan kemudian kami mengalir begitu saja, menjadi begitu dekat, lekat, erat, seerat perangkoooh, hehe... pokoknya akrablah, sulit terjabarlah dengan kata-kata, pokoknya Kaka Winni ini telah banyak mengajarkan ilmu berharga kepada saya yang masih muda belia kala itu, misalnya : ilmu menyetir motor, dialah guru setir motor yang ngajarin saya ngebut #eh, ilmu berdagang, ilmu move-on, ilmu mencoba hal-hal baru, ilmu biostatistika, ilmu bela diri, ilmu nyubit supersakit #eh dan banyak ilmu lain yang tak bisa dijabarkan secara nyata dan tajam setajam silet haha... Seperti itulah, kakaaa lebah pertama saya yang luar biasa. Dan kami banyak menjalani suka duka hidup bersama di kampus, bikin usaha bareng, kena marah sama tim penilai SEC bareng, tak terhitung jumlah tugas kelompok yang dikerjain bareng, menggila bareng, dan akhirnya hijrah ke jalan penuh cahaya (culik bahasa Rahmi) ini pun bareng, intinya kalo sama kaka Winni ini, sering se-kufu lah sayanya... 

Itu secuil kisah tentang lebah 1, kalo di jelasin semua, butuh waktu yang panjaaaaaaang sekali...

Baik mari kita beranjak kepada si tengah kami, lebah ke-2, Rahmi Fitri Laoli, gadis ombo batu dari Pulau Nias. Saya tak mengingat secara jelas, bagaimana kami menjadi dekat seperti saat ini. Yang jelas di kelas kaka Rahmi ini pendiam sangat, membuat saya tak kenal (soalnya saya dulu ribut sangat, haha). Dia kalem, santai, cool, tak banyak bicara, tipikal-tipikal gadis Nias lah (haha sok tau) (tapi itu dulu lo, dulu, sekarang dah lain pasal). Dulu dia dekat dengan Sri juga, tapi bukan saya bukan saya, itu Sri yang kecil imut lucu dan jago masak, Sri Erlina. 

Yang saya ingat, kami dekat semenjak memutuskan memasuki peminatan yang sama, dan Allah takdirkan dia menggantikan saya mengemban amanah menjadi sekretaris departemen komunikasi dakwah dimana saya menjadi stafnya, nah disanalah kami banyak bertukar pandang, berdiskusi, bercanda, tertawa, menangis, bersamalah, bergosip #eh, lalu Allah takdirkan lagi dia menjadi sekretaris umum dimana saya menjadi ketua umumnya, kami acap berada dalam posisi harus saling mentsiqoh-ditsiqohi seperti itu, kaka Rahmi juga banyak mengajarkan ilmu kepada saya, ilmu gombal #eh, ilmu administratif (meski saya gagal terus), ilmu me-manajemen waktu (ini juga saya gagal terus), ilmu kasih sayang sesuai namanya Rahmi (penyayang), dia ni penyayang sangat, jadi saya banyak men-JIMOD (jiplakmodifikasi) darinya, misalnya tentang bagaimana dia memperlakukan mad’u-mad’unya. Rahmi terkenal sebagai kakak yang romantis, #eh, dia pernah dapat surat cinta romantis dari adik menteenya soalnya. 

Tak seperti yang tampak diluar, bahwa kami selalu semangat, kreatif dan kompak (pinjam jargon organisasi kawan) seperti yang sudah Rahmi bilang dalam tulisannya, kami pernah sering kali tak sependapat, lempar-lemparan es sering terjadi, kedinginan interaksi pun tak bisa dihindari, tapi begitulah karena ukhuwah bukanlah sesuatu yang harus diperjuangkan karena Ia hanyalah buah dari iman, acapkali setelah proses es-esan kami menyadari bahwa memang iman kami yang sedang merombeng, itu jua yang membuat membaik kembali, karena mereka selalu ada untuk mengingatkan dalam kesabaran dan kebenaran. Semoga proses ini berlanjut hingga akhir hayat hingga tapak kaki kami menjejak surga-Nya Allah yang indah tak terperi. 

Begitulah, menapak tilas perjalanan kami bersama selama beberapa tahun terakhir, saya si lebah ke-3, acap kali menjadi gelombang yang ke-3 dalam banyak hal, sebut saja, dalam usaha meraih gelar SKM kami, di awali oleh kakak lebah pertama, kemudian kakak lebah kedua, baru kemudian saya. Begitupun dengan kepemilikan SIM, Winni melaju keencang memiliki SIM terlebih dahulu di banding kami-kami adiknya yang karena itu seringkali nekat membawa sepeda motor tanpa si SIM C itu, hingga akhirnya di penghujung usia kampus berujung tilang dari pak POLISI yang garang. Lalu kemudian Rahmi yang tanpa dinyana tanpa di duga, selepas kembali dari tanah ombo batunya selepas bergelar SKM, dia nyengir kuda menunjukkan SIM C nyaa, haha, dan jadilah semenjak itu dia aktif membonceng saya kemana-mana. Baru kemudian saya memiliki SIM C setelah tak menjejak dunia kampus lagi. 

Sampai-sampai sering nalar nakal saya berfikir yang tidak tidak, kalaupun akhirnya saya menjadi si gelombang yang ke-3 dalam memperoleh SIM dan SKM dalam akronim yang diselewengkan, surat izin menikah dan surat keterangan menikah, dimana Winni memperoleh SIM dan SKM di urutan pertama dan Rahmi berikutnya tak apa, jadi saya bisa hadir di keduanya saat masih dalam keadaan Single kemudian mereka hadir di tempat saya dalam keadaan Double, jadi kan di potonya nanti Cantik, hahahah... (yang ini abaikan saja yaaaa).

Begitulah, cerita kami, dalam versi si gelombang ke-3.... nantikan versi kakak lebah pertama yang tentu saja akan fenomenal dan membadai. :D 


By : Sri Lestari Zhaw

Read More

Jejakmu


Jejakmu berpahat duka
hadirmu adalah luka

Berlalu sekelebat angin
Berlari secepat kilat
namun jejakmu melekat hebat

Aku bukan deburan ombak tepian pantai
yang dengan mudah menghapus jejakmu pada butiran pasir
Aku bukan pula desauan angin
yang menyapu jejakmu pada butiran debu

Aku hanya kumpulan kertas berisi jejakmu
yang entah dari mana aku harus menyusunnya
di awal atau di akhir cerita.

RaFila, 31 Mei 2014

#tiba-tiba saja huruf-huruf ini terangkai saat lampu hidup-padam seperti kunang-kunang :D


Read More

Selalu ada Alasan Untuk Tersenyum :)




Senyumlah 

bahwa sepelik apapun
akan selalu ada alasan untuk tersenyum
untuk mentari pagi yang memeluk hangat hati

bahwa serumit apapun
akan selalu ada alasan untuk tersenyum
untuk semilir angin yang mampu susupi helaian rambut

bahwa semarah apapun 
akan selalu ada alasan untuk tersenyum
untuk gemirik air yang senantiasa bisa membasuh tubuh

bahwa semendebarkan apapun
akan selalu ada alasan untuk tersenyum
untuk setiap masa yang memberikan banyak asa

bahwa segelap apapun
akan selalu ada alasan untuk tersenyum
untuk setiap malam yang membantu meleraikan lelahnya jiwa

bahwa seperti apapun akhirnya
akan selalu ada alasan untuk tersenyumuntuk hati yang siap menerima janji
untuk diri yang tak boleh merugi
untuk jiwa yang tak boleh jumawa
dan untuk cinta yang selalu terpatri di ingatan
karena janjiNya bukan janji manusia

oleh itu, senyumlah :)

_Sri Lestari, 6 Januari 2014, Kampar_

Sebuah puisi persembahan dari Sri Lestari, sahabat tercinta.
Walaupun awalnya puisi ini dipersembahkan untuk adindanya, namun karena dia juga mengirimkannya untuk saya, maka pusi ini pun menjadi alasan bagi saya untuk tersenyum :)
Jazakillah, Srican :*

Dan, sungguh karena saya tidak punya adik kandung (sedih yaa) :)

maka perkenankan saya mempersembahkan puisi ini untuk adinda-adindaku yang sedang menunaikan ibadah skripsi.

Teruntuk adindaku Siti Khodijah Parinduri, Imaniar Hasibuan, Sri Rezeki Hasanah, Entiwe Habeahan, Desi Ratna Sari, Fitri Hanifa, Agustia Niranda, Anggi Mutiah Syakdiah, Sri Novianti, Ashela Risa, Hamidah Fadhilah, Febria Octasari, (yang belum disebut jangan marah. hehehe)

dan anak-anak Komdaers 2010 : Yusri Khoirunnisa, Bayu Syahputra, Rahmat Faizal, Sigit Putra Kurniawan. Oh, terselip satu Abi Awwabin. :)


"Selamat Menunaikan Ibadah Skripsi, Tersenyumlah, karena selalu ada alasan untuk tersenyum :)"


Nias, Jum'at barokah di penghujung Mei 2014.


Read More

Belajar dari Landak :)




Sesama hewan landak tidak mungkin saling merapat satu dengan lainnya.
Duri duri tajam yg mengitari tubuhnya adalah penghalang utama mereka untuk melakukan hal di atas. Bahkan kepada anak kandungnya sendiri….

Ketika musim dingin tiba, membawa hembusan badai salju susul menyusul, serta cuaca dingin yang menggigit tulang, dalam kondisi kritis seperti ini, para landak itu terpaksa saling merapat satu dengan lainnya, demi menghangatkan tubuh-tubuhnya meski mereka harus berjuang menahan perih dan sakitnya duri-duri landak lain yang menusuk, melukai kulit-kulit mereka.

Jika sekawanan landak itu telah merasakan sedikit kehangatan, segera saja mereka saling menjauh, namun jika rasa dingin kembali merasuk ke dalam tubuh mereka, mereka akan segera merapat lagi… dan demikianlah seterusnya.
sepanjang malam, landak-landak itu disibukkan oleh kegiatan saling menjauh dan saling mendekat.

Merapat terlalu lama akan menimpakan atas mereka banyak luka. Sementara jika mereka saling menjauh dalam waktu yg lama justru bisa saja rasa dingin menewaskan mereka.

Demikianlah keadaan kita manusia dalam hubungan interaksi sosial antara sesama kita dalam hidup ini, tentu tak seorang manusiapun terbebas dari duri-duri (kesalahan-kesalahan) yang mengitari dirinya, demikian halnya org lain…

Tentu mereka sama sekali tidak akan dapat merasakan kehangatan jika mereka tidak rela bersabar menanggung perihnya duri2 (kesalahan) orang lain pada saat saling merapat.

Oleh karena itulah:

Siapa saja yang hendak mencari sahabat tanpa kesalahan, niscaya ia akan hidup sebatang kara.

Dan barang siapa yg ingin mencari pendamping hidup sempurna tanpa kekurangan, niscaya ia akan hidup membujang.

Dan barangsiapa yg berusaha mncari saudara tanpa problema, niscaya ia akan hidup dalam pencarian yang tiada akhirnya.

Barang siapa yg hendak mencari kerabat yg ideal dan sempurna, niscaya ia akan lalui seluruh hidupnya dalam permusuhan.

Maka, bersabarlah menanggung perihnya kesalahan orang lain, agar kita dapat mngembalikan keseimbangan dalam hidup ini.

Camkanlah ….jika engkau ingin hidup bahagia, jangan menafsirkan segala sesuatu, jangan pula terlalu kritis pada segala hal, serta jangan terlalu jeli meneliti segala sesuatu.

Sebab jika seseorang jeli meneliti asal usul berlian, ia akan mendapti ternyata berlian itu bermula dari bongkahan batu hitam.
***

oleh Syekh Abu Muhammad as - Sulmiy -hafizhohullah -

Diterjemahkan oleh akhukum Fadlan Akbar, Lc – Read on Path.
Read More

Seribu Koin Untuk Pohon



Aku tidak begitu ingat kapan tepatnya aku benar-benar mencintai aktivitasku sebagai anggota Pemuda Pecinta Alam, tetapi aku masih ingat penyebab yang menjadikan diriku mencintainya. Padahal dahulu aku tidak terlalu suka dengan hal-hal semacam ini, selain karena tidak sesuai dengan jurusan kuliahku, aku merasa ini bukan sesuatu yang menguntungkan bagiku. Toh, sudah ada instansi pemerintah yang mengurusi hal-hal seperti ini. Aku sebagai anak muda tugasnya menikmati hidup. Ah, betapa sempitnya cara berpikirku dulu. Bagaimana jika semua pemuda di negeri ini berpikiran sama denganku? Tak bisa kubayangkan apa yang terjadi dengan bumi ini bila hal itu tidak segera ditanggulangi sejak dini.
***
“Ris, minggu depan kampus kita mengadakan jelajah alam menyambut hari Bumi sedunia, ikut yok.” Alan sang aktivis pecinta alam menghampiriku yang sedang memarkir motor di parkiran kampus.
“Hmmm, Maaf Lan aku gak bisa deh kayaknya. Soalnya minggu depan aku mau nonton konser musik. Lagian aku gak suka jelajah alam. Jelajah kok ke alam, ke mall donk. Hehehe.” Aku menolak ajakan Alan. Aku memang tidak begitu suka jelajah alam, mendaki gunung dan segala yang berkenaan dengan itu. Selain tidak menarik bagiku, kegiatan itu membuatku teringat dengan paman Gun.
“Ris.. ris... kamu ini ada-ada aja. Jelajah alam itu lebih banyak manfaatnya dibanding jalan-jalan ke mall. Kita bisa menikmati indahnya ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa, menghirup udara segar tanpa polusi, mendengar nyanyian alam yang meneduhkan hati.” Alan mulai mencoba mempengaruhiku, menggoyahkan hatiku untuk ikut bersama komunitasnya dan membatalkan agenda nonton konser musik yang sudah kutunggu-tunggu sejak lama. Oh, tidak... tidak mungkin aku tergoda.
“Lain kali aja ya Lan. Eh, aku permisi dulu ya, ada kelas nih. Byeee...” aku bergegas meninggalkan Alan yag terbengong-bengong. Mungkin dia merasa aku adalah orang yang paling sulit untuk dirayu.
Aku heran dengan anak-anak pecinta alam di kampusku ini. Apa sih yang membuat mereka rela bercapek-capek ria mendaki gunung, masuk-masuk ke hutan, kalau nyasar gimana? Belum lagi kalau berkemah, harus bawa ini-bawa itu, tidur di tanah, banyak nyamuk, gak ada sinyal, gak bisa internetan. Ribet. Aku jadi ingat dengan kebiasaan paman Gun, anak tertua dari keluarga ayahku. Ia tak pernah mau diajak tinggal di kota. Katanya, pohon-pohon di sini akan kesepian bila tak ada dirinya. Setiap pagi, ia akan berlari-lari menyusuri bukit-bukit, mengelus-ngelus pohon-pohon yang dijumpainya. Bila malam tiba, ia akan patroli. Menurutnya, di malam hari banyak yang mengganggu pohon-pohon. Dan yang paling aneh adalah aku pernah memergoki paman Gun berbicara dengan sebatang pohon, seolah ia sedang berbicara dengan seseorang. Terkadang ia tersenyum seperti orang yang tengah jatuh cinta, terkadang ia menangis bila melihat ada goresan-goresan yang melukai batang pohon itu. Ngeri aku melihatnya. Aku berpikir mungkin paman Gun memiliki kelainan. Penduduk desa pun berpendapat sama denganku. Mang Udin, si penggembala sapi pernah melihat paman Gun bertingkah aneh pada pohon-pohon. Hal ini tak pernah kuceritakan pada Ayah. Aku takut Ayah akan marah.
Ah, paman Gun... Ada apa dengan dirimu?
***
Pagi yang dingin menggigit tulang-tulangku. Seusai sholat subuh aku kembali menarik selimut tebalku, suasana dingin merayuku untuk tidur dan terhanyut dalam buaian mimpi. Baru saja aku merebahkan tubuh di kasur yang empuk tiba-tiba terdengar suara gaduh dari ruang tengah. Kudengar suara Ayah dan Bunda berbincang dengan nada panik setelah mendengar berita di televisi pagi ini. Kemudian terdengar teriakan adik bungsuku yang masih duduk di sekolah dasar memangil-manggil nama pamanku, menambah sempurnanya kegaduhan di rumah kami. Ada apa sih? Apa ada meteor yang jatuh ke bumi sehingga seisi rumah harus gaduh di pagi ini?
Aku dengan malas bangun dari tidurku, melangkah menuju ruang tengah.

“Ada apa sih pagi-pagi udah ribut?”
”Pagi ini kita harus berangkat ke desa, Ris.” Ayah menjawab pertanyaanku.
“Iya nak, kita harus melihat kondisi paman  Gun dan keluarganya,” Bunda menambahi jawaban Ayah.
“Lho? Kok mendadak, Bun? Kemarin kan gak ada rencana mau berkunjung ke sana?” Wah, bisa gawat ini. Agenda nonton konser musik terancam batal!
“Coba lihat berita itu.” Ayah memperbesar volume televisi agar aku yang masih belum ngeh ini mengerti maksud Ayah dan Bunda.
Pemirsa, tadi malam tepat pukul 23.00 terjadi longsor di desa Suka Hijau. Dari informasi yang kami terima tidak ada korban jiwa akibat bencana ini namun ratusan rumah rusak. Pemerintah setempat menghimbau masyarakat untuk segera mengungsi karena dikhawatirkan akan terjadi longsor yang lebih besar.  ” Reporter itu terus saja melaporkan berita terkini dari tempat kejadian, sesekali layar televisi menampilkan cuplikan video yang berhasil mereka liput.
Cuplikan berita ini cukup membuatku mengerti mengapa pagi ini seisi rumah menjadi gaduh dan kini pikiranku pun ikut gaduh. Aku mulai berpikir bahwa longsor itu bukan saja menjadi bencana bagi penduduk desa suka hijau tapi juga menjadi bencana bagiku karena kemungkinan besar paman Gun akan tinggal sementara di rumah kami. Oh tidak..!!
***
Ini kali pertama longsor terjadi di desa ini. Aku tak habis pikir. Apa penyebabnya? Bukankah desa yang terletak di kaki gunung ini begitu hijau sesuai dengan namanya? Ya setidaknya begitulah keadaan desa ini 10 tahun yang lalu.
“Mengapa bisa longsor, yah? Bukannya desa ini ditumbuhi banyak pepohonan?” tanyaku kepada Ayah yang sedari tadi berkonsentrasi mengemudi mobil.
“Itu dulu Ris, sekarang sudah berubah.” Aku mendengar ada nada sedih dari suara Ayah.
“Dulu alam menyuguhkan hamparan pepohonan hijau yang terbelah oleh sungai yang mengalir bening, kicau burung menyanyikan suara alam dan udara sejukpun menambah keteduhan desa. Dari kejauhan, kita bisa melihat bukit-bukit hijau yang menjulang”
Ayah menghela nafas.
“Sekarang, desa sudah gersang, Ris. Coba kamu lihat tulisan besar di bukit itu. Kamu masih ingat gak, dulu tulisan itu bertuliskan “Sejuta Pohon” sekarang sudah berganti menjadi “Villa Asri”
Hmmm, benar kata Ayah. Ternyata panorama indah itu tak bisa lagi kami nikmati. Sekeliling tidak lagi hijau tapi berubah menjadi gundul karena pembakaran hutan secara besar-besaran. Mungkin untuk membuka lahan baru atau mungkin untuk pembangunan villa-villa yang katanya asri itu. Tak ada lagi kicau burung yang menentramkan, yang ada hanya tangisan alam. Benarlah, semua tinggal kenangan.
Pemandangan menjadi semakin mencekam ketika kami sampai di lokasi kejadian. Longsor telah meluluhlantakkan seluruh desa ini. Banyak rumah-rumah yang rusak diterjang longsor, sebagian dari villa-villa itupun roboh. Aku jadi ngeri sendiri. Bagaimana jika bencana ini terjadi di kota tempat tinggalku? Mungkin dalam wujud lain, banjir dahsyat misalnya? Aku jadi teringat dengan sungai yang terletak di tengah kota tempat tinggalku, bagaimana jika ia mengamuk karena banyaknya sampah yang dibuang ke badan sungai, ditambah lagi tidak adanya daerah peresapan air hujan sementara sungai tak mampu menampung curahnya yang deras? Maka statusku dan seluruh penduduk kota berubah menjadi “pengungsi” dan bisa dibayangkan betapa tidak nyamannya menyandang status itu. Hiiiiii, ngeri aku.
Alhamdulillah, paman Gun dan keluarganya selamat dari bencana. Tapi, rumahnya telah hancur lebur dihantam longsor.
“Alam telah murka, karena pesonanya telah dihancurkan! Karena tempat tinggalya telah direnggut oleh orang-orang yang rakus!” Paman Gun menangis dalam pelukan ayahku.  Aku mulai iba dengan keadaannya. Apakah ini yang membuatnya begitu mencintai pepohonan sehingga ia harus menyusuri hutan di pagi hari? bila malam, ia harus berkeliling menjaga dan memelihara kelestarian pohon dari para penebang liar? Dan..dan.. selalu berbicara dengan pohon-pohon? Ah, inikah yang membuat kami menganggapnya aneh?  Setelah melihat bencana ini, siapa yang pantas disebut aneh? paman Gun atau aku dan para penduduk desa?
Ah, aku baru tahu, bahwa cinta itu tak sederhana. Tak sesederhana anak-anak muda memaknai cinta. Ia bahkan lebih dahsyat dari itu, ia mengakar hingga ke hati yang paling dalam hingga sakit yang dirasakan oleh kekasihnya seakan-akan ia merasakannya pula. Ternyata selama ini yang dilakukan paman Gun adalah bentuk kecintaannya kepada alam ini. Ia begitu mencintai pepohonan, mencintai alam hijau yang membentang luas. Selama ini ia merawat dan memelihara kelestarian alam dengan sepenuh cinta. Namun kini, alam  telah murka. Longsor ini menjadi bentuk kemurkaannya.
Ah, Paman Gun... maafkan aku yang terlalu picik memaknai cintamu sebagai sebuah keanehan.
Dalam perjalanan pulang, seisi mobil tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Begitupun aku. Aku terus berpikir bagaimana caranya agar cinta paman Gun kembali merekah. Bukan hanya itu, bagaimana agar cinta kepada alam ini juga dirasakan oleh banyak orang. Semakin banyak orang yang merasakan cinta ini maka kelestarian pepohonan akan semakin terjaga. Dan yang terpenting ia tidak lagi murka. Mungkin kali ini murkanya hanya berwujud longsor berskala kecil. Lalu bagaimana jika kondisi ini semakin parah? Longsor yang dahsyat misalnya? Atau banjir bandang yang menghancurkan kota? Kemarau berkepanjangan sehingga tidak ada lagi pasokan air untuk manusia sehingga secara perlahan manusia mati kekeringan? Atau tidak ada lagi oksigen yang aman untuk dihirup maka semua orang harus membeli oksigen dengan harga mahal? Ooooh tidaaak!!!
“Ada apa, Ris?” tanya Ayah. Ternyata aku menjerit cukup keras.
“Eeeh, hehehe. Hmm, gak ada apa-apa yah.” Aku jadi malu sendiri. Imajinasiku mungkin terlalu tinggi, tapi lebih baik begitu daripada semua itu benar-benar terjadi. Aku harus melakukan sesuatu.
***
Sudah seminggu paman Gun dan keluarganya tinggal di rumahku. Beliau masih saja bersedih dan sering termenung sendirian. Aku belum juga menemukan ide yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini, padahal aku sudah memutar otak untuk mencari penyelesaiannya.
“Yang ini aja kak, yang ini lebih besar.” Aku mendengar suara adikku yang sedang bermain di pekarangan rumah dengan kedua anak paman Gun.
“Eh, iya yang itu aja, kalo kalengnya besar kan isinya bisa lebih banyaaaak,” sahut Nina, adik sepupuku yang paling besar. Kemudian terdengar suara kaleng yang diseret menuju dapur.
Sedang apa mereka?
Aku yang penasaran bergegas menuju dapur.
“Untuk apa kaleng-kaleng itu, Nay?” Adikku yang sedang memeluk kaleng bekas itu terkejut mendengar suaraku.
“Eh, mas Faris ngagetin aja! Ini kalengnya mau Nay pake buat ngumpulin koin, mas. Hehehe.”
“Ngumpulin koin? Buat apa? Nay kan udah punya celengan yang dibeli Ayah,” tanyaku lagi penuh selidik. Tidak biasanya Nayra mau bermain-main dengan barang-barang bekas.
“Nay, Aisyah sama mbak Nina mau ngumpulin sumbangan buat beli bibit pohon. Kata Bu guru, kita harus nanam pohon di tanah yang gundul supaya gak terjadi longsor kayak di rumahnya mbak Nina,” jawab adikku lagi.
“Udah ahh, Nayra mau bersihin kaleng dulu. Mas Faris nanya-nanya mulu.”
Eh... tiba-tiba aku mendapat ide untuk membantu paman Gun.
***
 Aku dan beberapa temanku sudah berkumpul di lapangan depan kampus. Kami bersiap untuk aksi hari ini. Kami masih menunggu beberapa teman lain yang belum datang. Aku memandang puluhan kaleng-kaleng bekas yang sudah diberi tulisan “SERIBU KOIN UNTUK POHON”. Mengapa harus koin? Suatu hari beberapa teman anggota pecinta alam menanyakan hal itu padaku kekita kami sedang rapat. Ya kedengarannya sederhana memang. Tetapi, aku punya alasan tersendiri mengapa gerakan aksi ini diberi nama seperti itu. Coba kita pikir, apalah arti sekeping koin recehan bagi seseorang? Mungkin tidak begitu berarti baginya, namun dengan sekeping koin itu ia bisa menunjukkan kepeduliannya terhadap kelestarian alam. Jadi, siapapun sebenarnya bisa ikut berpartisipasi menjaga kelestarian alam dengan berbagai cara.
“Hei, Riiiis.” Alan baru saja datang membawa spanduk dan pengeras suara yang akan kami gunakan untuk aksi hari ini.
“Alhamdulillah akhirnya kamu ikut juga,” Alan tersenyum melihat perubahanku. Ini pertama kali aku ikut berpartisipasi dalam kegiatan amal sosial yang diselenggarakan oleh kawan-kawan dari komunitas pecinta alam. Sejak inilah aku mulai mencintai kegiatan seperti ini. Aku tersenyum sendiri. Kejadian yang dialami paman Gun menyadarkan diriku bahwa mencintai, menjaga dan memelihara alam adalah tugas semua orang termasuk para pemuda yang akan menjadi generasi penerus negeri ini. “Jangan sampai kita pergi meninggalkan generasi yang lemah, yang tahunya cuma meminta bahkan merusak alam namun tak pernah memberi apapun untuk alam. Bersahabatlah dengan alam.” Kira-kira begitulah nasihat yang diberikan paman Gun tadi malam padaku.
Terimakasih paman Gun, terimakasih Alan, terimakasih untuk kalian semua yang telah menyadarkanku. Akhirnya aku mengerti betapa lebih bermanfaatnya beraksi untuk alam, karena dengan kita mencintai alam maka ia akan menjaga kelangsungan hidup kita bahkan hingga ke anak cucu kita nanti.
“Ris, ayo kita bergerak.” Alan mengajakku untuk memulai aksi kali ini.
Sebelum aksi, Alan memimpin doa. Semoga kegiatan kami ini mendatangkan manfaat. Baik itu bagi kami yang mengumpulkan dana dan juga bagi masyarakat yang nantinya akan menyumbang. Semoga hati mereka tersentuh untuk menjaga dan memelihara kelestarian alam.
Pemirsa, ribuan mahasiswa yang tergabung dalam komunitas pecinta alam hari ini mengadakan aksi “Seribu koin untuk pohon”. Mereka mengadakan Long March mengelilingi kota untuk mengumpulkan sunbangan yang akan digunakan untuk aksi penanaman pohon di daerah hutan gundul dan rawan longsor. Aksi yang sangat menginspirasi ini menjadi penyadaran bagi kita untuk menjaga, merawat dan memelihara alam. Selain itu, semoga kegiatan ini menggugah hati para pemuda-pemuda di negeri ini untuk bersama-sama bergerak dan memberi manfaat bagi bangsa ini. Kalau bukan pemuda, siapa lagi?”
Sekian berita siang ini kami sampaikan dari lokasi kejadian.


 #Cerpen ini didedikasikan untuk memperingati hari bumi sedunia yang jatuh pada tanggal 22 April, tanggal yang bersamaan dengan hari lahir saya :)
#telat ngepos ^_^
 










Read More

Setumpuk harap





Bismillah
Assalamu'alaykum...

Apa kabar, dunia?
Saya yakin pasti sedang sibuk. Sibuk dengan rutinitas masing-masing. 
Apalagi dengan kesibukan kampanye (?). Oh ya, ngomong-ngomong soal kampanye. Beberapa hari yang lalu, saya mencoba berkeliaran di dunia Fb. Ternyata di dunia maya banyak juga orang-orang yang berseliweran. Sangat sibuk dengan hot news terbaru. Setelah saya selidiki, ternyata para facebooker sedang sibuk kampanye Capres-cawapres. Berbagai foto, video, artikel memenuhi dinding jejaring sosial ini. Tak masalah sih bagi saya. Itu hal yang sah-sah saja. Saya dulu (sampai sekarang) juga sering menggunakan jejaring sosial untuk berbagai keperluan promosi, mulai dari promosi kegiatan dakwah, bisnis sampai promosi blog ini. (hehe) dan efeknya lumayan bagus, karena zaman sekarang ini orang lebih banyak ditemui di dunia maya daripada dunia nyata. Buktinya, ketika orang-orang sedang tertidur lelap, masih ada  yang bergentayangan di dunia maya. Kalau gak percaya coba buktikan sendiri (OL jam 2 pagi :P). Ehh, sudah sampai di mana ini? -_-

Oh ya tentang kampanye tadi. Menurut saya, sah-sah saja orang-orang kampanye lewat dunia maya, selain lebih hemat biaya, kampanye lewat dunia maya itu salah satu solusi mengurangi jumlah sampah di muka bumi ini. (Maklum anak kesehatan lingkungan). Saya hanya berharap segala aktivitas yang kita lakukan di atas bumi ini, tidak menjadikan kita semena-mena pada bumi. Karena kalau bumi ini sudah dipenuhi oleh sampah, maka kita mau tinggal di mana?? (pikirsendiri).
Apakah anda sadar kalau saya sedang kampanye tentang sampah? (hayoo,, kena kamu :P)

Sebenarnya, hari ini saya mau bercerita tentang kegundahan hati saya. (Bukan curcol tapi KEGUNDAHAN HATI). Saya yakin, setelah membaca tulisan ini, anda akan mengalami kegundahan seperti saya (tulisan apa ini??? teruslah membaca maka anda akan tahu jawabannya ^_^)

Konon kabarnya, ada 2 pasang makhluk Tuhan yang berniat memimpin negeri ini. Anda pasti sudah tahu siapa yang saya maksud. Belum tahu juga??? Duh, dipertanyakan kecintaannya pada bangsa ini -_-

Lantas, mengapa saya menjadi gundah akan hal ini?
Karena saya adalah masyarakat Indonesia yang menginginkan kebaikan untuk negeri ini.
Saya yakin di luar sana banyak masayarakat yang merindukan pemimpin yang baik untuk membawa negeri ini ke arah yang lebih baik (ingat LEBIH BAIK).

Seperti anda, saya merindukan sosok pemimpin yang mencintai negeri ini dengan hatinya. Pemimpin yang mencintai rakyatnya. Dia tidak akan bisa tertidur pulas ketika mengingat masih ada rakyatnya yang tidur dengan perut kosong. Dia tidak akan memperkaya dirinya sendiri sementara masih ada rakyatnya yang sengsara. Saya jadi rindu Rasulullah :'(

Suatu ketika, seusai sholat Umar datang menghampiri Rasulullah. 

Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah engkau, ya, Rasul?”
Engkau tersenyum sembari menggeleng, “Tidak, wahai Umar. Alhamdulillah, aku sehat.”

“Mengapa setiap kali engkau menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi di tubuhmu bergesekan?” Ekspresi Umar memperlihatkan rasa prihatin, penuh kasih sayang, dan rasa khawatir. “Kami yakin engkau sedang sakit.”

Engkau tersenyum lagi. Tidakkah wajahmu memang terlihat sedikit pucat hari ini? Toh, senyummu seperti menjadi pelipur lara terbaik bagi sesuatu yang tidak engkau katakan, meski kepada Umar, sesuatu yang tidak engkau katakan tidak mampu membuatnya tidak kentara.

Karena merasa jawaban “tidak” atau “aku baik-baik saja” sudah tak mencukupi lagi, engkau lantas berdiri, mengangkat jubahmu, hingga bagian perutmu terlihat nyata. Seketika Umar dan setiap orang yang ada di mesjid itu terpana. Tampak begitu kempis perutmu. Perut itu dililit oleh kain yang membuntal, berisi kerikil-kerikil. Engkau mengganjal laparmu dengan kerikil-kerikil itu. Kerikil-kerikil yang menimbulkan suara berisik ketika engkau mengimami shalat. Kerikil-kerikil yang memancing keingintahuan Umar dan menyangka dirimu sedang dalam kondisi sakit yang serius.

“Ya, Rasul,” suara Umar bergetar oleh rasa iba dan penyesalan, “apakah jika engkau mengatakan sedang lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan menyediakannya untuk engkau?”
Engkau menutup lagi perutmu dengan helai jubahmu yang menjuntai. Engkau menatap Umar dengan pancaran cinta yang utuh, “Tidak, Umar. Aku tahu, apapun akan kalian korbankan demi aku. Akan tetapi, apa yang harus kukatakan di hadapan Allah nanti jika sebagai pemimpin aku menjadi beban bagi umatku?”

Engkau mengedarkan pandanganmu ke sahabat-sahabatmu yang lain, “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah dari Allah untukku agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia, terlebih di akhirat.”

Siapapun yang mendengar kalimatmu seketika terdiam. Ada yang berdenyar merambat ke bola mata mereka. Beberapa terisak oleh haru. Umar sadar bahwa dia tak kan sanggup melangkah lebih jauh, memaksa engkau untuk mengikuti kehendaknya. Dia pun hanya terdiam membiarkan detik-detik berjalan satu per satu. :(

Betapa sedih sepenggal kisah ini. Membuat hati ini berbisik "Ya Rasul kami rindu hadirmu" 
Tidakkah anda merindukan pemimpin seperti ini?? saya yakin "YA"

Izinkan hati terus merindu, terus berharap, terus berdoa...
untuk Indonesia Raya yang kita cintai ini :)

"Ya Rabb, berikan kami pemimpin yang mencintaiMu, mencintai rakyatnya dan Engkaupun cinta kepadanya"






Read More

Maafkanlah Saya...





Saya belum lama mengenalnya, meski dia sudah lama ada di sekitar saya. 
Saya masih ingat pertemuan pertama dengannya. Di sebuah acara.
Dia baik. Sangat baik. Menginspirasi.
Dan satu hal yang saya sukai dari dia. Dia suka menulis. Tulisannya bagus. Dan tentu saja menginspirasi.

Saya tak tahu mengapa saya menuliskannya di sini.
Hmm, mungkin biar hati ini menjadi lebih tenang. Karena menulis adalah salah satu aktivitas yang membuat hati saya tenang. Lega rasanya kalau sudah menulis di blog yang tak seberapa ini.

Ya kembali tentang dia.
Beberapa waktu lalu, saya sedikit merasa "kesal" dengan dia.
Bukan...bukan rasa kesal seperti membencinya atau semacamnya. Bukan. Bukan karena itu.
Saya tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.

Mungkin karena saya tidak mengenalnya dengan baik. Jadinya, saya menyimpulkan yang terjadi dengan sangat buruk.
Ya mungkin kesalahan ada pada saya.
Maafkanlah saya.

Saya berharap dia membaca tulisan ini. Dan mengerti akan sikap saya belakangan ini.
Dan semoga dia mau memaafkan saya.

Saya, ingin sekali minta maaf langsung, tapi...
saya yakin dia pasti terheran-heran. 
"Ada angin apa? Tiba-tiba minta maaf?"

Ah, saya pun tak tahu.
Saya hanya ingin minta maaf saja. 
Apakah meminta maaf membutuhkan sebuah alasan?

#semoga yang baca gak bingung :)


Read More